Muballigh Maulana Iskandar Ahmad Gumay sedang berkeliling ke rumah-rumah warga Muslim Ahmadi di cabang Kebayoran, Selasa (16/12) siang.

Maulana Iskandar tengah membimbing Amiruddin yang sedang mengupdate data tajnid sekalian mengurusi kartu AIMS.

“Tugas baru dari Pak Amir Nasional nih!” kata Maulana Gumay.


Muballigh Maulana Iskandar Ahmad Gumay sedang berkeliling ke rumah-rumah warga Muslim Ahmadi di cabang Kebayoran, Selasa (16/12) siang.

Maulana Iskandar tengah membimbing Amiruddin yang sedang mengupdate data tajnid sekalian mengurusi kartu AIMS.

“Tugas baru dari Pak Amir Nasional nih!” kata Maulana Gumay.

petikan khotbah jumat khalifah jamaah Muslim Ahmadiyah tanggal 28 November 2014

BERIKUT merupakan petikan khotbah jumat Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Khalīfatu’l-Masīḥ Mirza Masroor Ahmad (Ḥuḍūr) atba. tanggal 28 Nopember 2014.

Topiknya bermula dari “Percaya dan bersandar sepenuhnya kepada Allāh Ta‘ālā.”

Di awal khoṭbah, usai mengucap dua kalimah syahadat, ta‘awudz, dan QS Al-Fātiḥah, Ḥuḍūr atba. antara bersabda sambil mengutip sabda Ḥarat Masīh Mau‘ūd a.s.:

“Haruslah diingat bahwa hanya Allāh Ta‘ālā yang benar-benar memiliki kewenangan untuk memberikan pertolongan saat pertolongan tersebut diminta.”

Artinya, ketika bantuan tersebut dibutuhkan hanya Allāh-lah, yang betul-betul mempunyai kuasa untuk membantu, dan memberikan bantuan tersebut.

Inilah poin terpenting yang orang mukmin harus senantiasa perhatikan apa pertolongan yang diminta itu sifatnya pribadi maupun kolektif.

Namun pada prakteknya, orang-orang tidak menaruh banyak perhatian terhadap hal itu sebagaimana mestinya.

Sebagian besar dari kita mengatakan bahwa kebutuhan kita terpenuhi karena rahmat Allāh Ta‘ālā.

Akan tetapi, apabila kita merenungkan perkataan kita secara mendalam, kita akan menyadari bahwa kita mempertimbangkan berbagai macam sarana sebagai sumber untuk menyelesaikan tugas-tugas kita.

Selanjutnya Ḥuḍūr atba. mengutip cerita dari Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. tentang beberapa kejadian yang berkenaan dengan itu dan menggambarkan bahwa manusia mengira jika ia meraih tujuannya melalui pertolongan dan bantuan dari berbagai macam orang atau melalui kerja kerasnya sendiri.

Inilah cara mula bagaimana manusia berpikir.

Bahkan, apabila ia memenuhi semua kebutuhannya dengan menggunakan daya, pengetahuan, dan intelektualnya, ia merasa telah memecahkan semua masalahnya itu dengan kemampuan dan kekuatannya, sehingga dengan angkuh serta congkaknya mengira bahwa ia tidak perlu meminta pertolongan siapapun.

Namun, ada saatnya ketika ia tidak dapat mengurus dirinya sendiri dan memerlukan bantuan orang lain.

Maka ia mencari pertolongan dari keluarga dan kerabatnya, lalu mereka pun membantunya.

Hal ini yang kemudian membuatnya sadar bahwa keluarga dan kerabatnya begitu berarti.

Setelah itu ada saatnya ketika keluarga dan kerabatnya tidak mampu menolongnya bahkan tidak mau membantunya sama sekali.

Maka, ia beralih kepada sahabat dan kenalannya dan ia meminta pertolongan mereka dan mereka pun menolongnya.

Lalu ia menyadari bahwa sahabat dan kenalannya tersebut begitu baik dan mau membantu saat dibutuhkan.

Kemudian tiba juga saatnya ketika para sahabatnya itu mencari-cari alasan, baik alasan yang dikemukakan mereka masuk akal atau hanya sekedar ingin mengusirnya saja, yang jelas mereka tidak bisa membantunya.

Maka, manusia beralih kepada komunitas (Jemaat) yang dimilikinya, lalu komunitas itu pun menolongnya.

Ketika tugasnya terpenuhi, ia pun menyadari bahwa inilah untungnya bergabung dengan sebuah komunitas (Jemaat), hingga ikatannya dengan komunitas (Jemaat) tersebut tumbuh.

Kendati demikian akan dijumpai juga saat beberapa orang tersandung hanya karena Jemaat tidak bisa membantu ketika mereka meminta pertolongan.

Tibalah waktu dalam kehidupan mereka, saat di mana keluarga, sahabat bahkan komunitas mereka—disebabkan beberapa kendala—tidak bisa menolong mereka.

Maka, inilah saatnya mereka berpaling kepada pemerintah dan pemerintah pun menolong mereka.

Pada saat itu pemerintah merupakan segala-galanya dan akhir segala-galanya bagi orang-orang tersebut.

Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika pemerintah pun tidak bisa menolong mereka, dan mereka merasa tidak memperoleh hak-hak mereka.

Maka, saat itu mereka pergi kepada orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan dan sifat kedermawanan yang menolong mereka.

Manusia beranggapan bahwa organisasi-organisasi sosial dan kemanusiaan dunia menolongnya di saat sudah tidak ada seorang pun lagi yang mampu melakukannya, dan setelah organisasi-organisasi tersebut tidak bisa menolongnya, ia telah kehilangan hak-haknya.

Dewasa ini banyak organisasi hak asasi manusia berkerja pada dua level, nasional serta internasional, dan terlibat dalam peperangan secara hukum dengan pemerintah.

Mereka bisa dan mampu memberikan tekanan internasional kepada pemerintah.

Beberapa dari organisasi tersebut melakukan pekerjaan dengan sangat baik.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa tiba saatnya ketika upaya dan rencana kita tidak ada satu pun yang berhasil atau tidak ada satu pun pertolongan dari keluarga, sahabat, dan komunitasnya, serta pemerintah maupun organisasi hak asasi manusia.

Akan tetapi, bila kita masih bisa meraih tujuan kita maka kita berpikir bahwa sumber dari kesuksesan tersebut adalah yang gaib.

Semakin banyak kita percaya terhadap pertolongan dari yang gaib, maka kita mengatributkan (mengaitkan) kesuksesan tersebut dengan Allāh Ta‘ālā.

Berbicara mengenai organisasi sosial dan kemanusiaan, para Ahmadi sekarang ini mengetahui tentang organisasi tersebut dan mereka terperangkap di berbagai negara di dunia menunggu kasus suaka mereka.

Banyak organisasi semacam itu, bahkan salah satu organisasi terbesar yang bekerja di bawah naungan PBB mencoba untuk menolongnya, tapi pada waktu itu pemerintah tidak juga mendengarkan mereka.

Bagaimanapun, saat pekerjaan kita terselesaikan maka dalam keadaan demikian kita merasakan pertolongan telah datang dari yang gaib dan apabila kita yakin dengan Allāh Ta‘ālā maka kita memandang bahwa pertolongan tersebut merupakan pertolongan dari Allāh Ta‘ālā.

Dengan keyakinan yang penuh terhadap Allāh Ta‘ālā, kita pun mengaitkan kesuksesan dari pekerjaan tersebut kepada Allāh Ta‘ālā yang tercapai melalui pertolongan dari luar.

Kita juga mengetahui dengan baik bahwa pertolongan yang datang dari keluarga, sahabat, komunitas, pemerintah, maupun organisasi sosial dan kemanusiaan sebenarnya dari Allāh Ta‘ālā dan di balik semua sumber pertolongan yang nyata itu ada tangan Allāh Ta‘ālā.

