KulTwit khotbah jumat khalifah jamaah muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015

Khotbah Hazrat Kahlifatul Masih V aba 30 Januari 2015

·         Allah SWT menyatakan dalam Al Qur’an: Allah tidak membebani
seseorang diluar batas kemampuannya

·         Ketika Allah SWT memberi perintah yang tidak berada di luar
kesanggupan manusia, maka adalah tugas kita untuk mematuhinya

·         Seorang mukmin sejati dapat mengajukan keberatan bahwa
perintah tertentu di luar batas-batas mereka

·         Jika seseorang benar-benar beriman kepada Allah, maka
penting untuk percaya bahwa segala perintah berlaku bagi kita

·         Kita harus dengan segala kemampuan kita berusaha untuk
mematuhi perintah-perintah tersebut. Ini adalah bagian dari ajaran
Islam yang indah

·         Allah SWT tidak mengatakan agar patuh pada segala sesuatu
tapi mengatakan patuhilah setiap perintah yang menjaga sesuai
kemampuan kalian

·         Semua orang telah diberikan kekuatan dan kemampuan yang berbeda

Continue reading “KulTwit khotbah jumat khalifah jamaah muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015”

KulTwit khotbah jumat khalifah jamaah muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015

Khotbah Hazrat Kahlifatul Masih V aba 30 Januari 2015

·         Allah SWT menyatakan dalam Al Qur’an: Allah tidak membebani
seseorang diluar batas kemampuannya

·         Ketika Allah SWT memberi perintah yang tidak berada di luar
kesanggupan manusia, maka adalah tugas kita untuk mematuhinya

·         Seorang mukmin sejati dapat mengajukan keberatan bahwa
perintah tertentu di luar batas-batas mereka

·         Jika seseorang benar-benar beriman kepada Allah, maka
penting untuk percaya bahwa segala perintah berlaku bagi kita

·         Kita harus dengan segala kemampuan kita berusaha untuk
mematuhi perintah-perintah tersebut. Ini adalah bagian dari ajaran
Islam yang indah

·         Allah SWT tidak mengatakan agar patuh pada segala sesuatu
tapi mengatakan patuhilah setiap perintah yang menjaga sesuai
kemampuan kalian

·         Semua orang telah diberikan kekuatan dan kemampuan yang berbeda

Continue reading “KulTwit khotbah jumat khalifah jamaah muslim Ahmadiyah 30 Januari 2015”

Beberapa peristiwa di dalam kehidupan sang pendiri suci Jamaah Muslim Ahmadiyyah

DALAM khotbah jumat 12 Desember 2014, di Masjid Baitul Futuh London, Inggris Raya, Imam Jamah Muslim Aḥmadiyyah Ḥaḍrat Sayyidina Amirul Mukminin Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ V Mirza Masrror Ahmad (Hudhur) atba. menyampaikan beberapa peristiwa di dalam kehidupan sang pendiri suci Jamaah Muslim Aḥmadiyyah Ḥaḍrat Imām Mahdī-dan-Masīḥ Mau‘ūd (Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd) a.s..

Peristiwa-peristiwa tersebut dikutip dari riwayat Ḥaḍrat Muslīḥ Mau‘ūd Khalīfatu’l-Masīḥ II Alḥajj Alḥafiz Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. yang menyoroti berbagai perspektif kehidupan beberkat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Dalam Al-Qur’ān Surah (QS) Yūnus, Allāh Ta‘ālā telah menyatakan sebuah prinsip berkenaan dengan kebenaran para Nabi-Nya, yaitu, “[Faqad labitstu fīkum ‘umuram-miŋ-qablihī afalā ta‘qilūn]”—artinya, “Sesungguhnya, aku telah tinggal bersamamu dalam masa yang panjang sebelum ini. Tidakkah kamu menggunakan akal? (QS [Yūnus] 10:17)”

Selama masa Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ yang kedua, para penentang Jemaat mengadakan unjuk rasa di Qadian di mana mereka melontarkan caci makian terhadap figur Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Dengan cara seperti itu, mereka menciptakan kekacauan.

Akan tetapi dengan karunia Allāh Ta’ālā, mereka tidak berhasil.

Bagaimanapun, mereka tetap melontarkan caci makian.

Kemudian, Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. berbicara pada suatu pertemuan di mana beliau r.a. menjawab berbagai keberatan yang muncul serta memberikan bukti kebenaran Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. berkali-kali bertanya kepada para penganut Sikh, pemeluk Hindu, dan umat Islam pada saat itu apakah mereka dapat mengajukan keberatan terhadap kehidupan masa lalu beliau a.s..

Sungguh, setiap orang menjadi saksi atas kehidupan masa lalu beliau a.s. yang suci, atau, paling tidak, tidak ada satu pun orang yang mengajukan keberatan.

Bahkan, seorang penentang seperti Muhammad Hussain Batalwi pun telah bersaksi atas kesucian Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. di dalam majalahnya serta pada media lainnya bahwa beliau a.s. adalah seorang yang suci.

Lalu, bagaimana seseorang yang telah menjadi suci selama 40 tahun tiba-tiba menjadi kotor dalam semalam?

Berbagai ahli psikologi berpendapat bahwa penyakit moral berkembang secara bertahap dan penurunan moral tidak dapat terjadi secara tiba-tiba.

Tuhan berfirman, “Sesungguhnya, tentu Kami akan menolong para rasul Kami. (QS [Al-Mu’min] 40:52)”

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. bersabda bahwa segala macam upaya dilakukan untuk membunuh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Kasus pengadilan palsu diajukan terhadap beliau.

Salah satunya adalah kasus palsu mengenai percobaan pembunuhan Martyn Clark.

Hakim untuk kasus ini bertekad bahwa dia akan menangkap orang yang telah mengaku sebagai Almasih ini yang tidak ada orang lain mampu menangkapnya.

Pada akhirnya, hakim itu sendiri yang mengakhiri pengadilan dengan berkali-kali mengatakan bahwa kasus pengadilan ini adalah palsu dan seluruh kasusnya telah selesai.

Maulwi Umer Din Sahib – seorang mubaligh Ahmadi yang dulunya menjadi Ahmadi setelah mengetahui standar kebenaran beliau a.s.–menceritakan bahwa dia beserta beberapa orang yang lain sedang berdiskusi bagaimana cara menentang Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Seseorang berkata, “Tuan Mirza telah mengumumkan bahwa dia tidak akan berdebat lagi. Jadi, hendaknya kita memberinya undangan untuk berdebat.

“Jika dia menyetujuinya, kita bisa mengatakan bahwa dia telah berbohong karena pernah mengatakan bahwa dia tidak akan berdebat lagi.

“Dan jika dia tidak setuju, kita bisa menciptakan kehebohan bahwa dia telah kalah.”

Maulwi Umer Din menyarankan bahwa dia yang akan pergi dan membunuh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Muhammad Hussain Batalwi berkata padanya, “Anak muda, semuanya itu sudah dicoba”.

Hal ini membuat Maulwi Umer Din berfikir dalam hati bahwa orang yang dilindungi oleh Allah Ta’ala dengan cara demikian adalah hanya yang berasal dari Allah Ta’ala. Dia pun baiat.

