“INGATLAH ketika para hawari berkata ‘Hai Isa ibnu Maryam adakah Tuhan engkau mampu menurunkan kepada kami hidangan dari langit?’, berkata ia, ‘Bertakwalah kepada Allah swt. jika kamu orang-orang yang beriman.’

“Mereka berkata, ‘Kami ingin makan hidangan itu dan supaya hati kami tenteram dan supaya kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami dan supaya kami dapat menjadi saksi terhadapnya.’

“Berkata Isa ibnu Maryam, ‘Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kapada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu hari raya bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami dan yang datang di belakang kami, dan sebagai Tanda kebenaran dari Engkau, dan berilah kami rezeki dan Engkau-lah sebaik-baik Pemberi rezeki.’

“Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku akan menurunkannya kepadamu; maka, barangsiapa di antaramu ingkar sesudah itu, niscaya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.’ (QS [Al-Mā’idah] 5 : 113—116)”

SETIAP insan menghendaki kebaikan, kebajikan, dan ketenangan untuk dirinya sendiri secara fitrati.

Tiada manusia sebodoh-bodohnya yang menghendaki penderitaan untuk dirinya sendiri.

Tetapi, disebabkan kebodohannya sendiri, sebagian orang yang mencari rasa suka namun mereka terjerumus dalam rasa duka karenanya.

Seseorang mencari ketenangan dan kenyamanan untuk dirinya.

Sebaliknya, itu menjadi faktor penderitaan baginya.

Dia memohon kenikmatan dan itu menjadi azab baginya.

Dia menuntut kemajuan yang menjadi kemerosotan dan dia mencari barang-barang yang bermanfaat, tetapi itu terbukti merugikannya.

Ribuan pandangan seperti ini nampak di dunia bahwa seseorang mencari sesuatu dengan penuh kegembiraan dan harapan tinggi, namun itu menjadi sumber penderitaan untuknya.

Seseorang yang tidak memiliki keturunan, dia sendiri memanjatkan doa-doa, meminta kepada orang-orang untuk didoakan dan dia juga bersedekah dan melakukan sumbangan serta apapun yang bisa ia kerjakan, dia kerjakan.

Tetapi, dia memiliki keturunan jahat yang menjadi faktor terputusnya keturunan baginya.

Dia memang memiliki keturunan, namun keturunannya itu melakukan tindakan-tindakan memalukan sehingga menyebut namanya pun dia menjadi malu.

Betapa bahagianya Muawiyah atas kelahiran Yazid dan dia berpikir, “Anak ini akan menjadi sarana penjunjung kehormatan untukku.”

Tetapi, Yazid telah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak menyenangkan sehingga saat ini tidak ada orang yang dapat mengatakan, “Aku adalah keturunan Muawiyah.”

Mengapa?

Di antara dia terdapat tali kerabat orang jahat, yang menyebabkan reputasi mereka tercemar.

Dialah Yazid yang digambarkan sebagai penerus keturunan dan faktor kehormatan, tetapi itu menjadi sumber malapetaka dan kehancuran untuknya.

Seseorang memang mengharapkan kebahagiaan-kebahagiaan mutlak dan menganggap sesuatu bermanfaat baginya.

Namun, itu menjadi sumber kehancuran untuknya.

Petikan dari khotbah nikah Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Mushlih Mau’ud-dan-Khalifatul Masih II r.a. yang disampaikan pada tanggal 24 Agustus 1914 di lapangan terbuka Masjid Nur Qadian; penerjemah adalah anonim atau tidak dicantumkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *