Petikan khotbah jumat Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015

BERIKUT adalah kilasan dari khotbah jumat Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Khalifatul Masih V (Hudhur) atba., 30 Januari 2015 di Masjid Baitul Futuh London, Inggris Raya.

Di awal khotbah pertama, Yang Mulia atau Hudhur atba. menyampaikan tentang ayat “Lā yukallifu’l-Lāhu nafsan illā wus‘ahā”—yakni, Allāh tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.

Maksudnya, Allāh Ta‘ālā menerapkan perintah-Nya kepada hamba-Nya sesuai kemampuan yang dimilikinya. Dengan kata lain, segala perintah Allāh Ta‘ālā itu sanggup dilaksanakan oleh hamba-Nya.

Dalam hal-hal jasmani memiliki standar yang berbeda-beda. Ada yang sangat pintar ada yang kurang pintar, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang pendidikannya tinggi, ada yang rendah, dan seterusnya.

Begitu juga dalam hal rohani, tidak bisa sama dan juga tidak bisa dibuat sama standar rohani seseorang meski sama-sama beriman. Dalam hal pengorbanan pun ada standar masing-masing.

Seperti Hadhrat Abu Bakar r.a. yang memberikan semua hartanya untuk Islam. Hadhrat Umar r.a. memberikan separuh hartanya untuk Islam dengan berpikir bahwa “Hari ini saya akan maju jauh di depan [dalam pengorbanan]” tapi rupanya Hadhrat Abu Bakar r.a. lebih dari itu.

Standar kebaikan seseorang di sisi Allāh Ta‘ālā adalah sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya.

Kita hendaknya melihat standar kita sudah sampai di mana.

Kita tidak bisa “menipu” Allāh Ta‘ālā. Kendati kita memiliki kemampuan yang lemah maka jangan menyerah. Hendaknya kita berusaha meningkatkan standar kita. Seperti seorang pelajar yang lemah yang terus-menerus bertanya kepada guru untuk memahami suatu hal. Ketika guru memberikan pemahaman maka standar murid tadi juga menjadi lebih meningkat.

Tugas seorang guru adalah membantu muridnya. Memberikan pemahaman. Kalau ini tidak dilakukan berarti guru tersebut telah berkhianat. Dalam menuntut dan mengajarkan suatu ilmu tidak bisa sama. Karena, segala sesuatu punya standar yang berbeda. Tapi, hendaknya senantiasa mengerjakan suatu dengan kemampuan yang terbaik yang dimiliki.

Tugas seorang muballigh sangat berat. Tugas mubaligh adalah meningkatkan standar Anggota. Begitu juga para pengurus [Jemaat di Majelis Amilah maupun Badan-badan] berkewajiban meningkatkan kemajuan Anggota baik dari segi tarbiyat maupun ilmu.

Di mana kewajiban seorang mubaligh juga merupakan pekerjaan pengurus. Setiap mubaligh dan pengurus berkewajiban memberikan tarbiyat dan mengingatkan.

Adalah keliru [bila] berfikir bahwa dengan Anggota sudah mengkaji buku-buku Hadhrat Masīh Mau‘ūd a.s., sudah menyaksikan khotbah jumat dari sang khalifah yang sekarang, maka Anggota tidak perlu diingatkan dan ditarbiyati lagi. Adalah salah juga berfikir bahwa “Khotbah khalifah saja tidak mempan apa lagi kita.”

Intinya, mengingatkan serta memberi tarbiyat adalah harus dan wajib. Saling mengingatkan juga merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan Anggota.

Kita juga hendaknya saling mengingatkan untuk datang ke masjid. Kita juga hendaknya memberikan perhatian pada khotbah. Sebagian ada yang mengantuk ketika khotbah sampai terangguk-angguk. Ada yang melamun entah ke mana. Bagaimanapun juga yang seperti itu harus diingatkan juga.

Tugas kita semua adalah mengajak orang lain untuk sama-sama maju dengan kita. Bukan hanya tugas mubaligh dan pengurus. Kita adalah saudara rohani. Selayaknya saudara rohani bergairah untuk mengajak saudaranya agar lebih baik.

Kalau kita mengajak misalnya tiga orang saja untuk shalat berjamaah maka kita akan memperoleh duapuluh tujuh kali tiga ganjaran.

Semoga Allah Taala memberi taufik kepada kita untuk menjadi orang-orang yang senantiasa meningkatkan standarnya. Aamiin.

Pada khotbah kedua, Hudhur atba. menyampaikan berita duka cita tentang wafatnya seorang perempuan Ahmadi tertua dari Jemaat Meksiko, wafat dalam usianya yang lebih dari seratus tahun.

Di tahun pertama saat beliau baiat, Almarhumah belajar shalat. Almarhumah adalah seorang yang tekun berdoa. Ayahnya adalah seorang pendeta besar.

Almarhumah wafat setelah melaksanakan shalat Zhuhur. Semoga Allāh Ta‘ālā meninggikan derajat Almarhumah dan menjaga keimanan keturunannya. Āmīn.