Kemudian, di dekat stasiun kereta api Batala, dia bertemu dengan Muhammad Hussain Batalwi yang bertanya apa yang sedang diperbuatnya di sana.

Ketika dia mengatakan bahwa dia hendak ke Qadian untuk berbaiat, maka Muhammad Hussain mengungkapkan ketidaksenangannya.

Akan tetapi, Maulwi Umer Din menjawab, “Maulwi Sahib, hal ini terjadi melalui diri Anda.”

Pada kasus pengadilan Dr. Martyn Clark, Muhammad Hussain hadir sebagai saksi terhadap Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Martyn Clark membuat pernyataan di pengadilan bahwa Mirza Sahib telah mengirimkan seseorang untuk membunuhnya.

Umat muslim mendukungnya dan Muhammad Hussain datang sebagai saksi.

Sebelumnya, Allah Ta’ala telah menubuatkan kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. bahwa Maulwi Muhammad Hussain akan hadir tetapi dia akan dipermalukan.

Meskipun ada wahyu bahwa Muhammad Hussain akan dipermalukan, namun ketika disarankan kepada beliau a.s. oleh pengacaranya supaya disampaikan suatu pertanyaan yang akan membuat Muhammad Hussain tersebut malu, maka Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. tidak mengizinkan hal tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada orang-orang yang ada pada kasus pengadilan tersebut untuk mengetahui kebenarannya.

Dan ketika pengacara beliau membacakan kepada beliau a.s. daftar pertanyaan yang ingin mereka tanyakan kepada Muhammad Hussain, maka beliau a.s. mengatakan bahwa beliau as tidak mentolerir beberapa pertanyaan tertentu.

Pengacara beliau mengatakan bahwa adalah keinginannya untuk memasukan pertanyaan tersebut yang akan melemahkan pihak lawan.

Akan tetapi Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. tidak mengizinkannya.

Pengacara beliau, Fazal Din merasa takjub akan tetapi dia akan selalu membela Hadhrat Masih Mau’ud as sepanjang beliau tetap fokus dan selalu menjaga bahwa akhlaknya adalah yang terbaik dan tidak ada satu pun maulwi yang menyainginya dalam hal ini.

Di satu sisi, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. telah menerima wahyu tentang
seorang saksi yang akan dipermalukan.

Dan di sisi lain, beliau a.s. tidak mengizinkan untuk melontarkan sebuah pertanyaan yang memalukan kepada saksi.

Allah Ta’ala membiarkan akhlak luhur beliau a.s. untuk tampil serta mengangkat kehormatan beliau as dan juga menjadi sarana yang sangat luar biasa untuk menghinakan Muhammad Hussain.

Ketika hakim, yakni seorang Deputy Commissioner, melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s., hatinya menjadi berubah.

Dan meskipun Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. hadir sebagai seorang terdakwa, namun deputy tersebut mempersilahkan beliau as untuk duduk di atas kursi.

Sementara Muhammad Hussain yang hadir dengan niat untuk mempermalukan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. (naudzubillah), merasa marah ketika mengetahui bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. duduk di atas kursi.

Dia menuntut bahwa dia berasal dari keluarga terhormat dan selayaknya dipersilahkan duduk di atas kursi.

Dia mengatakan bahwa dia selalu dipersilahkan duduk di atas kursi ketika dia bertemu Gubernur.

Deputy Commisioner menjawab bahkan seorang tukang sapu pun dipersilahkan untuk duduk di atas kursi ketika dia pergi menemui seseorang.

Akan tetapi ini adalah pengadilan. Dia berkata kepada Muhammad Hussain bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. berasal dari keluarga terhormat.

Cukup luar biasa bagi seorang Captain Douglas, Deputy Commissioner berkebangsaan Inggris untuk mengubah hatinya setelah melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Penentangan oleh Captain Douglas bukanlah hal yang biasa. Faktanya, terdapat nada keagamaan di sini.

Beberapa hari sebelum hari pengadilan, dia berkata bahwa seseorang dari Qadian telah menyatakan diri sebagai seorang Almasih serta telah menghina Tuhan mereka.

Dia telah mencari tahu kenapa tidak ada yang dapat menangkap orang ini.

Dia ingin mengeluarkan surat tuntutan terhadap Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. akan tetapi surat tersebut tidak dapat dikeluarkan untuk kasus pengadilan ini.

Sebagai gantinya, dikeluarkan surat pemanggilan.

Dengan demikian, surat tersebut dikirimkan kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Ketika Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. sampai di pengadilan pada hari yang ditentukan, Deputy Commissioner yang telah bertekad untuk menangkap beliau a.s. karena menganggap telah menghinakan Yesus Kristus, malahan menghormati Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. serta mengatakan bahwa beliau diperbolehkan duduk ketika menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Ketika Muhammad Hussain sampai dan melihat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. duduk di atas kursi, maka wajahnya menjadi pucat karena dia telah datang dengan asumsi untuk melihat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. dengan tangan diborgol.

Inilah pengadilan yang dipimpin oleh seorang Deputy Commissioner berkebangsaan Inggris di mana penggugatnya juga merupakan pendeta berkebangsaan Inggris, Dr. Martyn Clark.

Dr. Clark dikenal secara luas sebagai seorang berkebangsaan Inggris meskipun sebenarnya dia adalah keturunan [suku] Pathan yang telah menikah dengan seorang wanita Inggris.

Seorang ulama seperti Muhammad Hussain hadir sebagai saksi pada kasus tersebut.

Namun pada akhirnya, para penentang Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. gagal dan dipermalukan.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Muhammad Hussain juga meminta untuk diberikan kursi pada pengadilan tersebut akan tetapi ditolak oleh Deputy Commissioner.

Muhammad Hussain mulai berdebat sehingga membuat Deputy Commissioner marah dan memintanya untuk pergi dan berdiri di belakang di tempat sepatu.

Para penjaga memegang tangan Muhammad Hussain dan membawanya ke tempat sepatu.

Muhammad Hussain merasa orang-orang di luar dapat melihat posisinya di tempat yang memalukan.

Dia melihat sebuah kursi di beranda.

Kemudian dia menyelinap ke beranda dan duduk di atas kursi di sana.

Ketika penjaga melihatnya, dia berpikir mungkin Deputy Commissioner tidak akan menyetujuinya, maka dia memintanya untuk meninggalkan kursi tersebut.

Muhammad Hussain pergi keluar di mana orang-orang berkumpul.

Beberapa orang duduk beralaskan beberapa lembar kain yang mereka bawa.

Dia melihat ada tempat yang sudah beralaskan kain kemudian duduk di sana.

Ketika orang yang punya kain tersebut melihatnya, dia memintanya pergi dari kainnya seraya berkata, “Betapa bodohnya duduk di sini”.

Dia mencelanya dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang “maulwi” akan tetapi telah datang untuk mendukung seorang Kristen.

