EMPATPULUH peserta hadir dalam kegiatan Pembinaan Mubayyi’īn Baru (PMB) di Masjid Al-Hidayah Jemaat Kebayoran, Ahad siang bada shalat Zuhur, 26 April 2015.

Para peserta adalah para mubayyi’īn atau Ahmadi baru dari jemaat-jemaat di DKI Jakarta-dan-Depok.

Hadir pula para pengurus PMB dari majelis amilah maupun badan-badan baik dari tingkat jemaat lokal dan wilayah.

Hadir sebagai narasumber adalah Bapak Muballigh JAI Wilayah DKI Jakarta-dan-Depok Maulana Iskandar Ahmad Gumay.

Acara dibuka dengan paparan “Apa Tujuan manusia beragama” oleh Bapak Gumay yang kemudian dilanjutkan dengan dua termin tanya jawab.

Acara PMB diakhiri dengan doa dan Shalat Ashar berjamaah.


MAJELIS Khuddamul Ahmadiyah Indonesia (MKAI) telah menerbitkan majalah GEMA edisi April 2015 dengan wajah baru melalui ebook. Sila baca. Isinya antara lain adalah: “Cerita EduTrip 5 pelajar ke Singapura”; “mengenal SEO yuk”; “Kuis GEMA”; dan lain-lain. Silah unduh di mkaid.org/GEMA-2015-April.











FOTO-foto saat persiapan hingga wikari amal atau kerja bakti di Masjid Al-Hidayah Kebayoran Lama Selatan sebelum kedatangan Utusan Hadhrat Kahalifatul Masih V atba. Sahibzada Mirza Talhah Ahmad.

Foto oleh: Imas, Maman, Gumay, Faqih, & Bahri.


PERWAKILAN jamaah muslim Ahmadiyyah di Indonesia (JAI) wilayah DKI Jakarta menghadiri undangan acara diskusi Focus Group Discussion (FGD) Center for the study of Religion and Culture (CSRC) di Wisma Syahida Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (12/3) pagi.

Hadir dari perwakilan JAI adalah Muballigh Wilayah Maulana Iskandar Ahmad Gumay beserta para pemuda dari JAI cabang Kebayoran Sekretaris Tabligh Fazzl-e-Mujeeb dan Sekretaris Ummur Kharijiah (Humas) Darisman Broto.

Selain Ahmadiyyah, hadir pula perwakilan dari umat Sunni, Syiah, Hindu, Buddha, Kristen, Katholik, Sikh, Kong Hu Chu (Matakin), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) serta kalangan intelektual muda dari Jaringan Islam Liberal (JIL).

Tema diskusi adalah “Pemetaan Konflik dan Peran Pesantren dalam Mempromosikan Hak Asasi Manusia serta Penanggulangan Konflik secara Damai.” Tema tersebut merupakan sebuah program untuk mendukung peran serta pesantren dalam mempromosikan hal asasi manusia dan resolusi konflik secara damai.

Tampil sebagai pemapar awal atau pembuka, sekaligus moderator, adalah Ahmad Gaus A.F..

Ahmad Gaus memaparkan bahwa di Indonesia terdapat heterogenitas sosial. Ia sebagai sumber kekuatan namun juga sumber konflik. Dibilang sumber kekuatan, ia mampu mempersubur multikurlturalisme, tolerasi, empati, dan perdamaian. Tapi sebagai sumber konflik, ia bisa memperkuat rasa kedaerahan, sukuisme, serta fanatisme keagamaan.

Sepanjang sejarah Indonesia, kita menikmati anugrah keragaman itu sebagai sumber kekuatan. Dari situ muncullah kebangkitan nasional yang kemudian melahirkan sumpah pemuda hingga berujung proklamasi sehingga merupakan memori kolektif bangsa.

Namun belakangan muncul riak-riak dalam masyarakat. Ada konflik dan atau kekerasan bernuansa etnik-agama di Ambon, Sambas, Sampit, hingga Poso. Terdapat pula serangan terhadap warga minoritas etnik dan agama yang terjadi pada etnik Tionghoa pada kerusuhan 1998 serta serangan atas jamaah muslim Ahmadiyyah di Kemang, Bogor; Ciparay, Cianjur, hingga Mataram, Nusa Tenggara Barat. Juga tak ketinggalan peristiwa penutupan gereja di berbagai kawasan, antara lain Banten–yakni Ciledug serta Pamulang–dan Bekasi, Jawa Barat; berikut dengan pelarangan pendirian gereja di Bekasi dan Depok, Jawa Barat.

Konflik, kekerasan, dan diskriminasi atas etnik-agama tersebut dipicu oleh, antara lain, minimnya sikap toleransi dan kentalnya prasangka di antara kelompok-kelompok itu.

Pertanyaannya adalah apa sesungguhnya faktor-faktor yang menyebabkan dan mendorong terjadinya konflik komunal dalam masyarakat kita. Karena, ini penting, untuk mengantisipasi sedini mungkin terulangnya kasus-kasus tersebut dan untuk mencari strategi yang paling tepat guna mengurangi dan mencegah terjadinya konflik dan kekerasan secara damai.

