Ringkasan Khotbah Jumat Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah tanggal 27 November 2015

Tempat: Masjid Baitul Ahad Nagoya, Jepang

“Assalamu ‘alaikum wa
Rahmatullah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ
وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله
الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم *
مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر
الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا ال
ضالِّينَ[،
آمين.

Sebagaimana para anggota Jama’at telah ketahui, saya mengunjungi Jepang untuk meresmikan
masjid pertama mereka. Jika kita memeriksa kondisi di Jepang, tampaknya sangat
sulit bagi masjid ini akan dapat dibangun.
Pengacara kita di sana, yang adalah seorang berkebangsaan Jepang, bertemu saya
dan mengucapkan selamat kepada saya tapi menyatakan keterkejutannya atau
keheranannya dan bertanya-tanya bagaimana mungkin kita diizinkan untuk
membangun masjid ini di daerah ini.

Dia (Pengacara
berkebangsaan Jepang) mengatakan, “Saya memang berjuang dalam hal ini untuk Anda tetapi saya tidak
memiliki harapan bahwa saya akan berhasil. Inilah sebabnya, pada satu tahap,
saya telah mengatakan orang-orang yang berwenang (pengurus) Jemaat, ‘Akan lebih
baik bagi Anda untuk meninggalkan ide atau gagasan membangun Masjid ini.’
Tetapi ketergantungan dan ketawakkalan para anggota Jama’at terhadap Allah
memang suatu hal aneh dan mereka mengatakan kepada saya, ‘Anda teruslah
berjuang dan Insya Allah kita akan diberikan tempat ini dan membangun masjid
ini.’ Bagi saya masjid ini
adalah sebuah keajaiban dan tanda dan hal yang menakjubkan.”

Ini memang rahmat Allah Ta’ala, Yang
Maha Tinggi, kepada Jama’at
yang Dia terus-menerus
menganugerahkannya
pada Jama’at sepanjang waktu dan dengan demikian terus meningkatkan iman kita kepada-Nya. Ada suatu waktu yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala, untuk setiap
tugas/pekerjaan dan ketika
waktunya tiba, pekerjaan akan terselesaikan berkat rahmat
dari Allah Ta’ala. Ketika Allah Ta’ala, memutuskan bahwa masjid ini harus
dibangun, Ia memungkinkan kita untuk membangun masjid meskipun adanya semua rintangan dan dengan demikian
didirikan pusat pertama guna
menyebarkan pesan Islam di Jepang. Tidak ada keraguan bahwa satu buah masjid
atau pusat tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk menyebarkan pesan Islam di
seluruh negeri Jepang ini tetapi ini adalah satu keyakinan dan kepastian bahwa
setidaknya kita telah meletakkan dasar untuk menyebarkan ajaran Islam yang
benar di seluruh negeri.

Saya akan menyajikan beberapa riwayat dari
beberapa orang di Jepang yang akan menggambarkan bagaimana orang Jepang melihat
ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan oleh Jemaat Ahmadiyah. Dan ini
ditakdirkan untuk terjadi melalui pelayan sejati dari Nabi Muhammad shallaLlahu
‘alaihi wa sallam
. Jadi sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyatakan
keinginannya yang intens
untuk penyebaran pesan Islam ke seluruh dunia dan juga dirinya
bersusah payah untuk mencapai
tujuan tersebut, beliau as
juga menyatakan sehubungan dengan Jepang bahwa sebuah buku
(tentang dakwah Islam) harus
ditulis bagi bangsa Jepang. Dan
beliau as ingin ada orang Jepang yang paling fasih dan mampu dibayar
seribu rupee guna menerjemahkan buku ini dan kemudian beliau as ingin
10.000 eksemplar buku ini dicetak dan didistribusikan di Jepang. beliau as
juga mengatakan bahwa orang-orang berjiwa saleh akan menerima Ahmadiyah di Jepang.

Alhamdulillah selain Alquran, ada literatur
sedang dipersiapkan dan tersedia dalam jumlah ribuan dan sedang disebarluaskan. Dan sekarang dengan masjid ini Allah
telah membuka jalan serupa itu hal
mana puluhan juta orang sedang
menerima pesan Islam sebagaimana
keinginan Hadhrat Masih Mau’ud as. Penduduk
setempat yang mendapatkan penyampaian
perihal ajaran Islam
telah mengubah pendapat mereka tentang Islam [dari negatif ke
positif]. Mereka mengakui dan
secara terbuka menyatakan perasaan mereka, “Dengan mengambil bagian dalam acara
resepsi (penerimaan peresmian) di masjid, kami telah belajar ajaran Islam yang
sebenarnya dan gagasan salah kami tentang Islam telah dihapus.”

Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan bahwa
jika seseorang ingin memperkenalkan Islam, bangunlah masjid. Orang akan cenderung ke arah itu.
Kita melihat ini
terpenuhi di mana-mana dan juga di Jepang. Dan ketika seseorang melihat
bagaimana orang yang dengan
berpartisipasi dalam peresmian masjid menjadi benar-benar berubah pandangan maka yang tersisa adalah rasa kagum.

Pada hari Jumat, banyak tamu datang ke
masjid. Sebelumnya mereka telah open
house
(rumah terbuka
menyambut jemaat yang berkunjung).
Kemudian mereka mendengar khotbah dan melihat shalat Jumat.
Ada sejumlah 49 atau 50 tamu Jepang dari berbagai agama, pejabat pemerintah dan
para dosen juga hadir.

Saat ini saya hendak menyampaikan kesan
dari mereka yang berpartisipasi: Direktur
Urusan Umum Gereja Yesus Kristus
:
“Kami berharap bahwa masjid ini akan berfungsi sebagai jembatan antara Islam
dan orang-orang Jepang.”

Bikkhu: “Sebagai
seorang Buddhis, rasanya benar-benar bagus untuk masuk masjid. Kami pikir itu
tidak diperbolehkan bagi non-Muslim dan Buddha untuk masuk masjid tapi tidak
hanya itu kita disambut
hangat tapi dengan bergabung dalam doa dan khotbah kami sungguh-sungguh senang
dan kesan kita tentang Islam berubah.”

Anggota Parlemen Kota (DPRD Kota): “Kami
menyambut masjid di daerah kami dan kami berharap bahwa sesuai dengan pendirian/pandangan
Jemaat Ahmadiyah itu sendiri Masjid ini akan menjadi pusat bagi mereka yang
suka kemanusiaan dan yang suka melayani kemanusiaan.”

Anggota Parlemen (perjalanan 1.000 km untuk
menghadiri): “Ketika
saya melihat masjid yang indah ini, kelelahan saya telah terhapus. Komunitas Muslim Ahmadiyah telah
mendapatkan reputasi besar melalui layanan kemanusiaan mereka pada saat gempa
bumi dan kami berharap masjid ini akan menyebabkan nama ini baik Jemaat
Ahmadiyah meningkat.”

Profesor Universitas: “Masjid Ahmadiyah sangat penting untuk dibangun di Jepang. Ini adalah kebutuhan
yang besar. Peran Jemaat Ahmadiyah dalam menyampaikan ajaran yang indah dari
Islam di dunia sangat menonjol. Kami berharap bahwa melalui masjid ini Jama’at
akan lebih baik dikenal. Kedamaian dan keamanan yang nyata akan tersebar di dunia. Jemaat di Jepang kecil tapi banyak tamu
dari berbagai negara mengunjungi penerimaan/peresmian Masjid dan dengan demikian ada adegan kehidupan
agung di acara tersebut. Ada
banyak tamu yang jumlahnya sebanyak anggota lokal. Banyak orang dari banyak kebangsaan yang hadir. Jemaat di Jepang menyelesaikan tanggung jawab mereka dalam
hal penerimaan tamu dengan cara
yang sangat baik untuk para
Ahmadi dari berbagai bangsa.

Pada Sabtu malam resepsi diadakan di luar
masjid. Sejumlah 109 orang Jepang dan delapan tamu non-Ahmadi hadir.
Tamu termasuk politisi, direktur pariwisata internasional, profesor dan anggota
profesi lain dari masyarakat.

Pendeta: “Pemimpin komunitas Ahmadiyah datang pada saat yang tepat
ketika kita mengalami kesedihan atas peristiwa di Perancis. Ketakutan kami atas Islam selama hari-hari ini telah
dieliminasi dengan cara sederhana dan indah yang mana beliau telah menyatakan ajaran Islam.”

Pengacara: “Ini adalah hari terbaik dalam hidup saya.
Semua yang Imam Ahmadiyah katakan
berdasarkan kebenaran. Hal mana pada satu segi beliau telah menyebutkan
perlunya perdamaian dan kelembutan maka bersamaan dengan itu beliau juga
menyebutkan perlunya penyebaran keadilan yang sangat diperlukan dan sangat baik
untuk mendengar.”

Mahasiswa: “Rumah saya dan keluarga berhubungan dengan
keyakinan Buddhisme. Rumah saya sendiri adalah
sebuah kuil. Saya punya minat yang besar terhadap Islam, tetapi tidak pernah memiliki
kesempatan untuk berbicara dengan orang Muslim. Saya telah membaca apapun yang saya bisa dalam bentuk
buku, tetapi berpartisipasi dalam upacara pembukaan/peresmian Masjid ini dan
dengan mendengarkan Imam Jemaat Ahmadiyah saya telah melihat gambaran yang
benar tentang Islam dan sebuah bab baru dalam hidup saya telah saya buka.”

Seorang wanita mengatakan: “Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk
undangan ini untuk berpartisipasi dalam suatu peristiwa besar. Ini adalah kegembiraan
yang demikian besar bahwa sebuah masjid yang indah dibangun di kota
ini. Saya seorang mahasiswa dan saya belajar berbagai agama yang berbeda. Setelah berpartisipasi
dalam acara ini saya telah mengakui bahwa pemahaman kita tentang Islam sangat
terbatas itulah sebabnya kami memiliki banyak kesalahpahaman. Pidato Imam Jemaat Ahmadiyah adalah kebutuhan jaman. Saya telah belajar banyak tentang Islam
melalui pidato ini. Kami
orang-orang Jepang tidak tahu banyak tentang Islam. Kami umumnya takut Islam tapi pidato hari ini
memamerkan apa yang Islam ajarkan.

Dengan berpartisipasi dalam acara ini saya
juga menemukan bahwa hanya dengan membaca buku-buku tentang Islam dan
sejarahnya kita tidak akan bisa melihat wajah Islam yang sebenarnya. Hal ini
terjadi karena sebagian besar buku-buku yang mereka baca ditulis oleh
orientalis Barat. Peristiwa
dan acara yang semacam ini harus
diatur untuk diselenggarakan
di masa mendatang
juga. Setelah pembangunan
masjid ini saya percaya bahwa kesempatan tersebut akan muncul di masa depan.
Saya bisa berjumpa dengan Imam
Jemaat Ahmadiyah dan saya melihat di wajah mereka terlihat kecintaan dan perdamaian satu sama lain.”

Tamu lain di Jepang: “Dengan bergabung acara ini dan mendengarkan
pidato Imam Jemaat Ahmadiyah saya bisa berpikir tentang perdamaian dunia. Saya
dengan tulus berterima kasih karena telah diberikan kesempatan ini. Imam
Jama’at Ahmadiyah berbicara tentang perdamaian dan membuat dunia sadar akan
bahaya yang tersembunyi. Imam Jemaat Ahmadiyah juga menghapus ketakutan kita bahwa umat Islam ingin
mengambil alih dunia. Saya
akan mengatakan lagi dan lagi bahwa kita harus bergandengan tangan dengan
mereka dan bekerja menuju perdamaian. Adalah tugas kita untuk belajar dan
memahami lebih banyak tentang Islam.”

Seorang teman Jepang yang merupakan Guru
mengatakan: “Saya
dapat mengatakan kepada para siswa saya bahwa orang-orang Ahmadiyah ini selalu datang memberi bantuan di masa-masa sulit. [Dia telah
mendengar pidato-pidato banyak tamu menceritakan tentang pekerjaan Jama’at di
masa-masa bencana
untuk melayani/mengkhidmati
orang-orang Jepang. Dia mengatakan dia adalah guru di sebuah sekolah di
dekatnya] Sekarang, setelah hari ini saya dapat mengatakan kepada anak-anak di
sekolah saya bahwa orang-orang Ahmadiyah ini adalah orang-orang yang tidak
berbahaya karena saya diberikan kesempatan untuk bertemu Imam Jemaat Ahmadiyah
dan banyak orang yang telah datang dari berbagai negara. Imam Jemaat Ahmadiyah menyajikan ajaran Islam dengan cara yang sangat
mudah. Semua yang dikatakannya mudah dipahami. Khalifah menjelaskan ajaran Islam yang benar dalam
kata-kata sederhana.”