Kemudian, dia pun tidak dihargai di mana-mana baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Ini merupakan “Tanda-tanda yang nyata” (QS [Al-Baqarah] 2:100) bagaimana Allāh Ta‘ālā telah membebaskan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. dari seorang musuh serta juga telah memperlihatkan tanda-tanda-Nya yang lain kepada Captain Douglas yang dia ingat hingga akhir hayatnya.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bertemu dengan Captain Douglas selama kunjungan beliau ke Inggris pada tahun 1924.

Kepala Petugas Captain Douglas menceritakan bahwa segera setelah menghadiri pengadilan, pada hari tersebut Captain Douglas meminta Kepala Petugas untuk segera mengatur keberangkatannya ke Gurdaspur.

Captain Douglas modar-mandir di jalan dan terlihat gelisah.

Kepala Petugas memintanya untuk duduk di ruang tunggu tapi dia ingin untuk menyendiri dan berkata bahwa dia sedang tidak enak badan.

Dia berkata, sejak dia melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s., dia merasa seolah-olah malaikat memberinya isyarat serta mengatakan bahwa dia tidak berdosa dan tidak bersalah, jadi dia menunda pengadilan tersebut.

Dia juga berkata, ketika dia mondar mandir di jalan dan sampai di salah satu ujung jalan, dia melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. berkata bahwa dia tidak melakukan apa pun dan semua ini adalah bohong.

Ketika dia berbalik arah dan sampai di ujung jalan lainnya, dia melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. berkata bahwa dia tidak melakukan apapun dan semua ini adalah bohong.

Captain Douglas berkata, dia merasa akan menjadi gila jika situasi ini terus terjadi.

Kepala Petuganya menasihatkannya untuk pergi ke ruang tunggu serta menyarankan agar ada polisi pengawas di dekatnya.

Captain Douglas memanggilnya dan mengatakan apa yang dia rasa. Pengawas itu berkata bahwa ini adalah kesalahan Captain Douglas sendiri karena telah mempercayakan saksi utama kepada para ulama yang telah mendoktrinnya dan keterangannya berdasarkan terhadap apa saja yang mereka ajarkan pada saksi utama itu.

Petugas pengawas menyarankan bahwa saksi utama, Abdul Hamid, hendaknya dipanggil lagi ke kantor polisi dan dilihat keterangan apa yang dia berikan.

Captain Douglas mengeluarkan perintah khusus dan Abdul Hamid dibawa ke kantor polisi.

Pada awalnya dia tetap dengan ceritanya serta berkata bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. telah mengirimnya untuk membunuh Dr Martyn Clark.

Akan tetapi kemudian dia mengakui bahwa dia telah berbohong.

Petugas pengawas menyadari bahwa Abdul Hamid takut terhadap para ulama.

Oleh karena itu pengawas itu berkata padanya bahwa dia akan tetap ditahan dan tidak akan kembali ke para ulama itu.

Ini adalah saat ketika dia menyadari kebenarannya.

Ketika para ulama tersebut mengajarkannya untuk memberikan keterangan sesuai dengan cerita karangan mereka, dia (Abdul Hamid—red.) berkata pada mereka bahwa dia akan lupa namanya dan keterangan lainnya.

Oleh karena itu, dia menuliskan keterangan-keterangan terkait tersebut di tangannya.

Setiap kali dia memberikan keterangan, dia akan melihat tangannya untuk menyebutkan suatu nama serta tempat di mana Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. kira-kira telah mengirimnya.

Captain Douglas membebaskan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. pada sidang berikutnya.

Ini semua adalah manifestasi dari tanda-tanda Ilahi dan kepada Captain Douglas juga diperlihatkan manifestasi tanda-tanda lainnya ketika dia mondar-mandir di jalan, yakni dia melihat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. di kedua ujung jalan tersebut seraya berkata bahwa beliau tidak bersalah.

Captain Douglas bercerita kepada Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bahwa suatu kali dia menghibur seorang India di rumahnya yang memintanya untuk menceritakan beberapa pengalaman hidupnya yang luar biasa.

Captain Douglas menceritakan peristiwa tentang Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Pada saat itu, kepala pelayan datang mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.

Ketika orang tersebut hadir, Captain Douglas bertanya, “Anak muda, siapa kamu?”

Anak muda tersebut menjawab, “Anda kenal ayah saya: Ulama Warris Din.”

Captain Douglas berkata, “Ya, saya baru saja menyebutkannya.”

Anak muda tersebut berkata, “Saya baru saja menerima telegram bahwa dia sudah meninggal.”

Warris Din adalah ulama yang telah memulai rekayasa ini untuk menyenangkan Dr. Martyn Clark serta yang telah mengajukan kasus ini.

Namun Allāh Ta‘ālā membukakan kebenarannya kepada Deputy Commissioner dan saksi utamanya juga mengakuinya.

Bagaimanapun juga, bagi putera Warris Din, sampai di rumah Captain Douglas pada saat ketika dia sedang bercerita dengan tentang peristiwa tersebut merupakan suatu kebetulan yang luar biasa.

Captain Douglas menceritakan hal ini kepada Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a.dan hingga dia meninggal, dia terus menceritakannya kepada setiap Ahmadi yang dia temui.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. berkata bahwa ketika beliau berkunjung ke Inggris pada tahun 1924, Captain Douglas berada dalam kondisi yang sehat.

Namun, pada tahun 1953, ketika Captain diundang pada kunjungan beliau r.a. yang kedua [di Inggris], dia menyampaikan permohonan maafnya karena sekarang dia sudah tua dan tidak kuat lagi serta sulit pergi ke mana-mana.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. menyesalkan bahwa mereka mempunyai sebuah mobil dan dapat dikirimkan ke Captain Douglas atau pergi melihatnya pada tahun 1953.

Captain Douglas meninggal dunia tak lama setelah itu.

Ini semua sungguh merupakan manifestasi tanda-tanda yang melaluinya Allah Ta’ala menunjukan kebenaran para Utusan-Nya.

Seorang mukmin hendaknya berupaya serta menjadi seorang mukmin sejati.

Allah Ta’ala pasti akan menciptakan kondisi-kondisi yang akan menyegarkan kembali keimanan seseorang ketika dia dengan tulus berupaya untuk menjadi seorang mukmin sejati.

Dan pada kenyataannya tidak ada kebahagiaan tanpa memiliki keimanan seperti ini. Apa penyebab keimanan tersebut tidak terbuka terhadap seseorang serta membuatnya tetap berada dalam kegelapan?

Seesorang yang buta di dunia ini, juga akan buta di akhirat.

Orang yang tidak menyaksikan tanda-tanda ilahi di dunia ini, juga tidak akan menyaksikannya di akhirat.

Keberlangsungan tanda-tanda ini berlanjut hingga sekarang.

Peristiwa yang disebutkan tadi telah terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu.

Tanda tersebut sekarang sedang muncul lagi pada cucu Captain Douglas yang telah mengirimkan surat bahwa dia ingin baiat.

Dia ingin tahu apa kebaikan yang telah dilakukan oleh kakeknya sehingga telah sangat menginspirasinya sekarang.