Mereka yang tidak memiliki hubungan yang kuat dengan menganggap sarana-sarana duniawi adalah segala-galanya dan ketika semua sarana-sarana tersebut gagal, barulah mereka ingat kepada Allāh Ta‘ālā.

Mereka ingat Allāh Ta‘ālā karena mereka tidak ada pilihan sama sekali dan di saat seperti itulah mereka baru berteriak-teriak kepada Allāh Ta‘ālā memohon pertolongan-Nya dan mengakui-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hal ini menunjukan kepada kita bahwa tidak perduli seberapa berkuasanya mereka yang pasti, pemerintahan dan organisasi memiliki kekuasaan yang terbatas.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya ketika semuanya gagal bahkan mereka tidak mempunyai hubungan yang erat dengan Allāh Ta‘ālā, mereka akan mencari-Nya.

Al-Qur’ān Karīm pun mengatakan bahwa ketika dalam keputusasaan orang kafir dan musyrik pun menyeru kepada Allāh Ta‘ālā dengan keputusasaan mereka.

Al-Qur’ān mengatakan, “Dan apabila kemudaratan menimpa di lautan, sia-sialah siapa saja yang kamu seru selain Dia. Tetapi apabila Dia menyalamatkanmu sampai ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia sangat tidak berterima kasih. (QS [Banī Isrā’īl] 17:68)”

Allāh Ta‘ālā berfirman bahwa ketika terjebak dalam badai dan dalam kesulitan manusia menyeru kepada Allāh Ta‘ālā namun setelah itu melupakan-Nya.

Adalah sifat alami manusia untuk kembali kepada Allāh Ta‘ālā dengan kerendahan hati dan doa yang mendalam bahwa apabila permasalahannya diselesaikan ia akan selalu menganggap Allāh Ta‘ālā sebagai sumber bantuan.

Namun, begitu manusia lepas dari bahaya ia kembali kepada keduniawiaan dan keangkuhan.

Manusia memang tidak tahu berterimakasih dan rahmat Allāh Ta‘ālā tak terbatas.

Selanjutnya bersumber dari Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a., Ḥuḍūr atba. meriwayatkan bahwa sebuah gempa bumi melanda sesuai dengan nubuatan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. mengenai gempa bumi.

Seorang mahasiswa kedokteran di Lahore yang biasa berdebat sengit menentang keberadaan Tuhan kala itu.

Ketika terjadi gempa ia merasa seakan langit-langit akan runtuh dan ia meyakini bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menyelamatkannya.

Dengan seketika ia berteriak, “Rām, Rām!”

Latar belakangnya adalah agama Hindu.

Keesokan harinya rekan-rekannya bertanya tentang apa yang terjadi padanya kemarin padahal ia tidak percaya kepada Tuhan.

Ia menjawab bahwa ia tidak mengetahui apa yang terjadi, tapi ia telah kehilangan kesadarannya.

Benar bahwa hanya pada saat ia berada dalam kesadaranlah ia akan melihat bahwa hanya Dia-lah sumber pertolongan!

Selama manusia masih melihat sumber-sumber bantuan yang lainnya ia akan tertarik kepada sumber-sumber tersebut, dan selama sumber-sumber yang lainnya itu terbukti baginya ia akan menyanjungnya dengan tujuan untuk meremehkan yang lainnya dihadapannya.

Namun ketika ia melihat tidak ada sumber bantuan lainnya, ia akan menyeru kepada Allāh Ta‘ālā!

Hadhrat Mushlīh Mau‘ūd r.a. mengaitkan insiden lain untuk menggambarkan hal ini.

Pada tahun 1918 selama Perang Dunia I, Jerman menyerang Pasukan Sekutu dengan kekuatan besar dan tiba saatnya ketika Pasukan Sekutu berada dalam bahaya yang sangat besar.

Tujuh mil panjangnya lini pertahanan mereka hancur dan sebuah celah terbentuk di pertahanan mereka di mana Jerman dapat menyerang dan menghancurkan mereka.

Jendral komandan garis depan berkata kepada Panglima tertinggi bahwa ia tidak memiliki tenaga kerja untuk memperbaiki lini pertahanan yang rusak dan situasi tersebut terlalu sulit baginya.