Tamu lain: “Dengan mendengar pidato Imam Jemaat
Ahmadiyah, saya menyadari bahwa kami benar-benar perlu memahami dasar-dasar
Islam. Jepang adalah sebuah pulau dan orang-orang Jepang yang terputus dari bangsa yang lain dan karena itu tidak menyadari/mengetahui ajaran-ajaran orang-orang yang lain. Inilah sebabnya mengapa mereka tidak tahu apa-apa tentang Islam selain apa yang
mereka dengar dari berita yang terkait dengan terorisme. Saya berharap
kedatangan Imam Jemaat Ahmadiyah dan pembangunan masjid ini akan menjadi sumber
berubahnya pendapat tentang
Islam.”

Teman Jepang lainnya mengatakan: “Saya tinggal dekat dengan masjid. Saya
sangat senang untuk menghadiri acara ini dan untuk belajar tentang Islam. Saya
ingin berulang kali menghadiri acara di masjid untuk belajar tentang Islam.”

Teman lain Jepang mengatakan: Saya tidak pernah
berpartisipasi dalam sebuah acara jenis ini sebelumnya. Dengan berpartisipasi
dalam penerimaan/acara peresmian hari ini dan mendengarkan Khalifa dari Jemaat
Ahmadiyah untuk pertama kalinya saya menyadari apa tujuan pembangunan masjid.”

Dokter Jepang bidang Bedah Ortopedi yang
bertemu saya dan telah bekerja sama dengan kita untuk tiga tahun terakhir dalam
pekerjaan kemanusiaan dengan kita meskipun faktanya dia bukan Ahmadi,
mengatakan: “Orang-orang yang mengikuti agama-agama lain seperti Shinto, Buddha
dll seharusnya tidak memiliki kesulitan dalam menerima Islam yang disampaikan
oleh Imam Jemaat Ahmadiyah.”

Teman Jepang lainnya mengatakan: “Islam berarti perdamaian dan saling memberi keamanan. Kata-kata Imam Jemaat Ahmadiyah
telah meninggalkan bekas yang mendalam di hati saya.”

Seorang Mahasiswa pertukaran pelajar dari Brasil mengatakan: “Itu pidato yang sangat menarik. Saya tidak
pernah menyaksikan acara
Muslim semacam ini di
Brasil. Setelah mendengarkan pembicaraan dari Khalifatul Masih saya telah
belajar banyak tentang Islam. Saya
menjadi sangat emosional/terharu
saat mendengarkan pidatonya. Tidak ada keraguan bahwa kata-katanya dapat
mengubah hati. Beliau
telah mengatakan kepada kami bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan. Hal ini
jelas dengan mendengarkan beliau
bahwa media telah melukiskan gambaran yang tidak benar tentang
Islam.”

Seorang perempuan Jepang yang menjadi Tamu: “Saya rasa ini adalah hari yang telah
mengubah hidup saya. Imam Jama’at Ahmadiyah telah mengubah persepsi saya tentang Islam dan Muslim
seluruhnya. Dia mengatakan bahwa ini bukan era Jihad dengan pedang. Ini adalah
era Jihad dengan cinta kasih.
Pembicaraan Imam Jemaat Ahmadiyah telah membuat dampak dan kesan yang mendalam pada saya. Saya akan mengatakan
bahwa semua orang harus datang ke sini dan melihat masjid ini dan belajar
tentang Islam dari Ahmadiyah.”

Tamu
wanita Jepang lainnya: “Saya
menghadiri resepsi sebelumnya. Saya berpartisipasi dalam acara juga tapi masih
tersisa banyak pertanyaan. Tapi
hari ini Imam Jemaat Ahmadiyah menjawab semua pertanyaan saya. Sekarang tidak
ada rasa takut terhadap Islam
yang tersisa di hati saya. Hari ini saya juga telah belajar bahwa Islam
bukanlah bahaya bagi dunia tetapi bahwa sebenarnya Islam dapat menyatukan kita
semua.

Seorang wanita Jepang dan guru Sekolah berkata: “Saya telah bertemu dengan Khalifa sebelum saya mendengarkan pidatonya. [di
resepsi sebelumnya dia datang
dengan banyak murid-muridnya yang berumur antara 15 sampai 18 ditambah empat
atau lima guru] Khalifa menjawab semua pertanyaan saya dalam mulaqat dan melalui pidatonya. Saya sekarang
memiliki iman yang teguh bahwa Islam adalah agama damai. Saya telah datang ke
sini dengan beberapa siswa saya. Siswa-siswa ini sebelumnya takut terhadap
Islam tapi setelah mendengarkan pidato Imam Jemaat Ahmadiyah dan dengan
berbicara dengan beliau mereka telah berubah pandangan mereka. Bahkan mereka
sangat kagum setelah mendengar pidato
ini dan mulai merasa sangat aman di masjid. Saya ingin hubungan antara Ahmadiyah
dan Jepang ini terus meningkat.”

Dia disertai oleh seorang mahasiswa Jepang. Siswa itu mengatakan, “Pidato ini adalah pesan perdamaian. Saya pikir
sekarang melalui masjid ini jurang yang ada antara orang-orang Muslim dan orang-orang selainnya akan dihapus dan Islam akan mulai menyebar
di Jepang.”

Dengan karunia Allah banyak orang mendengar
tentang Islam Ahmadiyah dalam skala besar melalui media juga. Saya diwawancarai
oleh 4 saluran berita. Tiga
dilakukan di masjid, 1 di
Tokyo. Salah satu saluran tv dari Jepang tengah mewawancarai saya dan mereka
memiliki jangkauan 10 juta. Kantor berita lain juga meliput acara kita. Ada sebuah wawancara dengan surat kabar
agama yang memiliki jangkauan lebih dari 300.000. Ini adalah satu-satunya
koran agama di Jepang. Ini adalah kabar mingguan.
Wawancara ini akan diterbitkan minggu ini dan kemungkinan telah dicetak
sekarang.

Di Tokyo, wartawan mewawancarai saya juga.
Dia juga mengatakan bahwa ia akan mencetak wawancara minggu ini dan surat kabar
ini memiliki sirkulasi lebih dari 8 juta.
Lima saluran tv dan
perwakilan dari berbagai surat kabar meliput acara
resepsi/peresmian. Salah satu
stasiun tv meliput acara tersebut dengan mengatakan bahwa masjid terbesar dari
Jepang telah diresmikan hari ini. Saluran tv memberi 6 menit untuk
liputan acara tersebut.
Pemirsa mereka berjumlah lebih dari 12 juta. Dalam liputan dinyatakan bahwa
Imam Jemaat Ahmadiyah yang tiba di sini dari London mengatakan bahwa mereka
yang terlibat dalam terorisme tidak memiliki hubungan dengan Islam dan bahwa
masjid adalah tempat ibadah bagi umat Islam dan juga sebuah mercusuar
perdamaian untuk semua orang. Dia mengutuk serangan teror di Paris sekaligus. Saluran tv ini juga telah melakukan
wawancara saya dan telah menunjukkan pilihan dari wawancara
tersebut juga.

Channel tv lain dengan pemirsa lebih dari
12,5 juta: mereka menyiarkan
berita 5 kali dalam sehari dan mengatakan bahwa masjid terbesar Jepang telah
diresmikan hari ini di kota Tsushima. Peresmian telah dilakukan setelah serangan teror di Paris. Imam Jemaat
Ahmadiyah datang ke sini untuk tujuan ini dari kantor pusat di London. Selama
liputan mereka menunjukkan adegan khotbah Jumat dan acara peresmian.
TBS Channel juga meliput
berita. Ini adalah saluran tv populer dan juga memiliki pemirsa lebih dari 10
juta. Mereka mengatakan bahwa hanya satu minggu telah berlalu sejak serangan
Paris dan peresmian masjid terbesar di Jepang telah terjadi hari ini. Mereka
juga mengatakan bahwa masyarakat Jemaat yang telah membangun
masjid ini dan Khalifa mereka menyatakan serangan di Paris tidak Islami dan tidak manusiawi. Mereka juga
menunjukkan adegan dari pelantikan dan juga foto Hadhrat Masih Mau’ud as. Berita ini juga
disiarkan tiga kali dalam sehari.

Saluran berita lain dengan penonton lebih
dari 10 juta mengatakan bahwa masjid telah diresmikan setelah peristiwa di
Paris ketika citra negatif Islam telah menjadi lebih kuat. Masjid ini telah
dibuat oleh Komunitas Ahmadiyah dan merupakan masjid terbesar di Jepang. Imam
Jemaat Ahmadiyah telah menyatakan serangan di Paris sebagai un-islamic
(tidak islami) dan mengatakan bahwa masjid ini menolak semua kekerasan dan
bahwa masjid ini akan menjadi pelopor perdamaian dan siapa pun bebas untuk
memasuki masjid tersebut. Mereka juga menunjukkan adegan peresmian, khotbah
Jumat dan tayangan kesan dari
berbagai orang. Berita ini juga ditunjukkan di sore dan malam hari dalam siaran berita.

Nagoya tv yang memiliki penonton lebih dari
12,5 juta mengumumkan bahwa masjid terbesar dibangun dan diresmikan di kota
Tsushima, Jepang. Mereka yang berpartisipasi mengatakan bahwa sementara hati
mereka senang pada pembangunan masjid ini mereka sedih karena merasa kehilangan atas nyawa-nyawa tak berdosa di Paris. Doa-doa dipanjatkan di acara tersebut bagi perdamaian dan keamanan dunia. Mereka juga
menunjukkan adegan peresmian
dan berita ditunjukkan dua kali selama hari.

Melalui surat kabar cakupan berita juga menjadi luas dengan karunia Allah Ta’ala. Sebuah surat
kabar dengan sirkulasi 11,2 juta dan merupakan harian dan dikatakan sebagai surat kabar terbesar yang dijual di dunia
mengatakan dalam headline-nya (halaman depannya) bahwa ajaran sejati Islam dapat dilihat dalam masjid baru
ini. Laporan tersebut menyatakan bahwa masjid ini telah dibangun oleh 200
anggota Komunitas Ahmadiyah dan bahwa sekitar 500 orang hadir dari berbagai
belahan dunia dan bahwa selama khotbah Jumat ketua/khalifah Komunitas Muslim
Ahmadiyah di seluruh dunia mengatakan bahwa serangan Paris adalah kejahatan
terhadap kemanusiaan dan terang-terangan mengutuk pelaku kekerasan ini. Dan beliau/khalifah mengarahkan para anggota komunitasnya
untuk mengambil tanggung jawab menyampaikan pesan Islam yang sebenarnya kepada
orang-orang Jepang. Doa juga dipanjatkan
untuk para korban serangan Paris. Berbagai situs internet meliput berita ini
juga. Koran-koran memuat
upaya kemanusiaan kita
sehubungan dengan gempa bumi dan banjir [pengkhidmatan
Jemaat di Jepang]. Kantor
berita lain dengan jangkauan yang luas memuat peresmian masjid kami. Pembaca dari semua
situs-situs tersebut lebih besar dari 15 juta.

Koran lain, sehari-hari, dengan sirkulasi
lebih dari 8 juta menerbitkan
berita, “keyakinan kami
adalah untuk mempromosikan harmoni.” Kemudian menulis, “Pusat pendidikan dan pelatihan Jemaat
Ahmadiyah, masjid mereka, telah dibangun di kota Tsushima, Jepang. Masjid ini
memiliki empat menara dan satu kubah dan merupakan masjid terbesar di Jepang
dan memuat 500 orang yang dapat menjalankan doa-doa mereka di dalamnya secara
bersamaan. Lantai dua masjid memiliki kantor dll pintu ini masjid harus terbuka
untuk semua orang tanpa memandang agama atau kebangsaan. Ini adalah Jama’at
yang ajaran-ajarannya didasarkan pada ketenangan dan cinta untuk semua orang
dan mereka aktif dalam melayani umat manusia dan melakukannya saat gempa bumi
yang terjadi di Jepang.”

Berita ini juga disebarkan oleh berbagai
situs lain dan total jumlah yang melihat itu lebih besar dari 7,5 juta. Kemudian ada sebuah kantor berita yang
menyediakan berita ke berbagai saluran berita sejumlah 75 buah dan
mencapai sekitar 6,5 juta orang. Judul yang mereka berikan dalam berita
itu mengatakan, “Ini adalah masjid terbesar di Jepang dan
yang mereka inginkan perdamaian dan menjalankan doa-doa.” Kemudian penulis mengatakan, “Komunitas Islam yang tengah berkembang meresmikan masjid di kota Tsushima. Menurut
Jama’at, 500 orang dapat salat
di masjid ini dan dengan demikian itu adalah masjid terbesar di Jepang. Imam
komunitas Ahmadiyah yang telah tiba di sini dari Inggris mengutuk serangan di
Paris dan mengatakan bahwa itu adalah tindakan paling keji dan tidak manusiawi
yang akan menarik ketidaksenangan Allah Ta’ala. Lebih lanjut ia menambahkan
bahwa kita tidak perlu pedang untuk memajukan ajaran Islam yang benar, apa yang
perlu kita lakukan adalah untuk mereformasi kecenderungan jahat dalam setiap
dari kita. Imam Jemaat Ahmadiyah mengutuk terorisme dengan cara yang efektif.”