Kita tentu telah mendengar cerita cucu Dr. Martyn Clark yang secara terang-terangan berkata bahwa kakeknya itu bersalah dan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. itulah yang benar.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bersabda, seorang mukmin sejati hendaknya senantiasa berdoa dan berdzikir untuk melihat hari ketika Tuhan membukakan kebenaran Islam serta wujud-Nya kepadanya dan dia melihat wajah Rasulullah saw. yang bersinar serta wajah-Nya yang penuh cahaya.

Ketika seseorang mengalami hal ini, maka akan sama saja baginya untuk merasa bahagia dan sedih sepanjang siang-malam serta bertahun-tahun lamanya.

Dia akan selalu merasa senang dan puas terhadap apapun yang terjadi serta tidak akan takut terhadap siapapun.

Selama kasus pengadilan Karamuddin terhadap Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. yang dipimpin oleh seorang hakim beragama Hindu, orang-orang [Hindu] Arya menghasut sang hakim untuk menghukum Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. dan dia pun telah berjanji akan berbuat demikian.

Para Ahmadi sungguh khawatir terhadap hal ini dan menyarankan agar Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. pergi ke suatu tempat di Qadian di mana beliau bisa aman.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. menjawab bahwa beliau a.s. tidak akan sepenuhnya aman di Qadian karena surat tuntutan dapat dikeluarkan kepada beliau di mana pun beliau a.s. berada baik di Qadian ataupun di tempat lain.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. bersabda, “Siapakah yang mampu menyentuh singa Tuhan?”

Kasus pengadilan disampaikan di hadapan dua orang hakim dan mereka berdua mendapatkan hukumannya masing-masing: yang satu diberhentikan sedangkan anak dari hakim yang lainnya sakit jiwa dan bunuh diri dengan melompat dari atap.

Ketika seseorang menjadi milik Tuhan maka segala sesuatu di dunia ini menjadi miliknya.

Sebagaimana disabdakan [sebuah wahyu] oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. dalam bahasa Punjab, artinya, “Jika Anda akan setia terhadap-Ku, seluruh dunia akan menjadi milik Anda. (Tadzkirah, halaman 609, edisi tahun2009)”

Tidak ada satupun hal di dunia ini yang akan merugikan Anda.

Jadilah milik Tuhan dan berdoalah semoga Anda menjadi milik-Nya.

Kondisi ini akan membawa ketentraman bagi Anda dan anak-anak Anda, teman-teman Anda, serta keluarga Anda.

Hendaknya diingat bahwa jika Jemaat tidak berada dalam ketentraman maka setiap orang pun tidak akan berada dalam ketentraman.

Suatu jemaat, baru dapat berada dalam keadaan tentram ketika generasi mudanya juga berada dalam keadaan tentram.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. mengingat hari-hari kasus pengadilan Dr. Martyn Clark.

Beliau r.a. gelisah serta berdoa dan melihat mimpi.

Beliau r.a. melihat bahwa beliau r.a. pulang dari sekolah dan berusaha masuk ke dalam rumah akan tetapi beliau r.a. mendapati polisi yang tak berseragam berada di sana.

Salah satu dari mereka menghentikan beliau r.a. untuk masuk ke dalam rumahnya.

Akan tetapi yang lain berkata, “Dia berasal dari keluarga ini dan biarkanlah dia masuk.”

Beliau r.a. kemudian melihat sebuah ruang bawah tanah di rumah yang telah dibangun oleh kakek beliau.

Beliau r.a. melihat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. sedang berdiri di ruangan itu yang telah dipenuhi dengan bahan bakar kotoran hewan.

Beberapa polisi melemparkan minyak ke kotoran tersebut untuk menyalakan api.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. mencoba untuk memadamkan api tetapi para polisi itu menangkapnya dan memegangnya.

Kemudian dia melihat tulisan yang indah yang dicetak tebal berikut ini: Siapakah yang dapat menyalakan api terhadap orang yang dicintai oleh Allah!

Terdapat keamanan serta ketentraman bagi para mukmin sejati di dunia ini serta juga di akhirat kelak.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bersabda bahwa beliau r.a. mengalami beberapa peristiwa di dalam kehidupan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. ketika beliau a.s. sama sekali tidak mempunyai kekuatan akan tetapi Allāh Ta‘ālā memberikan perlindungan kepada beliau a.s..

Captain Douglas berkata, dia merasa gelisah bahwa kasus pengadilan itu ternyata palsu.

Jadi akhirnya dia mengambil keputusan dan kebenaran pun terbukti.

Kemudian dia berkata bahwa dia belum pernah melihat seseorang begitu tolerannya seperti Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. yakni ketika diberitahukan bahwa beliau a.s. dapat mengajukan “penghinaan balik” kepada penentang beliau a.s. namun beliau a.s. menolak.

Suatu ketika, para ahmadi tidak diperbolehkan untuk pergi ke mesjid di Qadian.

Pintu mesjid ditutup dan kayu-kayu dipancang di atas tanah sehingga mereka yang pergi ke mesjid akan tersandung karena gelap.

Dan, para Ahmadi juga dilarang untuk pergi ke sumur. Namun, sekarang, ke mana semua penentang itu?

Sekarang anak-anak mereka telah menjadi Ahmadi.

Anak-anak dari mereka yang dulunya berupaya keras untuk menghapuskan Ahmadiyah, namun sekarang secara aktif sedang menyebarkan Jemaat ini.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. suatu kali menceritakan sebuah mimpi beliau yakni beliau a.s. melihat bahwa Qadian telah meluas hingga ke Sungai Bias dan juga dihuni jauh hingga ke sebelah utara.

Padahal, pada saat itu hanya ada 8—10 rumah ahmadi dari keluarga yang serba berkekurangan di sana. Selebihnya tiba sebagai pendatang. Tetapi, Qadian sekarang sudah berkembang.

Sekarang, dengan karunia Allāh Ta‘ālā, Qadian telah meluas lebih jauh lagi dan banyak bangunan indah sedang dibangun di sana baik rumah-rumah pribadi maupun bangunan-bangunan Jemaat.

Kita menyaksikan kota Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. menjadi makmur.

Suatu ketika, seorang penentang beragama Hindu yang rumahnya berdekatan dengan Masjid Aqsa selalu membuat masalah dan berkata bahwa dia merasa terganggu oleh kegaduhan anak-anak dan terlalu banyak orang yang berkumpul di sana.

Dengan perluasan mesjid tersebut, sekarang rumahnya telah menjadi bagian dari mesjid.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bersabda bahwa beliau r.a. mengalami masa ketika Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. diboikot serta ketika orang-orang mencaci-maki serta melempari beliau a.s. dengan batu.

Beliau r.a. bersabda, “Limapuluh lima persen mereka yang duduk di hadapan saya sekarang ini adalah mereka yang dulu menentang, namun kemudian masuk ke dalam Jemaat.”

Beliau r.a. bersabda, setelah Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ I r.a. wafat, terjadi “kehebohan besar” di dalam Jemaat. Akan tetapi apa yang terjadi pada mereka yang membuat kehebohan itu? Mereka menghina seraya berkata, “Kami tidak akan menjadi budak dari anak kecil.”

Namun Tuhan memasukan kebanggaan ke dalam hati mereka dengan berbuat demikian terhadap anak kecil ini sehingga mereka meninggalkan Qadian dan tidak kembali.