Berdasarkan itu, maka CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan penelitian awal berjudul “Pemetaan Analisis Konflik” sebagai program perdana dari program besar “Pesantren Untuk Perdamaian (PFP).

Di sela-sela penyampaian materi pokok diskusi, salah seorang hadirin, Ibu Fadillah dari JIL, menyampaikan bahwa ayat-ayat Al-Quran itu “bisu” dan “tidak bisa bicara”. Ayat-ayat suci tersebut “bicara” sesuai penafsirnya. Karenanya, ia perlu ditafsir ulang terutama pada ayat-ayat khusus atau tertentu.

Kemudian satu orang hadirin bernama Ibu Hajjah Zubaedah mengungkapkan konflik yang dialaminya dan itu bermula dari keluarganya sendiri. Ia dicap masyarakat sebagai muslim yang berpemahaman beda pada umumnya. Dia pelihara anjing. Sejak melepas pakaian jilbabnya, Hajjah Zubaedah dikucilkan oleh keluarga dan kemudian oleh lingkungannya.

Seorang pemeluk Sikh, dia kelahiran Medan, menyampaikan pengalamannya di dalam mendirikan rumah ibadah. Jamaah Sikh mendapat tekanan tokoh-tokoh masyarakat. Namun jamaah Sikh berhasil mendirikan rumah ibadah. Hal tersebut merupakan berkat dari silaturahmi yang dijalani jamaah Sikh. Dikatakannya bahwa Indonesia adalah surga. Ia jangan dirusak oleh kelompok-kelompok tertentu.

Dari JAI, Fazzl-e-Mujeeb menyampaikan tentang yang terjadi terhadap Ahmadiyyah. Mujeeb mengatakan bahwa konflik terhadap Ahmadiyyah adalah karena masalah politik dan kurangnya informasi.

Utusan dari Matakin, Ibu Dewi, mengatakan bahwa walau agamanya sudah diakui pemerintah tapi belum mendapat kesetaraan. Masih ada yang menganggap sama dengan Buddha.

Perwakilan dari Bimas Islam Kementerian Agama mengatakan bahwa agama-agama yang ada itu adalah bagai pohon-pohon bunga yang selalu kami siram dan kami rawat. Silakan yang lain bertumbuh dan berkembang.

Ahmad Nurcholis dari ICRP mengemukakan bahwa pesantren adalah sebuah kekayaan bangsa Indonesia. Ia sebagai pusat ‘peace building’. Karenanya, lulusan pesantren itu lebih baik ‘wawasan kebangsaan’-nya ketimbang yg lain.

Dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) ada  Aminuddin Yakub. Yakub pernah mengikuti kajian-kajian dari Islam yang “aneh”, Syiah, Jamaah Tabligh. Dia mengaku “tidur” selama dua tahun di Paramadina bersama Cak Nur. Hingga akhirnya, Yakub “terjerumus” ke Komisi Fatwa MUI.

Yakub mengatakan, di dalam MUI, justru konfliknya lebih besar sebab ia merupakan kumpulan dari ormas-ormas yang berbeda aliran. Yakub juga pernah mengikuti organisasi bawah tanah NII atau N-sebelas atau Negara Islam Indonesia.

Dalam penelitiannya, untuk kasus Cikeusik, itu bukanlah konflik agama. Tapi lebih masalah ekonomi dan sosial. Kalaupun Muhammadiyah ada di situ maka akan dimusuhi di daerah yang keras.

Fatwa MUI tentang Ahmadiyah adalah sebagai jawaban pertanyaan umat utk penguatan aqidah internal umat Islam. Fatwa MUI Ahmadiyah bukan pemantik terjadinya konflik terhadap Ahmadiyah. MUI memahami warga Ahmadiyah secara sosial. Ada kelompok-kelompok tertentu yang menungganginya melalui fatwa MUI tersebut sebagai justifikasi.

Dalam percakapannya dengan Habib Rizieq, Yakub menilai organisasinya toleran menjadi terlihat keras karena gerakan maupun jamaahnya yang kurang edukatif dalam hal agama. “Anda harus membereskan organisasi Anda di lapangan,” demikian Yakub memberi saran ke Rizieq.

Acara diskusi diakhiri dengan foto bareng, ramah tamah atau silaturahmi, dan makan siang bersama.

Tujuan CSRC mengadakan acara FGD adalah untuk mendapatkan informasi mengenai situasi terkini terkait akar-akar konflik komunal. Di samping itu, FGD penting untuk memahami situasi umum dan khusus tentang penghormatan, pemenuhan, dan perlindungan hak asasai manusia di dalam masyarakat. Juga, ia mendiskusikan secara mendalam tentang strategi dan pola pencegahan dan penanganan konflik oleh para stakeholders.

Reporter dan foto: Darisman Broto; editor: Rahmat Ali. IslamKu.net


Muballigh Maulana Iskandar Ahmad Gumay sedang berkeliling ke rumah-rumah warga Muslim Ahmadi di cabang Kebayoran, Selasa (16/12) siang.