Surat kabar lain: “Masjid terbesar dari Jepang diresmikan oleh
pemimpin komunitas Ahmadiyah. Pemimpin Jemaat Ahmadiyah tiba di sini untuk
melakukan ini dan mengutuk terorisme dan mengatakan bahwa penyebaran Islam
dengan kekerasan adalah gagasan yang salah. Menumpahkan darah tak berdosa dan menyebabkan teror menarik
murka dan ketidaksenangan Allah.”

Melalui semua saluran tv, surat kabar dan internet tersebut, secara total pesan Islam Ahmadiyah melalui
peliputan dan pemberitaan peresmian
masjid di Jepang mencapai lebih dari 52 juta orang. Ini adalah gerakan pertolongan dan bantuan Allah yang kita
disaksikan dengan
pembangunan masjid dan menyampaikan kepada dunia ajaran Islam Ahmadiyah.

Di sisi lain, Mullah yang berlebihan dalam permusuhan mereka dan perihal ini juga Hadhrat Masih Mau’ud as
mengatakan: “Saya
memiliki iman yang teguh bahwa bahkan andai sebuah buku tentang Islam diterbitkan dan
dikirim oleh saya ke Jepang, Ulama akan mencapai Jepang guna menentang saya tapi apa-apa yang terjadi hanyalah yang merupakan kehendak Allah Dia izinkan terjadi.”

Seorang ulama Pakistan menentang saya (Hudhur atba)
di Jepang pada 2013 dan mengatakan, “Ini adalah misi ayah saya bahwa tidak peduli di mana pun orang Qadiani pergi untuk memberitakan ajaran mereka, kami akan pergi untuk menentang karena itulah
misi kami.” Ulama ini telah mengatakan bahwa selama
perjalanannya pada 2013 yang lalu ia melihat para Ahmadi yang ni begitu tulus
dalam keterikatan mereka dengan Jama’at bahwa mereka mengorbankan hidup mereka,
kehormatan dan waktu demi Jemaat. Dan kemudian dia mengatakan tentang saya
(Hudhur V atba), “Karena perjalanannya dan karena kegiatan Jemaat Ahmadiyah aku
akan datang ke Jepang setiap tahun dan akan melakukan segala kemungkinan tenaga
untuk menyelesaikan misi Khatm-e-nubuwat ayah saya.” Jadi ini adalah upaya
mereka. Semoga Allah menangkis semua rencana jahat musuh dan kembali pada
mereka. Berita-berita yang beredar [di kalangan mereka] hari ini adalah bukan
tentang peristiwa-peristiwa saat ini melainkan tentang kunjungan mereka tahun
2013 ketika mereka mengatakan bahwa mereka akan meminta pemerintah Jepang bahwa
karena Jemaat Ahmadiyah adalah organisasi non-Muslim sehingga harus dilarang di
Jepang. Ini adalah persangkaan dari kebijaksanaan mereka.

Ini semua deskripsi dari peristiwa di
Nagoya. Di Tokyo juga ada kegiatan
dan berbagai pejabat sejumlah
63 orang menghadiri
resepsi kita.
Dalam acara ini Imam/Ketua para pendeta agama Buddhisme berpartisipasi. Juga Rektor dari sebuah Universitas, seorang penyair dan banyak
pejabat lainnya dari seluruh lapisan masyarakat.

Rektor Universitas mengatakan, “Saya terus berpikir apa yang akan Anda
sampaikan kepada kami, tetapi Anda telah memberitahu kami tentang berbagai hal
dari masa lalu dan masa depan dalam 20 menit. Anda telah berbicara atas dasar
kebenaran dan fakta-fakta. Anda telah menasehati kami perihal kerugian dari
kemungkinan adanya
perang. Anda memperingatkan kita mengenai perang di masa depan. Dalam waktu singkat,
Anda telah menjelaskan ajaran Islam yang benar.”

Dia mengatakan berkenaan dengan pidato saya bahwa pesan ini harus tersebar di
seluruh Jepang dalam bahasa Inggris dan Jepang.

Kepala Reporter sebuah Surat Kabar mengatakan: “Jika Ahmadiyah tidak datang di depan kami
melalui layanan mereka untuk kemanusiaan, kami akan kehilangan melihat wajah ini indah
Islam.
Kemudian seorang teman dari
Jama’at Ahmadiyah mengatakan
bahwa pidato dari Khalifah ini
telah membuka mata kita dan telah membuat kami menyadari hal-hal yang kita
tidak pernah bahkan berpikir tentangnya. Hidup dalam damai dan keamanan kita tidak bisa bahkan
membayangkan semua bahaya yang telah Anda singgung dan bagaimana perang yang
bisa menghancurkan dan bagaimana serangan atom demikian menakutkan – kita
belajar semua hal ini hari ini.”

Selanjutnya
seorang lainnya mengatakan, “Pidato Hazrat Khalifatul Masih II (ra) dulu
yang mengutuk serangan atom terhadap Jepang adalah hal yang luar biasa. Hal ini
membuat jelas pendirian Jemaat
Ahmadiyah tentang perdamaian sangat jelas. Referensi yang disebut adalah pidato
yang Hazrat Khalifatul Masih II (ra) telah berikan pada akhir PD II yang saya
kutip dari sana dan menceritakan bahwa beliau ra (Hudhur II ra) telah
mengatakan, “Hal ini adalah kewajiban agama dan moral kita untuk menyatakan
kepada dunia bahwa kita tidak mempertimbangkan/menganggap jenis penumpahan
darah yang demikian ini menjadi hal yang halal seperti yang dilakukan dengan
menjatuhkan bom atom di Jepang terlepas dari apakah pemerintah suka atau tidak
suka pernyataan kita ini.”

Seorang kepala pendeta Buddha mengatakan, “Saya seorang Buddhis tapi setelah
mendengarkan laporan dari Imam Jemaat Ahmadiyah mata saya telah meneteskan air
mata.” Kemudian setelah
pertemuan dengan saya (Hudhur V atba) dia
berdoa dengan kita
dan terus duduk di sana di aula sembari menangis. Dia telah bertemu saya pada 2013 juga dan dia
diberitahu oleh seorang teman kemudian bahwa hendaknya ia berdoa kepada Allah
supaya Dia menunjukkan keberadaan-Nya kepadanya. Dia telah menanggapi dengan
mengatakan, “Saya
bahkan tidak percaya pada Tuhan jadi buat apa harus berdoa kepada-Nya.” Tapi hari ini pendeta Buddha yang
sama ini ketika ia bertemu
saya lagi tahun ini dia berdoa dengan kita dan tinggal di sana seraya menangis.

Seorang teman Jepang mengatakan, “Saya telah belajar hari ini bahwa
orang-orang yang mengaitkan Islam dengan Daesh yang sama sekali salah. Khalifa
dari Jama’at telah memberi kita pesan perdamaian hari ini. Dunia bergerak hari
ini terhadap kebutuhan damai dan saya setuju dengan pernyataan dari Imam Jemaat
Ahmadiyah bahwa kita perlu mengembangkan perubahan. Gerakan berupa
mengebom ke tempat-tempat yang
sedang dibangun merupakan hal yang tanpa dasar
dan tidak ada artinya selain cara
untuk mengambil nyawa orang-orang tak
berdosa.

Kemudian seorang wanita Jepang mengatakan, “Saya pikir Islam adalah agama yang sangat berbahaya tapi hari ini,
setelah mendengarkan pidato Imam Jemaat Ahmadiyah Saya telah menyadari hal yang paling mengejutkan bagi saya bahwa
dalam kenyataannya Islam adalah agama yang paling damai. Ketika Imam Jemaat
Ahmadiyah membuat menyebutkan peringatan 70 tahun jatuhnya bom atom di Jepang,
menjadi jelas bahwa Imam Jama’at sangat mengetahui peristiwa-peristiwa dunia.
Dan cinta kasih yang sang
Khalifa miliki bagi orang-orang adalah hal yang paling terpuji.”

Kemudian seorang teman Jepang mengatakan, “Hal
yanag dibuktikan dengan pidato
hari ini bahwa Islam-Ahmadiyah adalah agama
perdamaian yang penuh kasih yang sangat kuat. Kebanyakan orang Jepang berpikir
bahwa Islam adalah agama yang buruk tapi saya bersaksi bahwa Khalifah Anda
adalah personifikasi dari kedamaian. Khalifa menyarankan bahwa kesalahan yang
dilakukan 70 tahun yang lalu tidak boleh diulang dan semua yang dikatakannya
berdasarkan kebenaran.”

Kemudian teman Jepang menyatakan keharuannya dengan cara ini, “Hari ini dengan mendengarkan pidato Imam
Jemaat Ahmadiyah saya belajar bahwa betapa besar perbedaan yang ada antara ISIS
dan Muslim sejati. Apapun ketakutan dan kekhawatiran yang ada sebelumnya di hatiku semua telah dihapus. Dan semua
yang beliau katakan itu benar bahwa kita akan menuju perang dunia ketiga dan
Khalifa menarik perhatian kita terhadap tanggung jawab kita yang harus kita
lakukan segala kemungkinan untuk menghentikan perang ini.”

Wanita yang biasa mengatakan secara buruk
perihal banyak orang yang bergabung dengan Islam tapi hari ini ia
berkata, “Saya belajar bahwa
Islam benar-benar kebalikan
dari hal itu. Islam adalah
agama yang mempromosikan perdamaian. Saya tidak terlalu tua dan jadi saya tidak
tahu banyak tentang WW II (Perang Dunia II, 1939-1945) tetapi cara penuh kasih
yang mana Imam Jemaat Ahmadiyah telah bicarakan tentang orang-orang Jepang saya
ingin memuji beliau untuk itu.”

Kemudian seorang teman Jepang mengatakan, “Ada pesan yang besar bagi kita semua dalam pidato Imam Jemaat Ahmadiyah. Pesan itu adalah bahwa senjata era ini jauh lebih
berbahaya dan mematikan dari sebelumnya. Apa yang Khalifa katakan bahwa ini
bukan waktu untuk membuat marah satu terhadap yang lain tetapi untuk mempromosikan
cinta kasih antara diri kita sendiri dan itu adalah waktu untuk membangun
persatuan di antara kita sendiri. Khalifa telah secara khusus menarik perhatian
kita, Jepang, terhadap tanggung jawab kita karena kita tahu jenis kerusakan apa yang perang bawakan. Khalifa mengatakan bahwa Jepang harus
menjaga sejarah sebelum itu sendiri dan kemudian menjadi antara mereka yang
paling utama untuk menghentikan dan mencegah setiap jenis malapetaka.”

Teman lain mengatakan, “Anda telah datang untuk mengundang orang-orang
Jepang terhadap ajaran perdamaian. Biasanya kita tidak memiliki kesempatan
untuk bertemu orang Muslim
dan saya merasa bangga bahwa hari ini saya telah bertemu dengan pemimpin
Muslim. Kita tidak tahu kapan perang akan terjadi dan saya biasa untuk berpikir
bahwa itu pasti akan terjadi tapi sekarang saya berpikir bahwa kita dapat
menghentikan perang ini terjadi, tetapi hal ini terjadi kita harus bertindak
atas saran dari Khalifa. Saya mengatakan tanpa ragu-ragu bahwa ajaran Islam
dengan cara yang Khalifa sajikan
adalah hal yang lebih
baik bagi rakyat negeri ini.”

Wartawan: “Ini adalah pesan perdamaian. Anda benar dan
saya menghormati perasaan Anda terhadap Jepang. Apa yang Anda katakan memang
kebutuhan jaman.
Saya menghargai bahwa Anda merasa rasa sakit yang kami derita karena serangan atom. Banyak orang meriwayatkan perasaan mereka.”

Seorang teman Muslim Jepang mengatakan, “Saya seorang Muslim tapi saya belum
mendengar sarjana Muslim menyebutkan ajaran tersebut. Saya sangat senang bahwa yang Khalifa bahas berasal dari Kitab Suci al-Quran. Khalifa menyebutkan semuanya dengan dasar Al-Qur’an. Saya tidak pernah berpikir perang
dunia ketiga namun telah menyadari hal ini adalah bahaya yang relevan.”

CEO perusahaan mobil mengatakan: “Segala sesuatu yang Anda sebutkan relevan
dengan kebutuhan kita untuk seluruh dunia.”

Di satu sisi orang-orang yang mendengar
pesan kita mengatakan hal-hal
ini bahwa Islam pada kenyataannya adalah agama damai dan di sisi lain beberapa
politisi barat kita
selalu mengatakan ada sedikit ekstremisme dalam ajaran Islam sehingga umat Islam cenderung kekerasan. Mereka
tidak berpikir berapa persen Muslim mendukung ekstremis ini? Dengan mengatakan
hal-hal demikian bahwa ajaran
Islam mengandung ekstremisme, politisi, apakah mereka berasal dari Inggris atau
dari beberapa tempat lain, mereka dengan demikian akan membuat bahkan orang Muslim yang damai menjadi menentang terhadap mereka. Dan kemudian akan ada
perselisihan dan kerusuhan. Maka dari itu, Politisi
Barat yang memegang pandangan bahwa Islam mengandung ajaran ekstrimis harus
merenungkan dan berpikir dan tidak harus membuat pernyataan tanpa pertimbangan.
Dan orang-orang Ahmadiyah yang memiliki kontak dengan para politisi seperti
yang demikian seharusnya menasihati mereka dan membuat mereka mengerti bahwa
saat ini kebutuhan untuk perdamaian dunia adalah bahwa kita harus berbicara
dengan hikmah kebijaksanaan dan wawasan dan tidak membuat pernyataan yang
menjadi penyebab kerusuhan menyebar di dunia. Semoga Allah memberi mereka
kebijaksanaan juga.