Mereka telah membual bahwa 98 persen, Jemaat ada bersama mereka dan hanya dua persen yang ada bersama khilafat.

Akan tetapi sekarang, bahkan dua persen pun tidak ada bersama mereka dan lebih dari 98 persen ada bersama khilafat.

Pada tahun 2014 sekarang, jamaah yang hadir di London pada saat khotbah jumat disampaikan adalah lebih besar daripada jamaah di masa ketika Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. menyampaikan khutbah.

Faktanya, bahkan jemaah di mesjid Fazl London menjadi lebih besar daripada saat Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a..

Ini semua adalah tanda-tanda Ilahi yang senantiasa memberikan dukungan serta keberhasilan. Ini semua adalah tanda-tanda kebenaran Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. serta dukungan ilahi yang dinikmati
oleh Khilafat ini.

Semoga kita senantiasa memperhatikan masalah ini serta dapat meningkatkan keimanan kita serta keimanan anak-anak kita. Āmīn.

_
Penerjemah: Hafizurrahman; editor: R.A. Daeng Mattiro (Kebayoran Lama, 31 Desember 2014)

Beberapa peristiwa di dalam kehidupan sang pendiri suci Jamaah Muslim Ahmadiyyah

DALAM khotbah jumat 12 Desember 2014, di Masjid Baitul Futuh London, Inggris Raya, Imam Jamah Muslim Aḥmadiyyah Ḥaḍrat Sayyidina Amirul Mukminin Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ V Mirza Masrror Ahmad (Hudhur) atba. menyampaikan beberapa peristiwa di dalam kehidupan sang pendiri suci Jamaah Muslim Aḥmadiyyah Ḥaḍrat Imām Mahdī-dan-Masīḥ Mau‘ūd (Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd) a.s..

Peristiwa-peristiwa tersebut dikutip dari riwayat Ḥaḍrat Muslīḥ Mau‘ūd Khalīfatu’l-Masīḥ II Alḥajj Alḥafiz Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. yang menyoroti berbagai perspektif kehidupan beberkat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Dalam Al-Qur’ān Surah (QS) Yūnus, Allāh Ta‘ālā telah menyatakan sebuah prinsip berkenaan dengan kebenaran para Nabi-Nya, yaitu, “[Faqad labitstu fīkum ‘umuram-miŋ-qablihī afalā ta‘qilūn]”—artinya, “Sesungguhnya, aku telah tinggal bersamamu dalam masa yang panjang sebelum ini. Tidakkah kamu menggunakan akal? (QS [Yūnus] 10:17)”

Selama masa Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ yang kedua, para penentang Jemaat mengadakan unjuk rasa di Qadian di mana mereka melontarkan caci makian terhadap figur Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Dengan cara seperti itu, mereka menciptakan kekacauan.

Akan tetapi dengan karunia Allāh Ta’ālā, mereka tidak berhasil.

Bagaimanapun, mereka tetap melontarkan caci makian.

Kemudian, Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. berbicara pada suatu pertemuan di mana beliau r.a. menjawab berbagai keberatan yang muncul serta memberikan bukti kebenaran Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. berkali-kali bertanya kepada para penganut Sikh, pemeluk Hindu, dan umat Islam pada saat itu apakah mereka dapat mengajukan keberatan terhadap kehidupan masa lalu beliau a.s..

Sungguh, setiap orang menjadi saksi atas kehidupan masa lalu beliau a.s. yang suci, atau, paling tidak, tidak ada satu pun orang yang mengajukan keberatan.

Bahkan, seorang penentang seperti Muhammad Hussain Batalwi pun telah bersaksi atas kesucian Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. di dalam majalahnya serta pada media lainnya bahwa beliau a.s. adalah seorang yang suci.

Lalu, bagaimana seseorang yang telah menjadi suci selama 40 tahun tiba-tiba menjadi kotor dalam semalam?

Berbagai ahli psikologi berpendapat bahwa penyakit moral berkembang secara bertahap dan penurunan moral tidak dapat terjadi secara tiba-tiba.

Tuhan berfirman, “Sesungguhnya, tentu Kami akan menolong para rasul Kami. (QS [Al-Mu’min] 40:52)”

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. bersabda bahwa segala macam upaya dilakukan untuk membunuh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Kasus pengadilan palsu diajukan terhadap beliau.

Salah satunya adalah kasus palsu mengenai percobaan pembunuhan Martyn Clark.

Hakim untuk kasus ini bertekad bahwa dia akan menangkap orang yang telah mengaku sebagai Almasih ini yang tidak ada orang lain mampu menangkapnya.

Pada akhirnya, hakim itu sendiri yang mengakhiri pengadilan dengan berkali-kali mengatakan bahwa kasus pengadilan ini adalah palsu dan seluruh kasusnya telah selesai.

Maulwi Umer Din Sahib – seorang mubaligh Ahmadi yang dulunya menjadi Ahmadi setelah mengetahui standar kebenaran beliau a.s.–menceritakan bahwa dia beserta beberapa orang yang lain sedang berdiskusi bagaimana cara menentang Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Seseorang berkata, “Tuan Mirza telah mengumumkan bahwa dia tidak akan berdebat lagi. Jadi, hendaknya kita memberinya undangan untuk berdebat.

“Jika dia menyetujuinya, kita bisa mengatakan bahwa dia telah berbohong karena pernah mengatakan bahwa dia tidak akan berdebat lagi.

“Dan jika dia tidak setuju, kita bisa menciptakan kehebohan bahwa dia telah kalah.”

Maulwi Umer Din menyarankan bahwa dia yang akan pergi dan membunuh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Muhammad Hussain Batalwi berkata padanya, “Anak muda, semuanya itu sudah dicoba”.

Hal ini membuat Maulwi Umer Din berfikir dalam hati bahwa orang yang dilindungi oleh Allah Ta’ala dengan cara demikian adalah hanya yang berasal dari Allah Ta’ala. Dia pun baiat.

Kemudian, di dekat stasiun kereta api Batala, dia bertemu dengan Muhammad Hussain Batalwi yang bertanya apa yang sedang diperbuatnya di sana.

Ketika dia mengatakan bahwa dia hendak ke Qadian untuk berbaiat, maka Muhammad Hussain mengungkapkan ketidaksenangannya.

Akan tetapi, Maulwi Umer Din menjawab, “Maulwi Sahib, hal ini terjadi melalui diri Anda.”

Pada kasus pengadilan Dr. Martyn Clark, Muhammad Hussain hadir sebagai saksi terhadap Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Martyn Clark membuat pernyataan di pengadilan bahwa Mirza Sahib telah mengirimkan seseorang untuk membunuhnya.

Umat muslim mendukungnya dan Muhammad Hussain datang sebagai saksi.

Sebelumnya, Allah Ta’ala telah menubuatkan kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. bahwa Maulwi Muhammad Hussain akan hadir tetapi dia akan dipermalukan.