Ia merasa bahwa mereka akan dihancurkan, dan Perancis serta Inggris akan dilenyapkan.

Pada saat telegram dikirim Perdana Menteri sedang memimpin rapat penting dengan para menterinya.

Tidak ada yang bisa ia lakukan.

Meskipun ada cadangan pasukan namun mereka tidak bisa mengerahkannya saat itu juga.

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. mengatakan bahwa kendati negara-negara Eropa mengikuti agama Kristen, namun setelah dicermati lebih dekat kita mendapati keimanan mereka kosong dan orang-orangnya sangat matrealistis.

Tentu saja negara-negara Eropa yang matrealistis sangat bangga dengan sumber dayanya kala itu dan pemerintahannya yang arogan, bagaimanapun juga karena mereka memiliki kekuatan.

Pada waktu itu pemimpin tertinggi mereka yang amat sangat berpengaruh dan berkuasa merasa bahwa tidak ada lagi jalan keluar.

Ia berpaling kepada rekan-rekannya dan berkata marilah kita kembali kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya.

Dan mereka pun berlutut untuk berdoa.

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. bersabda sungguh ajaib bahwa mereka terselamatkan akibat dari doa mereka.

Sama seperti yang disebutkan ayat Al-Qur’ān di atas yang menyatakan bahwa ketika berada dalam kesulitan hanya pertolongan Allāh Ta‘ālā-lah yang berguna saat orang lain meninggalkan kita.

Dikatakan juga bahwa Allāh Ta‘ālā mendengarkan doa orang yang teraniaya meskipun itu orang kafir (atheis).

Hari ini orang-orang kafir kembali kepada Allāh Ta‘ālā setelah mengalami tanda-tanda itu namun apabila mereka berusaha untuk berhadapan dengan Rasul Allāh atau jemaat-Nya maka tidak perduli seberapa banyak mereka teraniaya yang pasti doa-doa mereka tidak akan diterima karena mereka bertentangan dengan keputusan Allāh Ta‘ālā.

Dalam sejarah Perang Dunia I pasukan Jerman tidak mengetahui sama sekali bahwa lini pertahanan musuh rusak sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

Selanjutnya Panglima tertinggi Pasukan Sekutu memanggil perwiranya dan memberitahukan mengenai situasi yang genting itu dan memerintahkannya untuk membuat kesepakatan.

Perwira tersebut tidak menanyakan usulan yang nampaknya mustahil itu dan beranjak ke tempat di mana para pekerja sipil kemiliteran bekerja.

Ia mengumpulkan mereka dan berkata bahwa mereka masih sangat antusias dan bersemangat untuk melayani negara, sekarang adalah kesempatan mereka untuk maju ke medan tempur.

Ia melengkapi mereka dengan senjata dan mengerahkan ribuan warga sipil tersebut ke garis depan untuk melindungi pertahanan tersebut.

Duapuluh empat jam dilalui mereka sebelum akhirnya balabantuan tentara pun tiba.

Maksud dari cerita ini adalah bahwa bahkan orang-orang duniawi yang materialistis sekalipun berpegang kepada Tuhan ketika semuanya gagal.

Dan, jika mereka melakukan hal tersebut berapa banyak lagi yang harus mereka kembalikan kepada Tuhan agar semuanya ditarik kepada Tuhan setiap saat!

Inilah sebabnya mengapa Allāh Ta‘ālā mengajarkan kita doa supaya perhatian kita tidak pernah berpaling dari Allāh Ta‘ālā dan kita tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan sarana-sarana duniawi di hadapan Allāh Ta‘ālā.

Memang, Allāh Ta‘ālā menyuruh untuk merencanakan segala sesuatunya dan mempraktekan rencana tersebut, namun kita harus percaya dan bersandar hanya kepada Allāh Ta‘ālā.

Kita seharusnya tidak kembali kepada Allāh Ta‘ālā hanya apabila ketika semuanya gagal.