Maulana Iskandar tengah membimbing Amiruddin yang sedang mengupdate data tajnid sekalian mengurusi kartu AIMS.

“Tugas baru dari Pak Amir Nasional nih!” kata Maulana Gumay.


HAMPIR sebulan lalu, tanggal sebelas bulan sebelas, kebahagiaan serta syukur meliputi hati Suprianto.

“Alhamdulil-Laah,” katanya melalui grup WhatsApp, “Telah lahir normal dari istriku, Suci, di RSI Banjarnegara, anak perempuan berat badan 3,3 kilogram dengan nama Syifatunnisa Calista Zakiyah.”

_
[11/11 5:23 am] JAI KBY KHU Bahri Sopwatul INDOSAT: Mubarak om Supri, Semoga menjadi anak yg Solehah…

[11/11 5:42 am] JAI KBY KHU Doni RomDoni XL: Mubarak…

[11/11 5:46 am] KBY Kardian, Bilal Ahmad Kama INDOSAT O: Mubarak Suprianto..,🙏😇

[11/11 10:01 am] JAI KBY KHU Basyir Ahmad “sendy” XL: Mubarak pak supri
Semoga jadi anak yang saleh, berbakti sama orang tua, dan berkhidmat pada agama
Aamiin

[11/11 10:05 am] JAI KBY KHU Momon Moenuddin TRI: Mubarak pak supri

[11/11 10:17 am] KBY Kardian, Bilal Ahmad Kama INDOSAT O: Lucu bingit..,😇

[11/11 10:18 am] JAI KBY KHU Syarif “Eki” Hidayat Alhaqqi TELKOMSEL: Kalo liat ini jadi pengen jadi bayi lagi.. 😁

[11/11 10:21 am] KBY Dodi Setiawan: Mubarak To… sing jadi putri anu solehah, berbakti ka ortu, bangsa, agama… Amiin

[11/11 11:01 am] KBG Sutrisno Abdul Malik TSEL AB: mubarak mas Suprianto…





“SILAHKAN usulkan jenis buah utk di tanam”, pinta Nazim Ziroat MKAI Kebayoran Sutrisno Abdul Malik pada Senin, 1 Desember lalu di grup WhatsApp pengurus khuddam Kebayoran.

Ini sudah saya beli satu pohon yang sebentar lagi panen, jeruk pipanado, sudah di mesjid tinggal tanam, tulisnya lagi. Sutrisno memperlihatkan gambar jeruknya yang sudah ada di pot.

“Nanti tanam perdana, Pa Qaid ya?” pinta Sutrisno kepada Sopwatul Bahri.

“Siap Mas,” sambut Bahri. “Masuk Youtube, ya?!“ katanya lagi berharap.

Penanaman buah dilaksanakan pada tanggal hari Ahad tanggal 7 Desember 2014.

Tadinya, menurut Bahri, kalau tidak Ahad, penanamanya itu di hari sebelumnya, Sabtu. Tapi karena padat acara di masjid, diundur ke Ahad.

Pananaman dimulai pukul 8 pagi, usai sarapan. Yang terlibat ada enam orang khuddam.

“Pohon yang sudah dibeli ada empat jenis, ada Jeruk, dan kawan-kawan, …Mas Tris yang ‘apal.

“Tapi yang sudah ditanam baru jambu karena kekurangan tanah, dan sisanya akan ditanam di kemudian hari,” ungkap Bahri.

Lebih lanjut Bahri menjelaskan, penghijauan masjid merupakan salah satu program kerja dari PPMKAI. Karena keterbatasan tempat, penanaman dilakukan di media pot.

Ketika ditanyakan oleh salah seorang warga khuddam Ahmad Zulfikri di mana tanaman buah pot dibelinya, Sutrisno bilang, itu dibeli di sekitar Ragunan.

Rupanya, Fikri tanya-tanya itu karena sedang cari pohon mangga arum manis.

Tertarik mau menanam buah di pot?«» DMX



TELAH terbit media cetak “Bulletin Pra Madrasah” untuk November 2014. Terbitan bulanan ini diawaki para pengurus Pramadrasah Alhidayah JAI Kebayoran. Pemimpin redaksinya adalah Soraya Maria Syadaf.

Bulletin berisi kegiatan belajar dan mengajar pramadrasah di samping kutipan-kutipan dari Alquran, hadis Nabi saw., maupun sabda-sabda hingga tulisan dari Hadhrat Masīh Mau‘ūd a.s. dan para khalifahnya.

Ayo, siapa yang mau langganan?«» ✌😇



RANCANGAN untuk kelengkapan belajar dan mengajar Al-Hidayah School ini diperlihatkan pada rapat madrasah minggu atau pramadrasah Alhidayah Kebayoran, Ahad sore.

Muballigh Maulana Iskandar Ahmad Gumay menyatakan kekagumannya melihat semangat berkhidmat para aktivis. Semua sampai sedetil itu menyiapkan langkah ngajar besok di Depok di pemukiman pemulung, kata Maulana Gumay.«»