Dengan karunia Allah Ta’ala, hasil yang
sangat positif muncul dari peresmian masjid ini. Semoga Allah memberkati Jemaat Jepang
dengan kemampuan untuk terus tumbuh dan berkembang pengenalan Jemaat yang lebih
luas ini yang sebelumnya telah terjadi. Dan semoga mereka memenuhi harapan
bangsa Jepang atas mereka. Semoga Allah memungkinkan Jama’at untuk menyebarkan
pesan Islam Ahmadiyah secepat mungkin sesuai keinginan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Seperti yang telah saya sebutkan, ulama
penuh kebencian dan dendam terutama di Pakistan dan mereka pergi mengungkapkan di
berbagai tempat sepanjang
waktu. Mereka sangat iri ketika menyaksikan kesuksesan kita. Satu tindakan
ekstrim kekerasan besar terjadi di Jehlum baru-baru ini. Sebuah pabrik
chipboard milik orang Ahmadi dibakar. Mereka ingin supaya pemilik dan pekerja pabrik yang akan
dibakar hidup-hidup. Tapi alhamdulillah mereka tidak dapat berhasil dalam
tujuan jahat ini. Namun demikian kerugian finansial terjadi. Mereka pikir
dengan melakukan hal-hal
seperti itu dapat menghabisi Ahmadiyah atau menjauhkan
orang-orang Ahmadiyah dari
iman mereka. Tentang orang-orang demikian yang pergi menyalakan api
pembakaran terhadap orang lain,
Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa jika mereka tidak
berniat bertobat, hukuman dari
api neraka ditakdirkan bagi mereka.

Sejauh yang bersangkutan dengan Ahmadiyah, dalam keadaan sulit seperti itu iman para Ahmadi meningkat bukannya tidak berkurang. Itu terjadi pada tahun
1974 ketika orang-orang itu menyalakan api dan mencoba untuk menempatkan
Ahmadiyah dalam ujian dan musibah tetapi mereka gagal sama sekali dalam tujuan
mereka. Semua keinginan mereka tetap tak terpenuhi. Mereka yang ingin
menempatkan mangkuk pengemis
di tangan para Ahmadi kita lihat mereka-lah yang
meminta sedekah. Ini telah menjadi cara Allah Ta’ala, memperlakukan anggota
Jemaat Ahmadiyah. Percobaan ini tidak dapat mengguncang iman kita. Memang
mereka memperkuat iman kita. Jika kerugian keuangan telah terjadi Allah akan menggantikan kerugiannya itu.

Pabrik chipboard (lembaran-lembaran
papan kayu) ini milik
Sahibzada Mirza Munir Ahmad Sahib, anak Hazrat Mirza Bashir Ahmad Sahib (ra) –
dan kemudian setelah ia
meninggal anak-anaknya menjadi
pemilik. Saya senang dan berbahagia atas hal ini bahwa sebagaimana yang
seharusnya menjadi ekspresi/pengungkapan seorang beriman, setelah terjadinya
kerugian tersebut, ekspresi serupa yang dilakukan oleh sang pemilik pabrik. Dan dari lidah mereka yang terucapkan hanya ungkapan syukur kepada Allah.
Allah Ta’ala, telah tetap melindungi semua pekerja Ahmadi dalam keamanan dan
juga menjaga kehidupan dan kehormatan semua wanita dan anak-anak. Mirza Naseer
Ahmad Tariq Sahib yang merupakan anak tertua dari Mirza Munir Ahmad Sahib dan
menjalankan pabrik sedang berada di pabrik. Dan seorang anaknya yang juga
bekerja di pabrik. Sang anak sudah berangkat ke Lahore satu jam sebelumnya
sehubungan dengan perawatan kesehatan istrinya dan jadi tidak ada ketika
serangan itu terjadi. Tapi Mirza Naseer Ahmad Sahib dan istrinya tengah
ada di pabrik. Ketika serangan
itu dimulai mereka masuk ke rumahnya. Rumah mereka dibakar. Tapi Allah ingin
menyelamatkan mereka dan Polisi tiba. Meskipun mereka para polisi tidak
menghentikan massa. Para polisi menyelamatkan mereka dengan membawa mereka
keluar melalui beberapa pintu belakang dll Kemudian mereka pergi dinding dan
mencapai daerah terbuka di hutan di mana mereka terus berjalan sampai mereka
menemukan angkutan umum dan kemudian akhirnya tiba di tempat yang aman.

Demikian pula banyak pekerja Ahmadi
melarikan diri ke hutan dan bersembunyi di sana dan akhirnya ditemukan oleh para khuddam yang lalu membimbing mereka ke tempat aman. Seorang petugas keamanan salah satu pintu
gerbang ditangkap dan dipenjara dan tuduhan yang sangat serius dinyatakan kepadanya. Semoga Allah membuat
jalan untuk kebebasannya. Namanya Qamar Ahmad. Semoga Allah juga memberkati
orang-orang yang berwenang menegakkan keadilan supaya mereka bertindak dengan keadilan. Demikian
pula Mirza sahib Naseer ditempatkan di bawah tahanan rumah tapi kemudian
dibebaskan setelah dibuat untuk memberikan jaminan bahwa dia akan datang ketika
dimintai keterangan [oleh pihak berwenang] dll .. Dengan kata lain massa penyerang
diberi kebebasan penuh tetapi
mereka yang mengalami kerugian ini (yang diserang, Jemaat) malah diperlakukan sebagai kriminal/penjahat.

Mirza Naseer Ahmad Sahib juga adalah Amir
Distrik Jhelum. Dari
cara serangan yang berlangsung
tampaknya bahwa ini direncanakan. Mereka pikir bahwa dengan menangkap
Bapak Amir maka sisa anggota lainnya
pasti akan lari dari Jemaat. Orang di dalam pabrik tidak menyadari apa
yang terjadi sedemikian rupa sehingga bahkan sulit bagi mereka untuk
menyelamatkan nyawa mereka dan melarikan diri. Massa telah berkumpul dalam
jumlah ratusan bahkan mendekati ribuan, mengendalikan buldoser-buldoser dan
telah membawa semua benda yang diperlukan untuk membuat pabrik terbakar dan
mereka terus berkumpul sana untuk beberapa waktu tetapi polisi tidak datang.
Polisi dan lembaga penegak hukum lainnya muncul hanya sangat terlambat, setelah
api telah dinyalakan dan membakar. Dalam setiap kasus ini yang menguntungkan dari mereka bahwa mereka membantu menyelamatkan
pemilik dan beberapa orang lain dan membawa mereka keluar ke tempat yang aman.

Saya telah menerima surat dari sang
istri, menantu Mirza Naseer
Ahmad Sahib, yang biasa
tinggal di pabrik, bahwa ketika ia pergi untuk mengunjungi istri Qamar Ahmad
Sahib yang telah ditangkap dan didakwa dengan tuduhan menodai Al-Quran – sebuah tuduhan yang sangat serius – dia
mengatakan bahwa ketika ia pergi menemuinya benar-benar kagum melihat bahwa dia
tersenyum dan secara sempurna
seakan tidak ada yang terjadi – padahal suaminya sebenarnya telah didakwa dengan tuduhan kejahatan yang sangat serius [di
Pakistan hukuman atas tuduhan itu sangat berat]. Semoga Allah Ta’ala, meningkatkan kesabaran dan keberanian
istri Qamar sahib dan memberikan musuh rasa hukuman atas kejahatan mereka. Ekspresi kesabaran dan
kepuasan yang Mirza Naseer Sahib, istri dan anak-anak mereka telah nyatakan juga patut
disebutkan. Saya perhatikan
dalam keadaan seperti itu
tidak ada kata-kata ketidakbersyukuran yang berasal dari mulut salah satu dari mereka.
Tapi dari surat putri menantunya
dan anak dan saya sendiri berbicara dengan Mirza Naseer Ahmad Sahib dan
surat-surat yang saya terima dari orang-orang dekat dan tersayangnya jelas bahwa mereka semua sepenuhnya puas
dengan takdir Allah. Semoga
Allah mengganjar kebaikan atas mereka. Dengan keistimewaan berupa hubungan
darah dengan Hadhrat Masih Mau’ud as itu adalah hal yang baik bahwa
mereka menunjukkan teladan kesabaran dan keberanian tersebut. Kekayaan datang
dan juga pergi, seperti
yang telah saya katakan.
Allah yang memberikan/menganugerahkan
di masa sebelumnya akan memberikan lagi di masa
mendatang dan bahkan dapat
memberikan ukuran yang lebih besar dan memang akan melimpahkan dalam ukuran
yang lebih besar. Semoga Allah juga membebaskan mereka semua dari tuduhan palsu yang dilontarkan terhadap mereka. Dan terutama,
semoga Allah memberikan kebebasan untuk Qamar Sahib yang berwenang bidang
keamanan di pintu gerbang dan yang sedang mengalami tuduhan kejahatan serius
berupa penodaan Al-Qur’an sedangkan jika seseorang memiliki rasa hormat dan
kehormatan terhadap Al-Qur’an itu adalah hanya orang Ahmadi yang tahu ini lebih
dari orang lainnya.

Dalam setiap kasus satu hal baik yang telah
terjadi dan kita mempunyainya pada waktu ini bahwa beberapa orang non-Ahmadiyah
juga telah mengangkat suara mereka terhadap serangan ini. Salah satu program tv
juga membahas ini di mana para politisi lokal juga berpartisipasi. Presenter
berbicara menentang ini dan peserta dalam program ini mengatakan bahwa mereka
akan pergi mencari
pelakunya dan mencari
keadilan.

Setelah membakar pabrik, massa menyerang
dua Jamaat lokal
dan menyerang masjid. Salah satu masjid telah disegel. Pertama masjid diserang
oleh para maulvis (ulama). Kemudian mereka mengeluarkan sajadah dan
menyalakan api dan membuat benda-benda terbakar, lalu mereka membersihkan masjid dan shalat di sana. Tapi kemudian polisi dan aparat penegak hukum mengambil alih masjid
itu dari mereka dan
menguncinya dan menyegel
masjid. Jadi meskipun masjid tidak mereka kuasai/miliki tapi dua Jamaat lokal
tersebut masih dalam bahaya
yang cukup besar. Semoga Allah melindungi para Ahmadi di
daerah tersebut.

Semoga Allah memungkinkan keadilan untuk
menang di Pakistan. Semoga Allah juga menyediakan rezeki untuk para pekerja pabrik yang sekarang
menganggur. Aameen!

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono; sumber: Alislam.org

Kilasan Khoṭbah Jumat YM Khalīfatu’l-Masīḥ Masih V Mirzā Masroor Ahmad atba. tanggal 24 April 2015 di Masjid Baitul Futuh Morden, London, UK

BILA persahabatan
dengan sumber kekuasaan duniawi yang terbatas kekuatannya dapat
memberikan begitu banyak keuntungan kepada
seseorang maka bagaimana
persahabatan dengan Allāh? Bagaimana dunia
tidak akan takluk pada manusia yang demikian bersahabatnya dengan Allāh. Dengan
mengikuti agama yang hakiki secara benar, ia memungkinkan seseorang untuk
menang atas dunia seluruhnya.

Para sahabat Nabi saw. memperoleh karunia keduniawian
melalui Nabi saw. adalah bukan dengan cara mengikuti sarana-sarana materi,
melainkan dengan mengikuti agama. Keimanan yang sempurna
diperlukan untuk hal tersebut
yaitu keimanan yang menarik riḍa Allāh. Jika
seseorang telah mempunyai keyakinan sempurna, ia tidak akan pernah bisa
meninggalkan moral yang tinggi atau moral yang menyebabkan Allāh riḍa atau akhlak
faḍi’l-Lāh.

Jika
seseorang menerapkan semua aspek
moral dan mempraktekkan semuanya maka
dia akan meraih kejujuran, kebenaran,
kepercayaan, kesalehan, serta
kesucian. Ini tentu akan membuat dirinya memperoleh pengetahuan, keterampilan, kesadaran, kemampuan, dan ketekunan. Dia akan
mencapai kesuksesan duniawi juga.

Seorang
mukmin sejati harus lebih fokus pada hubungan spiritual. Manusia tidak akan
mendapat anugerah hingga dia mencapai puncak keunggulan dan kesempurnaan pada
sesuatu hal yang dikerjakan. Kesempurnaan dan keunggulan juga bermanfaat dalam hal agama. Seseorang harus berusaha
untuk itu.