_
Penerjemah: Saifullah M.A.; editor: R.A. Daeng Mattiro (Kebayoran, 3 Februari 2015)

Petikan khotbah jumat Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015

BERIKUT adalah kilasan dari khotbah jumat Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Khalifatul Masih V (Hudhur) atba., 30 Januari 2015 di Masjid Baitul Futuh London, Inggris Raya.

Di awal khotbah pertama, Yang Mulia atau Hudhur atba. menyampaikan tentang ayat “Lā yukallifu’l-Lāhu nafsan illā wus‘ahā”—yakni, Allāh tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.

Maksudnya, Allāh Ta‘ālā menerapkan perintah-Nya kepada hamba-Nya sesuai kemampuan yang dimilikinya. Dengan kata lain, segala perintah Allāh Ta‘ālā itu sanggup dilaksanakan oleh hamba-Nya.

Dalam hal-hal jasmani memiliki standar yang berbeda-beda. Ada yang sangat pintar ada yang kurang pintar, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang pendidikannya tinggi, ada yang rendah, dan seterusnya.

Begitu juga dalam hal rohani, tidak bisa sama dan juga tidak bisa dibuat sama standar rohani seseorang meski sama-sama beriman. Dalam hal pengorbanan pun ada standar masing-masing.

Seperti Hadhrat Abu Bakar r.a. yang memberikan semua hartanya untuk Islam. Hadhrat Umar r.a. memberikan separuh hartanya untuk Islam dengan berpikir bahwa “Hari ini saya akan maju jauh di depan [dalam pengorbanan]” tapi rupanya Hadhrat Abu Bakar r.a. lebih dari itu.

Standar kebaikan seseorang di sisi Allāh Ta‘ālā adalah sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya.

Kita hendaknya melihat standar kita sudah sampai di mana.

Kita tidak bisa “menipu” Allāh Ta‘ālā. Kendati kita memiliki kemampuan yang lemah maka jangan menyerah. Hendaknya kita berusaha meningkatkan standar kita. Seperti seorang pelajar yang lemah yang terus-menerus bertanya kepada guru untuk memahami suatu hal. Ketika guru memberikan pemahaman maka standar murid tadi juga menjadi lebih meningkat.

Tugas seorang guru adalah membantu muridnya. Memberikan pemahaman. Kalau ini tidak dilakukan berarti guru tersebut telah berkhianat. Dalam menuntut dan mengajarkan suatu ilmu tidak bisa sama. Karena, segala sesuatu punya standar yang berbeda. Tapi, hendaknya senantiasa mengerjakan suatu dengan kemampuan yang terbaik yang dimiliki.

Tugas seorang muballigh sangat berat. Tugas mubaligh adalah meningkatkan standar Anggota. Begitu juga para pengurus [Jemaat di Majelis Amilah maupun Badan-badan] berkewajiban meningkatkan kemajuan Anggota baik dari segi tarbiyat maupun ilmu.

Di mana kewajiban seorang mubaligh juga merupakan pekerjaan pengurus. Setiap mubaligh dan pengurus berkewajiban memberikan tarbiyat dan mengingatkan.

Adalah keliru [bila] berfikir bahwa dengan Anggota sudah mengkaji buku-buku Hadhrat Masīh Mau‘ūd a.s., sudah menyaksikan khotbah jumat dari sang khalifah yang sekarang, maka Anggota tidak perlu diingatkan dan ditarbiyati lagi. Adalah salah juga berfikir bahwa “Khotbah khalifah saja tidak mempan apa lagi kita.”

Intinya, mengingatkan serta memberi tarbiyat adalah harus dan wajib. Saling mengingatkan juga merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan Anggota.

Kita juga hendaknya saling mengingatkan untuk datang ke masjid. Kita juga hendaknya memberikan perhatian pada khotbah. Sebagian ada yang mengantuk ketika khotbah sampai terangguk-angguk. Ada yang melamun entah ke mana. Bagaimanapun juga yang seperti itu harus diingatkan juga.

Tugas kita semua adalah mengajak orang lain untuk sama-sama maju dengan kita. Bukan hanya tugas mubaligh dan pengurus. Kita adalah saudara rohani. Selayaknya saudara rohani bergairah untuk mengajak saudaranya agar lebih baik.

Kalau kita mengajak misalnya tiga orang saja untuk shalat berjamaah maka kita akan memperoleh duapuluh tujuh kali tiga ganjaran.

Semoga Allah Taala memberi taufik kepada kita untuk menjadi orang-orang yang senantiasa meningkatkan standarnya. Aamiin.

Pada khotbah kedua, Hudhur atba. menyampaikan berita duka cita tentang wafatnya seorang perempuan Ahmadi tertua dari Jemaat Meksiko, wafat dalam usianya yang lebih dari seratus tahun.

Di tahun pertama saat beliau baiat, Almarhumah belajar shalat. Almarhumah adalah seorang yang tekun berdoa. Ayahnya adalah seorang pendeta besar.

Almarhumah wafat setelah melaksanakan shalat Zhuhur. Semoga Allāh Ta‘ālā meninggikan derajat Almarhumah dan menjaga keimanan keturunannya. Āmīn.

_
Penerjemah: Saifullah M.A.; editor: R.A. Daeng Mattiro (Kebayoran, 3 Februari 2015)