Meskipun ada wahyu bahwa Muhammad Hussain akan dipermalukan, namun ketika disarankan kepada beliau a.s. oleh pengacaranya supaya disampaikan suatu pertanyaan yang akan membuat Muhammad Hussain tersebut malu, maka Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. tidak mengizinkan hal tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada orang-orang yang ada pada kasus pengadilan tersebut untuk mengetahui kebenarannya.

Dan ketika pengacara beliau membacakan kepada beliau a.s. daftar pertanyaan yang ingin mereka tanyakan kepada Muhammad Hussain, maka beliau a.s. mengatakan bahwa beliau as tidak mentolerir beberapa pertanyaan tertentu.

Pengacara beliau mengatakan bahwa adalah keinginannya untuk memasukan pertanyaan tersebut yang akan melemahkan pihak lawan.

Akan tetapi Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. tidak mengizinkannya.

Pengacara beliau, Fazal Din merasa takjub akan tetapi dia akan selalu membela Hadhrat Masih Mau’ud as sepanjang beliau tetap fokus dan selalu menjaga bahwa akhlaknya adalah yang terbaik dan tidak ada satu pun maulwi yang menyainginya dalam hal ini.

Di satu sisi, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. telah menerima wahyu tentang
seorang saksi yang akan dipermalukan.

Dan di sisi lain, beliau a.s. tidak mengizinkan untuk melontarkan sebuah pertanyaan yang memalukan kepada saksi.

Allah Ta’ala membiarkan akhlak luhur beliau a.s. untuk tampil serta mengangkat kehormatan beliau as dan juga menjadi sarana yang sangat luar biasa untuk menghinakan Muhammad Hussain.

Ketika hakim, yakni seorang Deputy Commissioner, melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s., hatinya menjadi berubah.

Dan meskipun Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. hadir sebagai seorang terdakwa, namun deputy tersebut mempersilahkan beliau as untuk duduk di atas kursi.

Sementara Muhammad Hussain yang hadir dengan niat untuk mempermalukan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. (naudzubillah), merasa marah ketika mengetahui bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. duduk di atas kursi.

Dia menuntut bahwa dia berasal dari keluarga terhormat dan selayaknya dipersilahkan duduk di atas kursi.

Dia mengatakan bahwa dia selalu dipersilahkan duduk di atas kursi ketika dia bertemu Gubernur.

Deputy Commisioner menjawab bahkan seorang tukang sapu pun dipersilahkan untuk duduk di atas kursi ketika dia pergi menemui seseorang.

Akan tetapi ini adalah pengadilan. Dia berkata kepada Muhammad Hussain bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. berasal dari keluarga terhormat.

Cukup luar biasa bagi seorang Captain Douglas, Deputy Commissioner berkebangsaan Inggris untuk mengubah hatinya setelah melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Penentangan oleh Captain Douglas bukanlah hal yang biasa. Faktanya, terdapat nada keagamaan di sini.

Beberapa hari sebelum hari pengadilan, dia berkata bahwa seseorang dari Qadian telah menyatakan diri sebagai seorang Almasih serta telah menghina Tuhan mereka.

Dia telah mencari tahu kenapa tidak ada yang dapat menangkap orang ini.

Dia ingin mengeluarkan surat tuntutan terhadap Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. akan tetapi surat tersebut tidak dapat dikeluarkan untuk kasus pengadilan ini.

Sebagai gantinya, dikeluarkan surat pemanggilan.

Dengan demikian, surat tersebut dikirimkan kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Ketika Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. sampai di pengadilan pada hari yang ditentukan, Deputy Commissioner yang telah bertekad untuk menangkap beliau a.s. karena menganggap telah menghinakan Yesus Kristus, malahan menghormati Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. serta mengatakan bahwa beliau diperbolehkan duduk ketika menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Ketika Muhammad Hussain sampai dan melihat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. duduk di atas kursi, maka wajahnya menjadi pucat karena dia telah datang dengan asumsi untuk melihat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. dengan tangan diborgol.

Inilah pengadilan yang dipimpin oleh seorang Deputy Commissioner berkebangsaan Inggris di mana penggugatnya juga merupakan pendeta berkebangsaan Inggris, Dr. Martyn Clark.

Dr. Clark dikenal secara luas sebagai seorang berkebangsaan Inggris meskipun sebenarnya dia adalah keturunan [suku] Pathan yang telah menikah dengan seorang wanita Inggris.

Seorang ulama seperti Muhammad Hussain hadir sebagai saksi pada kasus tersebut.

Namun pada akhirnya, para penentang Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. gagal dan dipermalukan.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Muhammad Hussain juga meminta untuk diberikan kursi pada pengadilan tersebut akan tetapi ditolak oleh Deputy Commissioner.

Muhammad Hussain mulai berdebat sehingga membuat Deputy Commissioner marah dan memintanya untuk pergi dan berdiri di belakang di tempat sepatu.

Para penjaga memegang tangan Muhammad Hussain dan membawanya ke tempat sepatu.

Muhammad Hussain merasa orang-orang di luar dapat melihat posisinya di tempat yang memalukan.

Dia melihat sebuah kursi di beranda.

Kemudian dia menyelinap ke beranda dan duduk di atas kursi di sana.

Ketika penjaga melihatnya, dia berpikir mungkin Deputy Commissioner tidak akan menyetujuinya, maka dia memintanya untuk meninggalkan kursi tersebut.

Muhammad Hussain pergi keluar di mana orang-orang berkumpul.

Beberapa orang duduk beralaskan beberapa lembar kain yang mereka bawa.

Dia melihat ada tempat yang sudah beralaskan kain kemudian duduk di sana.

Ketika orang yang punya kain tersebut melihatnya, dia memintanya pergi dari kainnya seraya berkata, “Betapa bodohnya duduk di sini”.

Dia mencelanya dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang “maulwi” akan tetapi telah datang untuk mendukung seorang Kristen.

Kemudian, dia pun tidak dihargai di mana-mana baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Ini merupakan “Tanda-tanda yang nyata” (QS [Al-Baqarah] 2:100) bagaimana Allāh Ta‘ālā telah membebaskan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. dari seorang musuh serta juga telah memperlihatkan tanda-tanda-Nya yang lain kepada Captain Douglas yang dia ingat hingga akhir hayatnya.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bertemu dengan Captain Douglas selama kunjungan beliau ke Inggris pada tahun 1924.

Kepala Petugas Captain Douglas menceritakan bahwa segera setelah menghadiri pengadilan, pada hari tersebut Captain Douglas meminta Kepala Petugas untuk segera mengatur keberangkatannya ke Gurdaspur.

Captain Douglas modar-mandir di jalan dan terlihat gelisah.

Kepala Petugas memintanya untuk duduk di ruang tunggu tapi dia ingin untuk menyendiri dan berkata bahwa dia sedang tidak enak badan.

Dia berkata, sejak dia melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s., dia merasa seolah-olah malaikat memberinya isyarat serta mengatakan bahwa dia tidak berdosa dan tidak bersalah, jadi dia menunda pengadilan tersebut.

Dia juga berkata, ketika dia mondar mandir di jalan dan sampai di salah satu ujung jalan, dia melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. berkata bahwa dia tidak melakukan apa pun dan semua ini adalah bohong.