Ḥaḍrat
Masīḥ Mau‘ūd a.s. biasa bersabda bahwa orang-orang yang mendapatkan keuntungan
dari beliau hanyalah mereka yang memiliki ikatan suci yang kuat dan erat dengan
beliau a.s.. Hubungan yang lemah dengan beliau a.s. tidak menguntungkan sama sekali. Jika ada seseorang yang berpaling kepada Allāh maka dia akan
diperlakukan sebagaimana
orang lain diperlakukan pada
masa lampau.

Bila seseorang
benar-benar mencoba untuk ikatan suci ini, dia akan
mencapainya. Apa yang dibutuhkan adalah bersujud kepada Allāh dengan ketulusan yang sempurna dan
ini membawa kesuksesan.

Kita
harus melakukan upaya untuk mencapai Tuhan, berusaha dan memahami
agama yang dikirim oleh Tuhan dan membuat karunia-Nya menjadi bagian terdalam dari diri kita. Hal ini
akan menyebabkan moral yang tinggi dan kita juga akan menerima kesuksesan
materi. Jika kita mencoba dan mengambil bagian dari cahaya Ilahi, kita akan
benar-benar menerima kebaikan Tuhan. Jika kita mencoba dan mengambil bagian
dari cahaya Ilahi dengan kesungguhan maka moral yang tinggi akan ditanamkan
dalam diri kita; dan, itu akan menghilangkan kegelapan, kepalsuan, kemalasan, manipulasi,
serta penyakit hati lainnya.

Jika
kita ingin menyelamatkan generasi keturunan berikutnya dari efek buruk materialisme di zaman sekarang, kita harus
menjelaskan kepada mereka korelasi antara agama dan moralitas. Jika kita ingin
membuat kesuksesan materi, itu adalah tergantung pada bagaimana spiritualitas atau agama kita serta menghubungkan kesuksesan materi tersebut ke dalam agama. Kita
juga harus berusaha dan
menjalin hubungan yang benar dengan Tuhan untuk diri kita sendiri.

Selengkapnya di: alislam.org.

_
Penerjemah:
Dildaar Ahmad; editor: Rahmat Ali.

Kilasan Khoṭbah Jumat YM Khalīfatu’l-Masīḥ Masih V Mirzā Masroor Ahmad atba. tanggal 24 April 2015 di Masjid Baitul Futuh Morden, London, UK

BILA persahabatan
dengan sumber kekuasaan duniawi yang terbatas kekuatannya dapat
memberikan begitu banyak keuntungan kepada
seseorang maka bagaimana
persahabatan dengan Allāh? Bagaimana dunia
tidak akan takluk pada manusia yang demikian bersahabatnya dengan Allāh. Dengan
mengikuti agama yang hakiki secara benar, ia memungkinkan seseorang untuk
menang atas dunia seluruhnya.

Para sahabat Nabi saw. memperoleh karunia keduniawian
melalui Nabi saw. adalah bukan dengan cara mengikuti sarana-sarana materi,
melainkan dengan mengikuti agama. Keimanan yang sempurna
diperlukan untuk hal tersebut
yaitu keimanan yang menarik riḍa Allāh. Jika
seseorang telah mempunyai keyakinan sempurna, ia tidak akan pernah bisa
meninggalkan moral yang tinggi atau moral yang menyebabkan Allāh riḍa atau akhlak
faḍi’l-Lāh.

Jika
seseorang menerapkan semua aspek
moral dan mempraktekkan semuanya maka
dia akan meraih kejujuran, kebenaran,
kepercayaan, kesalehan, serta
kesucian. Ini tentu akan membuat dirinya memperoleh pengetahuan, keterampilan, kesadaran, kemampuan, dan ketekunan. Dia akan
mencapai kesuksesan duniawi juga.

Seorang
mukmin sejati harus lebih fokus pada hubungan spiritual. Manusia tidak akan
mendapat anugerah hingga dia mencapai puncak keunggulan dan kesempurnaan pada
sesuatu hal yang dikerjakan. Kesempurnaan dan keunggulan juga bermanfaat dalam hal agama. Seseorang harus berusaha
untuk itu.

Ḥaḍrat
Masīḥ Mau‘ūd a.s. biasa bersabda bahwa orang-orang yang mendapatkan keuntungan
dari beliau hanyalah mereka yang memiliki ikatan suci yang kuat dan erat dengan
beliau a.s.. Hubungan yang lemah dengan beliau a.s. tidak menguntungkan sama sekali. Jika ada seseorang yang berpaling kepada Allāh maka dia akan
diperlakukan sebagaimana
orang lain diperlakukan pada
masa lampau.

Bila seseorang
benar-benar mencoba untuk ikatan suci ini, dia akan
mencapainya. Apa yang dibutuhkan adalah bersujud kepada Allāh dengan ketulusan yang sempurna dan
ini membawa kesuksesan.

Kita
harus melakukan upaya untuk mencapai Tuhan, berusaha dan memahami
agama yang dikirim oleh Tuhan dan membuat karunia-Nya menjadi bagian terdalam dari diri kita. Hal ini
akan menyebabkan moral yang tinggi dan kita juga akan menerima kesuksesan
materi. Jika kita mencoba dan mengambil bagian dari cahaya Ilahi, kita akan
benar-benar menerima kebaikan Tuhan. Jika kita mencoba dan mengambil bagian
dari cahaya Ilahi dengan kesungguhan maka moral yang tinggi akan ditanamkan
dalam diri kita; dan, itu akan menghilangkan kegelapan, kepalsuan, kemalasan, manipulasi,
serta penyakit hati lainnya.

Jika
kita ingin menyelamatkan generasi keturunan berikutnya dari efek buruk materialisme di zaman sekarang, kita harus
menjelaskan kepada mereka korelasi antara agama dan moralitas. Jika kita ingin
membuat kesuksesan materi, itu adalah tergantung pada bagaimana spiritualitas atau agama kita serta menghubungkan kesuksesan materi tersebut ke dalam agama. Kita
juga harus berusaha dan
menjalin hubungan yang benar dengan Tuhan untuk diri kita sendiri.

Selengkapnya di: alislam.org.

_
Penerjemah:
Dildaar Ahmad; editor: Rahmat Ali.

mutiara-mutiara hikmah YM Khalifatul Masih II r.a. #FridaySermon 2015Mei01

VIDEO terjemahan bahasa Indonesia dari khotbah jumat YM Khalifatul Masih V Mirza Masroor Ahmad atba. tanggal 1 Mei 2015 oleh Maulana Qamaruddin-Shaheed sudah bisa disaksikan di website alislam.org http://www.alislam.org/friday-sermon/2015-05-01.html atau langsung ke Youtube di https://youtu.be/PX1TpKsWYM0. Summary bahasa Inggrisnya bisa dilihat di http://www.alislam.org/friday-sermon/printer-friendly-summary-2015-05-01.html. Unduh video 3GP bahasa Indonesia-nya di http://bit.ly/FSV20150501-ID-3GP. Unduh audio MP3-nya (256 kbps) di http://bit.ly/FSA20150501-ID-MP3.

mutiara-mutiara hikmah YM Khalifatul Masih II r.a. #FridaySermon 2015Mei01

VIDEO terjemahan bahasa Indonesia dari khotbah jumat YM Khalifatul Masih V Mirza Masroor Ahmad atba. tanggal 1 Mei 2015 oleh Maulana Qamaruddin-Shaheed sudah bisa disaksikan di website alislam.org http://www.alislam.org/friday-sermon/2015-05-01.html atau langsung ke Youtube di https://youtu.be/PX1TpKsWYM0. Summary bahasa Inggrisnya bisa dilihat di http://www.alislam.org/friday-sermon/printer-friendly-summary-2015-05-01.html. Unduh video 3GP bahasa Indonesia-nya di http://bit.ly/FSV20150501-ID-3GP. Unduh audio MP3-nya (256 kbps) di http://bit.ly/FSA20150501-ID-MP3.

KulTwit khotbah jumat khalifah jamaah muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015

Khotbah Hazrat Kahlifatul Masih V aba 30 Januari 2015

·         Allah SWT menyatakan dalam Al Qur’an: Allah tidak membebani
seseorang diluar batas kemampuannya

·         Ketika Allah SWT memberi perintah yang tidak berada di luar
kesanggupan manusia, maka adalah tugas kita untuk mematuhinya

·         Seorang mukmin sejati dapat mengajukan keberatan bahwa
perintah tertentu di luar batas-batas mereka

·         Jika seseorang benar-benar beriman kepada Allah, maka
penting untuk percaya bahwa segala perintah berlaku bagi kita

·         Kita harus dengan segala kemampuan kita berusaha untuk
mematuhi perintah-perintah tersebut. Ini adalah bagian dari ajaran
Islam yang indah

·         Allah SWT tidak mengatakan agar patuh pada segala sesuatu
tapi mengatakan patuhilah setiap perintah yang menjaga sesuai
kemampuan kalian

·         Semua orang telah diberikan kekuatan dan kemampuan yang berbeda

Continue reading “KulTwit khotbah jumat khalifah jamaah muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015”

KulTwit khotbah jumat khalifah jamaah muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015

Khotbah Hazrat Kahlifatul Masih V aba 30 Januari 2015

·         Allah SWT menyatakan dalam Al Qur’an: Allah tidak membebani
seseorang diluar batas kemampuannya

·         Ketika Allah SWT memberi perintah yang tidak berada di luar
kesanggupan manusia, maka adalah tugas kita untuk mematuhinya

·         Seorang mukmin sejati dapat mengajukan keberatan bahwa
perintah tertentu di luar batas-batas mereka

·         Jika seseorang benar-benar beriman kepada Allah, maka
penting untuk percaya bahwa segala perintah berlaku bagi kita

·         Kita harus dengan segala kemampuan kita berusaha untuk
mematuhi perintah-perintah tersebut. Ini adalah bagian dari ajaran
Islam yang indah

·         Allah SWT tidak mengatakan agar patuh pada segala sesuatu
tapi mengatakan patuhilah setiap perintah yang menjaga sesuai
kemampuan kalian

·         Semua orang telah diberikan kekuatan dan kemampuan yang berbeda

Continue reading “KulTwit khotbah jumat khalifah jamaah muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015”

petikan khotbah jumat khalifah jamaah Muslim Ahmadiyah tanggal 28 November 2014

BERIKUT merupakan petikan khotbah jumat Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Khalīfatu’l-Masīḥ Mirza Masroor Ahmad (Ḥuḍūr) atba. tanggal 28 Nopember 2014.

Topiknya bermula dari “Percaya dan bersandar sepenuhnya kepada Allāh Ta‘ālā.”

Di awal khoṭbah, usai mengucap dua kalimah syahadat, ta‘awudz, dan QS Al-Fātiḥah, Ḥuḍūr atba. antara bersabda sambil mengutip sabda Ḥarat Masīh Mau‘ūd a.s.:

“Haruslah diingat bahwa hanya Allāh Ta‘ālā yang benar-benar memiliki kewenangan untuk memberikan pertolongan saat pertolongan tersebut diminta.”

Artinya, ketika bantuan tersebut dibutuhkan hanya Allāh-lah, yang betul-betul mempunyai kuasa untuk membantu, dan memberikan bantuan tersebut.

Inilah poin terpenting yang orang mukmin harus senantiasa perhatikan apa pertolongan yang diminta itu sifatnya pribadi maupun kolektif.

Namun pada prakteknya, orang-orang tidak menaruh banyak perhatian terhadap hal itu sebagaimana mestinya.

Sebagian besar dari kita mengatakan bahwa kebutuhan kita terpenuhi karena rahmat Allāh Ta‘ālā.

Akan tetapi, apabila kita merenungkan perkataan kita secara mendalam, kita akan menyadari bahwa kita mempertimbangkan berbagai macam sarana sebagai sumber untuk menyelesaikan tugas-tugas kita.

Selanjutnya Ḥuḍūr atba. mengutip cerita dari Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. tentang beberapa kejadian yang berkenaan dengan itu dan menggambarkan bahwa manusia mengira jika ia meraih tujuannya melalui pertolongan dan bantuan dari berbagai macam orang atau melalui kerja kerasnya sendiri.

Inilah cara mula bagaimana manusia berpikir.

Bahkan, apabila ia memenuhi semua kebutuhannya dengan menggunakan daya, pengetahuan, dan intelektualnya, ia merasa telah memecahkan semua masalahnya itu dengan kemampuan dan kekuatannya, sehingga dengan angkuh serta congkaknya mengira bahwa ia tidak perlu meminta pertolongan siapapun.

Namun, ada saatnya ketika ia tidak dapat mengurus dirinya sendiri dan memerlukan bantuan orang lain.

Maka ia mencari pertolongan dari keluarga dan kerabatnya, lalu mereka pun membantunya.

Hal ini yang kemudian membuatnya sadar bahwa keluarga dan kerabatnya begitu berarti.

Setelah itu ada saatnya ketika keluarga dan kerabatnya tidak mampu menolongnya bahkan tidak mau membantunya sama sekali.

Maka, ia beralih kepada sahabat dan kenalannya dan ia meminta pertolongan mereka dan mereka pun menolongnya.

Lalu ia menyadari bahwa sahabat dan kenalannya tersebut begitu baik dan mau membantu saat dibutuhkan.

Kemudian tiba juga saatnya ketika para sahabatnya itu mencari-cari alasan, baik alasan yang dikemukakan mereka masuk akal atau hanya sekedar ingin mengusirnya saja, yang jelas mereka tidak bisa membantunya.

Maka, manusia beralih kepada komunitas (Jemaat) yang dimilikinya, lalu komunitas itu pun menolongnya.

Ketika tugasnya terpenuhi, ia pun menyadari bahwa inilah untungnya bergabung dengan sebuah komunitas (Jemaat), hingga ikatannya dengan komunitas (Jemaat) tersebut tumbuh.

Kendati demikian akan dijumpai juga saat beberapa orang tersandung hanya karena Jemaat tidak bisa membantu ketika mereka meminta pertolongan.

Tibalah waktu dalam kehidupan mereka, saat di mana keluarga, sahabat bahkan komunitas mereka—disebabkan beberapa kendala—tidak bisa menolong mereka.

Maka, inilah saatnya mereka berpaling kepada pemerintah dan pemerintah pun menolong mereka.

Pada saat itu pemerintah merupakan segala-galanya dan akhir segala-galanya bagi orang-orang tersebut.

Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika pemerintah pun tidak bisa menolong mereka, dan mereka merasa tidak memperoleh hak-hak mereka.

Maka, saat itu mereka pergi kepada orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan dan sifat kedermawanan yang menolong mereka.

Manusia beranggapan bahwa organisasi-organisasi sosial dan kemanusiaan dunia menolongnya di saat sudah tidak ada seorang pun lagi yang mampu melakukannya, dan setelah organisasi-organisasi tersebut tidak bisa menolongnya, ia telah kehilangan hak-haknya.

Dewasa ini banyak organisasi hak asasi manusia berkerja pada dua level, nasional serta internasional, dan terlibat dalam peperangan secara hukum dengan pemerintah.

Mereka bisa dan mampu memberikan tekanan internasional kepada pemerintah.

Beberapa dari organisasi tersebut melakukan pekerjaan dengan sangat baik.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa tiba saatnya ketika upaya dan rencana kita tidak ada satu pun yang berhasil atau tidak ada satu pun pertolongan dari keluarga, sahabat, dan komunitasnya, serta pemerintah maupun organisasi hak asasi manusia.

Akan tetapi, bila kita masih bisa meraih tujuan kita maka kita berpikir bahwa sumber dari kesuksesan tersebut adalah yang gaib.

Semakin banyak kita percaya terhadap pertolongan dari yang gaib, maka kita mengatributkan (mengaitkan) kesuksesan tersebut dengan Allāh Ta‘ālā.

Berbicara mengenai organisasi sosial dan kemanusiaan, para Ahmadi sekarang ini mengetahui tentang organisasi tersebut dan mereka terperangkap di berbagai negara di dunia menunggu kasus suaka mereka.

Banyak organisasi semacam itu, bahkan salah satu organisasi terbesar yang bekerja di bawah naungan PBB mencoba untuk menolongnya, tapi pada waktu itu pemerintah tidak juga mendengarkan mereka.

Bagaimanapun, saat pekerjaan kita terselesaikan maka dalam keadaan demikian kita merasakan pertolongan telah datang dari yang gaib dan apabila kita yakin dengan Allāh Ta‘ālā maka kita memandang bahwa pertolongan tersebut merupakan pertolongan dari Allāh Ta‘ālā.

Dengan keyakinan yang penuh terhadap Allāh Ta‘ālā, kita pun mengaitkan kesuksesan dari pekerjaan tersebut kepada Allāh Ta‘ālā yang tercapai melalui pertolongan dari luar.

Kita juga mengetahui dengan baik bahwa pertolongan yang datang dari keluarga, sahabat, komunitas, pemerintah, maupun organisasi sosial dan kemanusiaan sebenarnya dari Allāh Ta‘ālā dan di balik semua sumber pertolongan yang nyata itu ada tangan Allāh Ta‘ālā.

Mereka yang tidak memiliki hubungan yang kuat dengan menganggap sarana-sarana duniawi adalah segala-galanya dan ketika semua sarana-sarana tersebut gagal, barulah mereka ingat kepada Allāh Ta‘ālā.

Mereka ingat Allāh Ta‘ālā karena mereka tidak ada pilihan sama sekali dan di saat seperti itulah mereka baru berteriak-teriak kepada Allāh Ta‘ālā memohon pertolongan-Nya dan mengakui-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hal ini menunjukan kepada kita bahwa tidak perduli seberapa berkuasanya mereka yang pasti, pemerintahan dan organisasi memiliki kekuasaan yang terbatas.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya ketika semuanya gagal bahkan mereka tidak mempunyai hubungan yang erat dengan Allāh Ta‘ālā, mereka akan mencari-Nya.

Al-Qur’ān Karīm pun mengatakan bahwa ketika dalam keputusasaan orang kafir dan musyrik pun menyeru kepada Allāh Ta‘ālā dengan keputusasaan mereka.

Al-Qur’ān mengatakan, “Dan apabila kemudaratan menimpa di lautan, sia-sialah siapa saja yang kamu seru selain Dia. Tetapi apabila Dia menyalamatkanmu sampai ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia sangat tidak berterima kasih. (QS [Banī Isrā’īl] 17:68)”

Allāh Ta‘ālā berfirman bahwa ketika terjebak dalam badai dan dalam kesulitan manusia menyeru kepada Allāh Ta‘ālā namun setelah itu melupakan-Nya.

Adalah sifat alami manusia untuk kembali kepada Allāh Ta‘ālā dengan kerendahan hati dan doa yang mendalam bahwa apabila permasalahannya diselesaikan ia akan selalu menganggap Allāh Ta‘ālā sebagai sumber bantuan.

Namun, begitu manusia lepas dari bahaya ia kembali kepada keduniawiaan dan keangkuhan.

Manusia memang tidak tahu berterimakasih dan rahmat Allāh Ta‘ālā tak terbatas.

Selanjutnya bersumber dari Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a., Ḥuḍūr atba. meriwayatkan bahwa sebuah gempa bumi melanda sesuai dengan nubuatan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. mengenai gempa bumi.

Seorang mahasiswa kedokteran di Lahore yang biasa berdebat sengit menentang keberadaan Tuhan kala itu.

Ketika terjadi gempa ia merasa seakan langit-langit akan runtuh dan ia meyakini bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menyelamatkannya.

Dengan seketika ia berteriak, “Rām, Rām!”

Latar belakangnya adalah agama Hindu.

Keesokan harinya rekan-rekannya bertanya tentang apa yang terjadi padanya kemarin padahal ia tidak percaya kepada Tuhan.

Ia menjawab bahwa ia tidak mengetahui apa yang terjadi, tapi ia telah kehilangan kesadarannya.

Benar bahwa hanya pada saat ia berada dalam kesadaranlah ia akan melihat bahwa hanya Dia-lah sumber pertolongan!

Selama manusia masih melihat sumber-sumber bantuan yang lainnya ia akan tertarik kepada sumber-sumber tersebut, dan selama sumber-sumber yang lainnya itu terbukti baginya ia akan menyanjungnya dengan tujuan untuk meremehkan yang lainnya dihadapannya.

Namun ketika ia melihat tidak ada sumber bantuan lainnya, ia akan menyeru kepada Allāh Ta‘ālā!

Hadhrat Mushlīh Mau‘ūd r.a. mengaitkan insiden lain untuk menggambarkan hal ini.

Pada tahun 1918 selama Perang Dunia I, Jerman menyerang Pasukan Sekutu dengan kekuatan besar dan tiba saatnya ketika Pasukan Sekutu berada dalam bahaya yang sangat besar.

Tujuh mil panjangnya lini pertahanan mereka hancur dan sebuah celah terbentuk di pertahanan mereka di mana Jerman dapat menyerang dan menghancurkan mereka.

Jendral komandan garis depan berkata kepada Panglima tertinggi bahwa ia tidak memiliki tenaga kerja untuk memperbaiki lini pertahanan yang rusak dan situasi tersebut terlalu sulit baginya.

Ia merasa bahwa mereka akan dihancurkan, dan Perancis serta Inggris akan dilenyapkan.

Pada saat telegram dikirim Perdana Menteri sedang memimpin rapat penting dengan para menterinya.

Tidak ada yang bisa ia lakukan.

Meskipun ada cadangan pasukan namun mereka tidak bisa mengerahkannya saat itu juga.

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. mengatakan bahwa kendati negara-negara Eropa mengikuti agama Kristen, namun setelah dicermati lebih dekat kita mendapati keimanan mereka kosong dan orang-orangnya sangat matrealistis.

Tentu saja negara-negara Eropa yang matrealistis sangat bangga dengan sumber dayanya kala itu dan pemerintahannya yang arogan, bagaimanapun juga karena mereka memiliki kekuatan.

Pada waktu itu pemimpin tertinggi mereka yang amat sangat berpengaruh dan berkuasa merasa bahwa tidak ada lagi jalan keluar.

Ia berpaling kepada rekan-rekannya dan berkata marilah kita kembali kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya.

Dan mereka pun berlutut untuk berdoa.

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. bersabda sungguh ajaib bahwa mereka terselamatkan akibat dari doa mereka.

Sama seperti yang disebutkan ayat Al-Qur’ān di atas yang menyatakan bahwa ketika berada dalam kesulitan hanya pertolongan Allāh Ta‘ālā-lah yang berguna saat orang lain meninggalkan kita.

Dikatakan juga bahwa Allāh Ta‘ālā mendengarkan doa orang yang teraniaya meskipun itu orang kafir (atheis).

Hari ini orang-orang kafir kembali kepada Allāh Ta‘ālā setelah mengalami tanda-tanda itu namun apabila mereka berusaha untuk berhadapan dengan Rasul Allāh atau jemaat-Nya maka tidak perduli seberapa banyak mereka teraniaya yang pasti doa-doa mereka tidak akan diterima karena mereka bertentangan dengan keputusan Allāh Ta‘ālā.

Dalam sejarah Perang Dunia I pasukan Jerman tidak mengetahui sama sekali bahwa lini pertahanan musuh rusak sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

Selanjutnya Panglima tertinggi Pasukan Sekutu memanggil perwiranya dan memberitahukan mengenai situasi yang genting itu dan memerintahkannya untuk membuat kesepakatan.

Perwira tersebut tidak menanyakan usulan yang nampaknya mustahil itu dan beranjak ke tempat di mana para pekerja sipil kemiliteran bekerja.

Ia mengumpulkan mereka dan berkata bahwa mereka masih sangat antusias dan bersemangat untuk melayani negara, sekarang adalah kesempatan mereka untuk maju ke medan tempur.

Ia melengkapi mereka dengan senjata dan mengerahkan ribuan warga sipil tersebut ke garis depan untuk melindungi pertahanan tersebut.

Duapuluh empat jam dilalui mereka sebelum akhirnya balabantuan tentara pun tiba.

Maksud dari cerita ini adalah bahwa bahkan orang-orang duniawi yang materialistis sekalipun berpegang kepada Tuhan ketika semuanya gagal.

Dan, jika mereka melakukan hal tersebut berapa banyak lagi yang harus mereka kembalikan kepada Tuhan agar semuanya ditarik kepada Tuhan setiap saat!

Inilah sebabnya mengapa Allāh Ta‘ālā mengajarkan kita doa supaya perhatian kita tidak pernah berpaling dari Allāh Ta‘ālā dan kita tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan sarana-sarana duniawi di hadapan Allāh Ta‘ālā.

Memang, Allāh Ta‘ālā menyuruh untuk merencanakan segala sesuatunya dan mempraktekan rencana tersebut, namun kita harus percaya dan bersandar hanya kepada Allāh Ta‘ālā.

Kita seharusnya tidak kembali kepada Allāh Ta‘ālā hanya apabila ketika semuanya gagal.

Bahkan, Allāh Ta‘ālā telah mengajarkan kita sebuah doa yang diucapkan dalam setiap shalat, “Hanya Engkau lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan. (QS [Al-Fātiḥah] 1:5)”

Allāh Ta‘ālā menyatakan bahwa ayat ini merupakan hubungan yang saling menguntungkan antara Tuhan dengan hamba-Nya dan Dia akan memberikan anugerah kepada orang yang memohon kepada-Nya.

Jaminan Allāh Ta‘ālā tersebut menjadi terus-menerus ketika seseorang senantiasa mengarahkan perhatiannya kepada Allāh Ta‘ālā dan tidak hanya semata-mata kembali kepada-Nya di saat ada masalah.

Kita hendaknya selalu ingat bahwa sebagai Ahmadi yang telah baiat kepada Imam zaman dan telah berjanji untuk menjalani kehidupan kita demi mencari ridha Allāh Ta‘ālā dan berpaling kepada Allāh Ta‘ālā baik dalam keadaan duka maupun suka sangat perlu sekali untuk memahami pokok kalimat dari “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Kita harus merenung dan melihat apa yang harus kita lakukan dan apa yang sedang kita lakukan.

Apakah standar ibadah dan memohon pertolongan kita kepada Allāh Ta‘ālā sesuai dengan yang Allāh Ta‘ālā perintahkan atau apakah kita hanya mengulangi “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” tigapuluh dua kali sehari tidak lebih seperti layaknya burung beo!

Kita harus ingat bahwa kita sangat lemah dan musuh kita begitu kuat.

Kita tidak memiliki sumber daya atau alat dan sarana-sarana apapun selain berpaling kepada Allāh Ta‘ālā dan mampu memahami ruh dari “Hanya Engkau lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Serangan setan di dunia ini melampaui batas. Kesusahan di mana-mana dibuat untuk kita. Permusuhan dari orang-orang yang mengaku diri mereka Islam semakin kuat juga rasa dengki dari orang-orang non-Islam.

Mereka merasa iri hati dari cara mereka mengulas tentang Jemaat.

Sepintas rasa kedengkian terhadap Jemaat tersebut bisa terlihat di media Jerman.

Insyā’ Allāh yang menentang dan iri hati terhadap kita akan ditelan oleh apinya sendiri, tapi kita tidak boleh melupakan kewajiban kita. Kalau tidak, kita tidak memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan para penentang tersebut.

Kita harus selalu ingat bahwa ketika Allāh Ta‘ālā datang untuk menolong seseorang, tidak ada kekuatan duniawi yang bisa menghentikan keberhasilan yang Dia berikan.

Pertolongan Allāh Ta‘ālā amat luas dan kekuasaan-Nya tak ada habisnya.

Begitupun wujud-Nya maupun sifat-Nya tidak bisa dibatasi dengan cara apapun.

Dan setiap Ahmadi harus berpaling ke arah-Nya dan mencari pertolongan-Nya.

Bukan hanya untuk para Ahmadi Pakistan atau para Ahmadi dari negara yang sedang menghadapi kesulitan yang perlu berpaling untuk meminta pertolongan Allāh Ta‘ālā.

Tapi setiap Ahmadi yang ada di seluruh belahan dunia harus melakukannya.

Jemaat kita memiliki ikatan yang kuat sebagaimana memang mestinya.

Inilah yang berbeda dalam Jemaat kita.

Setiap orang harus saling mendoakan satu dengan yang lainnya supaya pertolongan Allāh Ta‘ālā bersama dengan para setiap Ahmadi, kapan pun dan di mana pun.

Jika hal tersebut menjadi ketetapan kita, kita akan mengalami pertolongan Ilahi yang luar biasa.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. pernah bersabda, mengingat Allāh Ta‘ālā tidak membutuhkan apa-apa. Dia tidak memperdulikan apapun kecuali doa yang dipanjatkan dengan berlimpah ruah dan berulang-ulang.

Di dalamnya ada rahasia kesuksesan kita.

Apa pun kesulitan kita, entah itu dari kelompok atau pemerintah atau mungkin media yang digunakan untuk melawan kita ataupun sumber daya lainnya, semoga Allāh Ta‘ālā menolong kita melawan semuanya.

Kita jangan mengharapkan pertolongan dari keempat sumber tersebut karena memang seperti itu harusnya.

Kita harus berdoa jikalau kita tersesat hingga mengakibatkan menjauhnya pertolongan Allāh Ta‘ālā.

Semoga Allāh Ta‘ālā menyayangi dan mengampuni kita, menjauhkan kita dari kemurkaan-Nya, dan memasukan kita ke dalam kelompok orang-orang yang: [i] selalu disirami rahmat dan berkat-Nya; serta, [ii] yang memiliki wawasan dan persepsi yang benar mengenai Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. bersabda, “Lihatlah, Allāh Ta‘ālā mengajarkan tentang ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah.

“Hal ini mungkin dikarenakan bahwa manusia telah bergantung pada kekuatannya dan menjauhkan dirinya dari Allāh Ta‘ālā.

“Oleh karena itu, ajaran ‘Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan’ diberikan secara bersamaan.

“Janganlah menganggap bahwa Anda melaksanakan ibadah Anda kepada Allāh Ta‘ālā dengan kekuatan Anda sendiri. Sama sekali bukan!

“Sebaliknya, tanpa bantuan Allāh Ta‘ālā, kecuali jika Tuhan Yang Maha Kudus menghendaki dan meridhai, tidak ada yang bisa terjadi.”

Kita harus selalu menyimpan kenyataan yang penting tersebut dalam ingatan kita.

Semoga Allāh Ta‘ālā meridhai kita untuk melakukannya!

Sebuah peringatan agar berdoa telah diberikan. Dunia akan mengalami perubahan dengan cepat.

Semoga Allāh Ta‘ālā menjadikannya sumber kemajuan bagi Jemaat. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa menyembah-Nya dan orang-orang yang dianugerahi pertolongan-Nya dan terus menerus dianugerahi-Nya. «»

_

Penerjemah: Yusuf Awwab; Warungkiara, 29 Nopember 2014

Sumber: Alislam.org;

video

editor: R.A. Daeng Mattiro

petikan khotbah jumat khalifah jamaah Muslim Ahmadiyah tanggal 28 November 2014

BERIKUT merupakan petikan khotbah jumat Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Khalīfatu’l-Masīḥ Mirza Masroor Ahmad (Ḥuḍūr) atba. tanggal 28 Nopember 2014.

Topiknya bermula dari “Percaya dan bersandar sepenuhnya kepada Allāh Ta‘ālā.”

Di awal khoṭbah, usai mengucap dua kalimah syahadat, ta‘awudz, dan QS Al-Fātiḥah, Ḥuḍūr atba. antara bersabda sambil mengutip sabda Ḥarat Masīh Mau‘ūd a.s.:

“Haruslah diingat bahwa hanya Allāh Ta‘ālā yang benar-benar memiliki kewenangan untuk memberikan pertolongan saat pertolongan tersebut diminta.”

Artinya, ketika bantuan tersebut dibutuhkan hanya Allāh-lah, yang betul-betul mempunyai kuasa untuk membantu, dan memberikan bantuan tersebut.

Inilah poin terpenting yang orang mukmin harus senantiasa perhatikan apa pertolongan yang diminta itu sifatnya pribadi maupun kolektif.

Namun pada prakteknya, orang-orang tidak menaruh banyak perhatian terhadap hal itu sebagaimana mestinya.

Sebagian besar dari kita mengatakan bahwa kebutuhan kita terpenuhi karena rahmat Allāh Ta‘ālā.

Akan tetapi, apabila kita merenungkan perkataan kita secara mendalam, kita akan menyadari bahwa kita mempertimbangkan berbagai macam sarana sebagai sumber untuk menyelesaikan tugas-tugas kita.

Selanjutnya Ḥuḍūr atba. mengutip cerita dari Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. tentang beberapa kejadian yang berkenaan dengan itu dan menggambarkan bahwa manusia mengira jika ia meraih tujuannya melalui pertolongan dan bantuan dari berbagai macam orang atau melalui kerja kerasnya sendiri.

Inilah cara mula bagaimana manusia berpikir.

Bahkan, apabila ia memenuhi semua kebutuhannya dengan menggunakan daya, pengetahuan, dan intelektualnya, ia merasa telah memecahkan semua masalahnya itu dengan kemampuan dan kekuatannya, sehingga dengan angkuh serta congkaknya mengira bahwa ia tidak perlu meminta pertolongan siapapun.

Namun, ada saatnya ketika ia tidak dapat mengurus dirinya sendiri dan memerlukan bantuan orang lain.

Maka ia mencari pertolongan dari keluarga dan kerabatnya, lalu mereka pun membantunya.

Hal ini yang kemudian membuatnya sadar bahwa keluarga dan kerabatnya begitu berarti.

Setelah itu ada saatnya ketika keluarga dan kerabatnya tidak mampu menolongnya bahkan tidak mau membantunya sama sekali.

Maka, ia beralih kepada sahabat dan kenalannya dan ia meminta pertolongan mereka dan mereka pun menolongnya.

Lalu ia menyadari bahwa sahabat dan kenalannya tersebut begitu baik dan mau membantu saat dibutuhkan.

Kemudian tiba juga saatnya ketika para sahabatnya itu mencari-cari alasan, baik alasan yang dikemukakan mereka masuk akal atau hanya sekedar ingin mengusirnya saja, yang jelas mereka tidak bisa membantunya.

Maka, manusia beralih kepada komunitas (Jemaat) yang dimilikinya, lalu komunitas itu pun menolongnya.

Ketika tugasnya terpenuhi, ia pun menyadari bahwa inilah untungnya bergabung dengan sebuah komunitas (Jemaat), hingga ikatannya dengan komunitas (Jemaat) tersebut tumbuh.

Kendati demikian akan dijumpai juga saat beberapa orang tersandung hanya karena Jemaat tidak bisa membantu ketika mereka meminta pertolongan.

Tibalah waktu dalam kehidupan mereka, saat di mana keluarga, sahabat bahkan komunitas mereka—disebabkan beberapa kendala—tidak bisa menolong mereka.

Maka, inilah saatnya mereka berpaling kepada pemerintah dan pemerintah pun menolong mereka.

Pada saat itu pemerintah merupakan segala-galanya dan akhir segala-galanya bagi orang-orang tersebut.

Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika pemerintah pun tidak bisa menolong mereka, dan mereka merasa tidak memperoleh hak-hak mereka.

Maka, saat itu mereka pergi kepada orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan dan sifat kedermawanan yang menolong mereka.

Manusia beranggapan bahwa organisasi-organisasi sosial dan kemanusiaan dunia menolongnya di saat sudah tidak ada seorang pun lagi yang mampu melakukannya, dan setelah organisasi-organisasi tersebut tidak bisa menolongnya, ia telah kehilangan hak-haknya.

Dewasa ini banyak organisasi hak asasi manusia berkerja pada dua level, nasional serta internasional, dan terlibat dalam peperangan secara hukum dengan pemerintah.

Mereka bisa dan mampu memberikan tekanan internasional kepada pemerintah.

Beberapa dari organisasi tersebut melakukan pekerjaan dengan sangat baik.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa tiba saatnya ketika upaya dan rencana kita tidak ada satu pun yang berhasil atau tidak ada satu pun pertolongan dari keluarga, sahabat, dan komunitasnya, serta pemerintah maupun organisasi hak asasi manusia.

Akan tetapi, bila kita masih bisa meraih tujuan kita maka kita berpikir bahwa sumber dari kesuksesan tersebut adalah yang gaib.

Semakin banyak kita percaya terhadap pertolongan dari yang gaib, maka kita mengatributkan (mengaitkan) kesuksesan tersebut dengan Allāh Ta‘ālā.

Berbicara mengenai organisasi sosial dan kemanusiaan, para Ahmadi sekarang ini mengetahui tentang organisasi tersebut dan mereka terperangkap di berbagai negara di dunia menunggu kasus suaka mereka.

Banyak organisasi semacam itu, bahkan salah satu organisasi terbesar yang bekerja di bawah naungan PBB mencoba untuk menolongnya, tapi pada waktu itu pemerintah tidak juga mendengarkan mereka.

Bagaimanapun, saat pekerjaan kita terselesaikan maka dalam keadaan demikian kita merasakan pertolongan telah datang dari yang gaib dan apabila kita yakin dengan Allāh Ta‘ālā maka kita memandang bahwa pertolongan tersebut merupakan pertolongan dari Allāh Ta‘ālā.

Dengan keyakinan yang penuh terhadap Allāh Ta‘ālā, kita pun mengaitkan kesuksesan dari pekerjaan tersebut kepada Allāh Ta‘ālā yang tercapai melalui pertolongan dari luar.

Kita juga mengetahui dengan baik bahwa pertolongan yang datang dari keluarga, sahabat, komunitas, pemerintah, maupun organisasi sosial dan kemanusiaan sebenarnya dari Allāh Ta‘ālā dan di balik semua sumber pertolongan yang nyata itu ada tangan Allāh Ta‘ālā.

Mereka yang tidak memiliki hubungan yang kuat dengan menganggap sarana-sarana duniawi adalah segala-galanya dan ketika semua sarana-sarana tersebut gagal, barulah mereka ingat kepada Allāh Ta‘ālā.

Mereka ingat Allāh Ta‘ālā karena mereka tidak ada pilihan sama sekali dan di saat seperti itulah mereka baru berteriak-teriak kepada Allāh Ta‘ālā memohon pertolongan-Nya dan mengakui-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hal ini menunjukan kepada kita bahwa tidak perduli seberapa berkuasanya mereka yang pasti, pemerintahan dan organisasi memiliki kekuasaan yang terbatas.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya ketika semuanya gagal bahkan mereka tidak mempunyai hubungan yang erat dengan Allāh Ta‘ālā, mereka akan mencari-Nya.

Al-Qur’ān Karīm pun mengatakan bahwa ketika dalam keputusasaan orang kafir dan musyrik pun menyeru kepada Allāh Ta‘ālā dengan keputusasaan mereka.