Ketika dia berbalik arah dan sampai di ujung jalan lainnya, dia melihat wajah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. berkata bahwa dia tidak melakukan apapun dan semua ini adalah bohong.

Captain Douglas berkata, dia merasa akan menjadi gila jika situasi ini terus terjadi.

Kepala Petuganya menasihatkannya untuk pergi ke ruang tunggu serta menyarankan agar ada polisi pengawas di dekatnya.

Captain Douglas memanggilnya dan mengatakan apa yang dia rasa. Pengawas itu berkata bahwa ini adalah kesalahan Captain Douglas sendiri karena telah mempercayakan saksi utama kepada para ulama yang telah mendoktrinnya dan keterangannya berdasarkan terhadap apa saja yang mereka ajarkan pada saksi utama itu.

Petugas pengawas menyarankan bahwa saksi utama, Abdul Hamid, hendaknya dipanggil lagi ke kantor polisi dan dilihat keterangan apa yang dia berikan.

Captain Douglas mengeluarkan perintah khusus dan Abdul Hamid dibawa ke kantor polisi.

Pada awalnya dia tetap dengan ceritanya serta berkata bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. telah mengirimnya untuk membunuh Dr Martyn Clark.

Akan tetapi kemudian dia mengakui bahwa dia telah berbohong.

Petugas pengawas menyadari bahwa Abdul Hamid takut terhadap para ulama.

Oleh karena itu pengawas itu berkata padanya bahwa dia akan tetap ditahan dan tidak akan kembali ke para ulama itu.

Ini adalah saat ketika dia menyadari kebenarannya.

Ketika para ulama tersebut mengajarkannya untuk memberikan keterangan sesuai dengan cerita karangan mereka, dia (Abdul Hamid—red.) berkata pada mereka bahwa dia akan lupa namanya dan keterangan lainnya.

Oleh karena itu, dia menuliskan keterangan-keterangan terkait tersebut di tangannya.

Setiap kali dia memberikan keterangan, dia akan melihat tangannya untuk menyebutkan suatu nama serta tempat di mana Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. kira-kira telah mengirimnya.

Captain Douglas membebaskan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. pada sidang berikutnya.

Ini semua adalah manifestasi dari tanda-tanda Ilahi dan kepada Captain Douglas juga diperlihatkan manifestasi tanda-tanda lainnya ketika dia mondar-mandir di jalan, yakni dia melihat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. di kedua ujung jalan tersebut seraya berkata bahwa beliau tidak bersalah.

Captain Douglas bercerita kepada Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bahwa suatu kali dia menghibur seorang India di rumahnya yang memintanya untuk menceritakan beberapa pengalaman hidupnya yang luar biasa.

Captain Douglas menceritakan peristiwa tentang Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s..

Pada saat itu, kepala pelayan datang mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.

Ketika orang tersebut hadir, Captain Douglas bertanya, “Anak muda, siapa kamu?”

Anak muda tersebut menjawab, “Anda kenal ayah saya: Ulama Warris Din.”

Captain Douglas berkata, “Ya, saya baru saja menyebutkannya.”

Anak muda tersebut berkata, “Saya baru saja menerima telegram bahwa dia sudah meninggal.”

Warris Din adalah ulama yang telah memulai rekayasa ini untuk menyenangkan Dr. Martyn Clark serta yang telah mengajukan kasus ini.

Namun Allāh Ta‘ālā membukakan kebenarannya kepada Deputy Commissioner dan saksi utamanya juga mengakuinya.

Bagaimanapun juga, bagi putera Warris Din, sampai di rumah Captain Douglas pada saat ketika dia sedang bercerita dengan tentang peristiwa tersebut merupakan suatu kebetulan yang luar biasa.

Captain Douglas menceritakan hal ini kepada Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a.dan hingga dia meninggal, dia terus menceritakannya kepada setiap Ahmadi yang dia temui.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. berkata bahwa ketika beliau berkunjung ke Inggris pada tahun 1924, Captain Douglas berada dalam kondisi yang sehat.

Namun, pada tahun 1953, ketika Captain diundang pada kunjungan beliau r.a. yang kedua [di Inggris], dia menyampaikan permohonan maafnya karena sekarang dia sudah tua dan tidak kuat lagi serta sulit pergi ke mana-mana.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. menyesalkan bahwa mereka mempunyai sebuah mobil dan dapat dikirimkan ke Captain Douglas atau pergi melihatnya pada tahun 1953.

Captain Douglas meninggal dunia tak lama setelah itu.

Ini semua sungguh merupakan manifestasi tanda-tanda yang melaluinya Allah Ta’ala menunjukan kebenaran para Utusan-Nya.

Seorang mukmin hendaknya berupaya serta menjadi seorang mukmin sejati.

Allah Ta’ala pasti akan menciptakan kondisi-kondisi yang akan menyegarkan kembali keimanan seseorang ketika dia dengan tulus berupaya untuk menjadi seorang mukmin sejati.

Dan pada kenyataannya tidak ada kebahagiaan tanpa memiliki keimanan seperti ini. Apa penyebab keimanan tersebut tidak terbuka terhadap seseorang serta membuatnya tetap berada dalam kegelapan?

Seesorang yang buta di dunia ini, juga akan buta di akhirat.

Orang yang tidak menyaksikan tanda-tanda ilahi di dunia ini, juga tidak akan menyaksikannya di akhirat.

Keberlangsungan tanda-tanda ini berlanjut hingga sekarang.

Peristiwa yang disebutkan tadi telah terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu.

Tanda tersebut sekarang sedang muncul lagi pada cucu Captain Douglas yang telah mengirimkan surat bahwa dia ingin baiat.

Dia ingin tahu apa kebaikan yang telah dilakukan oleh kakeknya sehingga telah sangat menginspirasinya sekarang.

Kita tentu telah mendengar cerita cucu Dr. Martyn Clark yang secara terang-terangan berkata bahwa kakeknya itu bersalah dan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. itulah yang benar.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bersabda, seorang mukmin sejati hendaknya senantiasa berdoa dan berdzikir untuk melihat hari ketika Tuhan membukakan kebenaran Islam serta wujud-Nya kepadanya dan dia melihat wajah Rasulullah saw. yang bersinar serta wajah-Nya yang penuh cahaya.

Ketika seseorang mengalami hal ini, maka akan sama saja baginya untuk merasa bahagia dan sedih sepanjang siang-malam serta bertahun-tahun lamanya.

Dia akan selalu merasa senang dan puas terhadap apapun yang terjadi serta tidak akan takut terhadap siapapun.

Selama kasus pengadilan Karamuddin terhadap Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. yang dipimpin oleh seorang hakim beragama Hindu, orang-orang [Hindu] Arya menghasut sang hakim untuk menghukum Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. dan dia pun telah berjanji akan berbuat demikian.

Para Ahmadi sungguh khawatir terhadap hal ini dan menyarankan agar Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. pergi ke suatu tempat di Qadian di mana beliau bisa aman.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. menjawab bahwa beliau a.s. tidak akan sepenuhnya aman di Qadian karena surat tuntutan dapat dikeluarkan kepada beliau di mana pun beliau a.s. berada baik di Qadian ataupun di tempat lain.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. bersabda, “Siapakah yang mampu menyentuh singa Tuhan?”