Al-Qur’ān mengatakan, “Dan apabila kemudaratan menimpa di lautan, sia-sialah siapa saja yang kamu seru selain Dia. Tetapi apabila Dia menyalamatkanmu sampai ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia sangat tidak berterima kasih. (QS [Banī Isrā’īl] 17:68)”

Allāh Ta‘ālā berfirman bahwa ketika terjebak dalam badai dan dalam kesulitan manusia menyeru kepada Allāh Ta‘ālā namun setelah itu melupakan-Nya.

Adalah sifat alami manusia untuk kembali kepada Allāh Ta‘ālā dengan kerendahan hati dan doa yang mendalam bahwa apabila permasalahannya diselesaikan ia akan selalu menganggap Allāh Ta‘ālā sebagai sumber bantuan.

Namun, begitu manusia lepas dari bahaya ia kembali kepada keduniawiaan dan keangkuhan.

Manusia memang tidak tahu berterimakasih dan rahmat Allāh Ta‘ālā tak terbatas.

Selanjutnya bersumber dari Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a., Ḥuḍūr atba. meriwayatkan bahwa sebuah gempa bumi melanda sesuai dengan nubuatan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. mengenai gempa bumi.

Seorang mahasiswa kedokteran di Lahore yang biasa berdebat sengit menentang keberadaan Tuhan kala itu.

Ketika terjadi gempa ia merasa seakan langit-langit akan runtuh dan ia meyakini bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menyelamatkannya.

Dengan seketika ia berteriak, “Rām, Rām!”

Latar belakangnya adalah agama Hindu.

Keesokan harinya rekan-rekannya bertanya tentang apa yang terjadi padanya kemarin padahal ia tidak percaya kepada Tuhan.

Ia menjawab bahwa ia tidak mengetahui apa yang terjadi, tapi ia telah kehilangan kesadarannya.

Benar bahwa hanya pada saat ia berada dalam kesadaranlah ia akan melihat bahwa hanya Dia-lah sumber pertolongan!

Selama manusia masih melihat sumber-sumber bantuan yang lainnya ia akan tertarik kepada sumber-sumber tersebut, dan selama sumber-sumber yang lainnya itu terbukti baginya ia akan menyanjungnya dengan tujuan untuk meremehkan yang lainnya dihadapannya.

Namun ketika ia melihat tidak ada sumber bantuan lainnya, ia akan menyeru kepada Allāh Ta‘ālā!

Hadhrat Mushlīh Mau‘ūd r.a. mengaitkan insiden lain untuk menggambarkan hal ini.

Pada tahun 1918 selama Perang Dunia I, Jerman menyerang Pasukan Sekutu dengan kekuatan besar dan tiba saatnya ketika Pasukan Sekutu berada dalam bahaya yang sangat besar.

Tujuh mil panjangnya lini pertahanan mereka hancur dan sebuah celah terbentuk di pertahanan mereka di mana Jerman dapat menyerang dan menghancurkan mereka.

Jendral komandan garis depan berkata kepada Panglima tertinggi bahwa ia tidak memiliki tenaga kerja untuk memperbaiki lini pertahanan yang rusak dan situasi tersebut terlalu sulit baginya.

Ia merasa bahwa mereka akan dihancurkan, dan Perancis serta Inggris akan dilenyapkan.

Pada saat telegram dikirim Perdana Menteri sedang memimpin rapat penting dengan para menterinya.

Tidak ada yang bisa ia lakukan.

Meskipun ada cadangan pasukan namun mereka tidak bisa mengerahkannya saat itu juga.

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. mengatakan bahwa kendati negara-negara Eropa mengikuti agama Kristen, namun setelah dicermati lebih dekat kita mendapati keimanan mereka kosong dan orang-orangnya sangat matrealistis.

Tentu saja negara-negara Eropa yang matrealistis sangat bangga dengan sumber dayanya kala itu dan pemerintahannya yang arogan, bagaimanapun juga karena mereka memiliki kekuatan.

Pada waktu itu pemimpin tertinggi mereka yang amat sangat berpengaruh dan berkuasa merasa bahwa tidak ada lagi jalan keluar.

Ia berpaling kepada rekan-rekannya dan berkata marilah kita kembali kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya.

Dan mereka pun berlutut untuk berdoa.

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. bersabda sungguh ajaib bahwa mereka terselamatkan akibat dari doa mereka.

Sama seperti yang disebutkan ayat Al-Qur’ān di atas yang menyatakan bahwa ketika berada dalam kesulitan hanya pertolongan Allāh Ta‘ālā-lah yang berguna saat orang lain meninggalkan kita.

Dikatakan juga bahwa Allāh Ta‘ālā mendengarkan doa orang yang teraniaya meskipun itu orang kafir (atheis).

Hari ini orang-orang kafir kembali kepada Allāh Ta‘ālā setelah mengalami tanda-tanda itu namun apabila mereka berusaha untuk berhadapan dengan Rasul Allāh atau jemaat-Nya maka tidak perduli seberapa banyak mereka teraniaya yang pasti doa-doa mereka tidak akan diterima karena mereka bertentangan dengan keputusan Allāh Ta‘ālā.

Dalam sejarah Perang Dunia I pasukan Jerman tidak mengetahui sama sekali bahwa lini pertahanan musuh rusak sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

Selanjutnya Panglima tertinggi Pasukan Sekutu memanggil perwiranya dan memberitahukan mengenai situasi yang genting itu dan memerintahkannya untuk membuat kesepakatan.

Perwira tersebut tidak menanyakan usulan yang nampaknya mustahil itu dan beranjak ke tempat di mana para pekerja sipil kemiliteran bekerja.

Ia mengumpulkan mereka dan berkata bahwa mereka masih sangat antusias dan bersemangat untuk melayani negara, sekarang adalah kesempatan mereka untuk maju ke medan tempur.

Ia melengkapi mereka dengan senjata dan mengerahkan ribuan warga sipil tersebut ke garis depan untuk melindungi pertahanan tersebut.

Duapuluh empat jam dilalui mereka sebelum akhirnya balabantuan tentara pun tiba.

Maksud dari cerita ini adalah bahwa bahkan orang-orang duniawi yang materialistis sekalipun berpegang kepada Tuhan ketika semuanya gagal.

Dan, jika mereka melakukan hal tersebut berapa banyak lagi yang harus mereka kembalikan kepada Tuhan agar semuanya ditarik kepada Tuhan setiap saat!

Inilah sebabnya mengapa Allāh Ta‘ālā mengajarkan kita doa supaya perhatian kita tidak pernah berpaling dari Allāh Ta‘ālā dan kita tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan sarana-sarana duniawi di hadapan Allāh Ta‘ālā.

Memang, Allāh Ta‘ālā menyuruh untuk merencanakan segala sesuatunya dan mempraktekan rencana tersebut, namun kita harus percaya dan bersandar hanya kepada Allāh Ta‘ālā.

Kita seharusnya tidak kembali kepada Allāh Ta‘ālā hanya apabila ketika semuanya gagal.

Bahkan, Allāh Ta‘ālā telah mengajarkan kita sebuah doa yang diucapkan dalam setiap shalat, “Hanya Engkau lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan. (QS [Al-Fātiḥah] 1:5)”

Allāh Ta‘ālā menyatakan bahwa ayat ini merupakan hubungan yang saling menguntungkan antara Tuhan dengan hamba-Nya dan Dia akan memberikan anugerah kepada orang yang memohon kepada-Nya.

Jaminan Allāh Ta‘ālā tersebut menjadi terus-menerus ketika seseorang senantiasa mengarahkan perhatiannya kepada Allāh Ta‘ālā dan tidak hanya semata-mata kembali kepada-Nya di saat ada masalah.

Kita hendaknya selalu ingat bahwa sebagai Ahmadi yang telah baiat kepada Imam zaman dan telah berjanji untuk menjalani kehidupan kita demi mencari ridha Allāh Ta‘ālā dan berpaling kepada Allāh Ta‘ālā baik dalam keadaan duka maupun suka sangat perlu sekali untuk memahami pokok kalimat dari “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Kita harus merenung dan melihat apa yang harus kita lakukan dan apa yang sedang kita lakukan.

Apakah standar ibadah dan memohon pertolongan kita kepada Allāh Ta‘ālā sesuai dengan yang Allāh Ta‘ālā perintahkan atau apakah kita hanya mengulangi “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” tigapuluh dua kali sehari tidak lebih seperti layaknya burung beo!

Kita harus ingat bahwa kita sangat lemah dan musuh kita begitu kuat.

Kita tidak memiliki sumber daya atau alat dan sarana-sarana apapun selain berpaling kepada Allāh Ta‘ālā dan mampu memahami ruh dari “Hanya Engkau lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Serangan setan di dunia ini melampaui batas. Kesusahan di mana-mana dibuat untuk kita. Permusuhan dari orang-orang yang mengaku diri mereka Islam semakin kuat juga rasa dengki dari orang-orang non-Islam.

Mereka merasa iri hati dari cara mereka mengulas tentang Jemaat.

Sepintas rasa kedengkian terhadap Jemaat tersebut bisa terlihat di media Jerman.

Insyā’ Allāh yang menentang dan iri hati terhadap kita akan ditelan oleh apinya sendiri, tapi kita tidak boleh melupakan kewajiban kita. Kalau tidak, kita tidak memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan para penentang tersebut.

Kita harus selalu ingat bahwa ketika Allāh Ta‘ālā datang untuk menolong seseorang, tidak ada kekuatan duniawi yang bisa menghentikan keberhasilan yang Dia berikan.

Pertolongan Allāh Ta‘ālā amat luas dan kekuasaan-Nya tak ada habisnya.

Begitupun wujud-Nya maupun sifat-Nya tidak bisa dibatasi dengan cara apapun.

Dan setiap Ahmadi harus berpaling ke arah-Nya dan mencari pertolongan-Nya.

Bukan hanya untuk para Ahmadi Pakistan atau para Ahmadi dari negara yang sedang menghadapi kesulitan yang perlu berpaling untuk meminta pertolongan Allāh Ta‘ālā.

Tapi setiap Ahmadi yang ada di seluruh belahan dunia harus melakukannya.

Jemaat kita memiliki ikatan yang kuat sebagaimana memang mestinya.

Inilah yang berbeda dalam Jemaat kita.

Setiap orang harus saling mendoakan satu dengan yang lainnya supaya pertolongan Allāh Ta‘ālā bersama dengan para setiap Ahmadi, kapan pun dan di mana pun.

Jika hal tersebut menjadi ketetapan kita, kita akan mengalami pertolongan Ilahi yang luar biasa.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. pernah bersabda, mengingat Allāh Ta‘ālā tidak membutuhkan apa-apa. Dia tidak memperdulikan apapun kecuali doa yang dipanjatkan dengan berlimpah ruah dan berulang-ulang.

Di dalamnya ada rahasia kesuksesan kita.

Apa pun kesulitan kita, entah itu dari kelompok atau pemerintah atau mungkin media yang digunakan untuk melawan kita ataupun sumber daya lainnya, semoga Allāh Ta‘ālā menolong kita melawan semuanya.

Kita jangan mengharapkan pertolongan dari keempat sumber tersebut karena memang seperti itu harusnya.

Kita harus berdoa jikalau kita tersesat hingga mengakibatkan menjauhnya pertolongan Allāh Ta‘ālā.

Semoga Allāh Ta‘ālā menyayangi dan mengampuni kita, menjauhkan kita dari kemurkaan-Nya, dan memasukan kita ke dalam kelompok orang-orang yang: [i] selalu disirami rahmat dan berkat-Nya; serta, [ii] yang memiliki wawasan dan persepsi yang benar mengenai Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. bersabda, “Lihatlah, Allāh Ta‘ālā mengajarkan tentang ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah.

“Hal ini mungkin dikarenakan bahwa manusia telah bergantung pada kekuatannya dan menjauhkan dirinya dari Allāh Ta‘ālā.

“Oleh karena itu, ajaran ‘Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan’ diberikan secara bersamaan.

“Janganlah menganggap bahwa Anda melaksanakan ibadah Anda kepada Allāh Ta‘ālā dengan kekuatan Anda sendiri. Sama sekali bukan!

“Sebaliknya, tanpa bantuan Allāh Ta‘ālā, kecuali jika Tuhan Yang Maha Kudus menghendaki dan meridhai, tidak ada yang bisa terjadi.”

Kita harus selalu menyimpan kenyataan yang penting tersebut dalam ingatan kita.

Semoga Allāh Ta‘ālā meridhai kita untuk melakukannya!

Sebuah peringatan agar berdoa telah diberikan. Dunia akan mengalami perubahan dengan cepat.

Semoga Allāh Ta‘ālā menjadikannya sumber kemajuan bagi Jemaat. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa menyembah-Nya dan orang-orang yang dianugerahi pertolongan-Nya dan terus menerus dianugerahi-Nya. «»

_

Penerjemah: Yusuf Awwab; Warungkiara, 29 Nopember 2014

Sumber: Alislam.org;

video

editor: R.A. Daeng Mattiro