Kasus pengadilan disampaikan di hadapan dua orang hakim dan mereka berdua mendapatkan hukumannya masing-masing: yang satu diberhentikan sedangkan anak dari hakim yang lainnya sakit jiwa dan bunuh diri dengan melompat dari atap.

Ketika seseorang menjadi milik Tuhan maka segala sesuatu di dunia ini menjadi miliknya.

Sebagaimana disabdakan [sebuah wahyu] oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. dalam bahasa Punjab, artinya, “Jika Anda akan setia terhadap-Ku, seluruh dunia akan menjadi milik Anda. (Tadzkirah, halaman 609, edisi tahun2009)”

Tidak ada satupun hal di dunia ini yang akan merugikan Anda.

Jadilah milik Tuhan dan berdoalah semoga Anda menjadi milik-Nya.

Kondisi ini akan membawa ketentraman bagi Anda dan anak-anak Anda, teman-teman Anda, serta keluarga Anda.

Hendaknya diingat bahwa jika Jemaat tidak berada dalam ketentraman maka setiap orang pun tidak akan berada dalam ketentraman.

Suatu jemaat, baru dapat berada dalam keadaan tentram ketika generasi mudanya juga berada dalam keadaan tentram.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. mengingat hari-hari kasus pengadilan Dr. Martyn Clark.

Beliau r.a. gelisah serta berdoa dan melihat mimpi.

Beliau r.a. melihat bahwa beliau r.a. pulang dari sekolah dan berusaha masuk ke dalam rumah akan tetapi beliau r.a. mendapati polisi yang tak berseragam berada di sana.

Salah satu dari mereka menghentikan beliau r.a. untuk masuk ke dalam rumahnya.

Akan tetapi yang lain berkata, “Dia berasal dari keluarga ini dan biarkanlah dia masuk.”

Beliau r.a. kemudian melihat sebuah ruang bawah tanah di rumah yang telah dibangun oleh kakek beliau.

Beliau r.a. melihat Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. sedang berdiri di ruangan itu yang telah dipenuhi dengan bahan bakar kotoran hewan.

Beberapa polisi melemparkan minyak ke kotoran tersebut untuk menyalakan api.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. mencoba untuk memadamkan api tetapi para polisi itu menangkapnya dan memegangnya.

Kemudian dia melihat tulisan yang indah yang dicetak tebal berikut ini: Siapakah yang dapat menyalakan api terhadap orang yang dicintai oleh Allah!

Terdapat keamanan serta ketentraman bagi para mukmin sejati di dunia ini serta juga di akhirat kelak.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bersabda bahwa beliau r.a. mengalami beberapa peristiwa di dalam kehidupan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. ketika beliau a.s. sama sekali tidak mempunyai kekuatan akan tetapi Allāh Ta‘ālā memberikan perlindungan kepada beliau a.s..

Captain Douglas berkata, dia merasa gelisah bahwa kasus pengadilan itu ternyata palsu.

Jadi akhirnya dia mengambil keputusan dan kebenaran pun terbukti.

Kemudian dia berkata bahwa dia belum pernah melihat seseorang begitu tolerannya seperti Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. yakni ketika diberitahukan bahwa beliau a.s. dapat mengajukan “penghinaan balik” kepada penentang beliau a.s. namun beliau a.s. menolak.

Suatu ketika, para ahmadi tidak diperbolehkan untuk pergi ke mesjid di Qadian.

Pintu mesjid ditutup dan kayu-kayu dipancang di atas tanah sehingga mereka yang pergi ke mesjid akan tersandung karena gelap.

Dan, para Ahmadi juga dilarang untuk pergi ke sumur. Namun, sekarang, ke mana semua penentang itu?

Sekarang anak-anak mereka telah menjadi Ahmadi.

Anak-anak dari mereka yang dulunya berupaya keras untuk menghapuskan Ahmadiyah, namun sekarang secara aktif sedang menyebarkan Jemaat ini.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. suatu kali menceritakan sebuah mimpi beliau yakni beliau a.s. melihat bahwa Qadian telah meluas hingga ke Sungai Bias dan juga dihuni jauh hingga ke sebelah utara.

Padahal, pada saat itu hanya ada 8—10 rumah ahmadi dari keluarga yang serba berkekurangan di sana. Selebihnya tiba sebagai pendatang. Tetapi, Qadian sekarang sudah berkembang.

Sekarang, dengan karunia Allāh Ta‘ālā, Qadian telah meluas lebih jauh lagi dan banyak bangunan indah sedang dibangun di sana baik rumah-rumah pribadi maupun bangunan-bangunan Jemaat.

Kita menyaksikan kota Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. menjadi makmur.

Suatu ketika, seorang penentang beragama Hindu yang rumahnya berdekatan dengan Masjid Aqsa selalu membuat masalah dan berkata bahwa dia merasa terganggu oleh kegaduhan anak-anak dan terlalu banyak orang yang berkumpul di sana.

Dengan perluasan mesjid tersebut, sekarang rumahnya telah menjadi bagian dari mesjid.

Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. bersabda bahwa beliau r.a. mengalami masa ketika Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. diboikot serta ketika orang-orang mencaci-maki serta melempari beliau a.s. dengan batu.

Beliau r.a. bersabda, “Limapuluh lima persen mereka yang duduk di hadapan saya sekarang ini adalah mereka yang dulu menentang, namun kemudian masuk ke dalam Jemaat.”

Beliau r.a. bersabda, setelah Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ I r.a. wafat, terjadi “kehebohan besar” di dalam Jemaat. Akan tetapi apa yang terjadi pada mereka yang membuat kehebohan itu? Mereka menghina seraya berkata, “Kami tidak akan menjadi budak dari anak kecil.”

Namun Tuhan memasukan kebanggaan ke dalam hati mereka dengan berbuat demikian terhadap anak kecil ini sehingga mereka meninggalkan Qadian dan tidak kembali.

Mereka telah membual bahwa 98 persen, Jemaat ada bersama mereka dan hanya dua persen yang ada bersama khilafat.

Akan tetapi sekarang, bahkan dua persen pun tidak ada bersama mereka dan lebih dari 98 persen ada bersama khilafat.

Pada tahun 2014 sekarang, jamaah yang hadir di London pada saat khotbah jumat disampaikan adalah lebih besar daripada jamaah di masa ketika Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. menyampaikan khutbah.

Faktanya, bahkan jemaah di mesjid Fazl London menjadi lebih besar daripada saat Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a..

Ini semua adalah tanda-tanda Ilahi yang senantiasa memberikan dukungan serta keberhasilan. Ini semua adalah tanda-tanda kebenaran Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. serta dukungan ilahi yang dinikmati
oleh Khilafat ini.

Semoga kita senantiasa memperhatikan masalah ini serta dapat meningkatkan keimanan kita serta keimanan anak-anak kita. Āmīn.

_
Penerjemah: Hafizurrahman; editor: R.A. Daeng Mattiro (Kebayoran Lama, 31 Desember 2014)