Bahkan, Allāh Ta‘ālā telah mengajarkan kita sebuah doa yang diucapkan dalam setiap shalat, “Hanya Engkau lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan. (QS [Al-Fātiḥah] 1:5)”

Allāh Ta‘ālā menyatakan bahwa ayat ini merupakan hubungan yang saling menguntungkan antara Tuhan dengan hamba-Nya dan Dia akan memberikan anugerah kepada orang yang memohon kepada-Nya.

Jaminan Allāh Ta‘ālā tersebut menjadi terus-menerus ketika seseorang senantiasa mengarahkan perhatiannya kepada Allāh Ta‘ālā dan tidak hanya semata-mata kembali kepada-Nya di saat ada masalah.

Kita hendaknya selalu ingat bahwa sebagai Ahmadi yang telah baiat kepada Imam zaman dan telah berjanji untuk menjalani kehidupan kita demi mencari ridha Allāh Ta‘ālā dan berpaling kepada Allāh Ta‘ālā baik dalam keadaan duka maupun suka sangat perlu sekali untuk memahami pokok kalimat dari “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Kita harus merenung dan melihat apa yang harus kita lakukan dan apa yang sedang kita lakukan.

Apakah standar ibadah dan memohon pertolongan kita kepada Allāh Ta‘ālā sesuai dengan yang Allāh Ta‘ālā perintahkan atau apakah kita hanya mengulangi “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” tigapuluh dua kali sehari tidak lebih seperti layaknya burung beo!

Kita harus ingat bahwa kita sangat lemah dan musuh kita begitu kuat.

Kita tidak memiliki sumber daya atau alat dan sarana-sarana apapun selain berpaling kepada Allāh Ta‘ālā dan mampu memahami ruh dari “Hanya Engkau lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Serangan setan di dunia ini melampaui batas. Kesusahan di mana-mana dibuat untuk kita. Permusuhan dari orang-orang yang mengaku diri mereka Islam semakin kuat juga rasa dengki dari orang-orang non-Islam.

Mereka merasa iri hati dari cara mereka mengulas tentang Jemaat.

Sepintas rasa kedengkian terhadap Jemaat tersebut bisa terlihat di media Jerman.

Insyā’ Allāh yang menentang dan iri hati terhadap kita akan ditelan oleh apinya sendiri, tapi kita tidak boleh melupakan kewajiban kita. Kalau tidak, kita tidak memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan para penentang tersebut.

Kita harus selalu ingat bahwa ketika Allāh Ta‘ālā datang untuk menolong seseorang, tidak ada kekuatan duniawi yang bisa menghentikan keberhasilan yang Dia berikan.

Pertolongan Allāh Ta‘ālā amat luas dan kekuasaan-Nya tak ada habisnya.

Begitupun wujud-Nya maupun sifat-Nya tidak bisa dibatasi dengan cara apapun.

Dan setiap Ahmadi harus berpaling ke arah-Nya dan mencari pertolongan-Nya.

Bukan hanya untuk para Ahmadi Pakistan atau para Ahmadi dari negara yang sedang menghadapi kesulitan yang perlu berpaling untuk meminta pertolongan Allāh Ta‘ālā.

Tapi setiap Ahmadi yang ada di seluruh belahan dunia harus melakukannya.

Jemaat kita memiliki ikatan yang kuat sebagaimana memang mestinya.

Inilah yang berbeda dalam Jemaat kita.

Setiap orang harus saling mendoakan satu dengan yang lainnya supaya pertolongan Allāh Ta‘ālā bersama dengan para setiap Ahmadi, kapan pun dan di mana pun.

Jika hal tersebut menjadi ketetapan kita, kita akan mengalami pertolongan Ilahi yang luar biasa.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. pernah bersabda, mengingat Allāh Ta‘ālā tidak membutuhkan apa-apa. Dia tidak memperdulikan apapun kecuali doa yang dipanjatkan dengan berlimpah ruah dan berulang-ulang.

Di dalamnya ada rahasia kesuksesan kita.

Apa pun kesulitan kita, entah itu dari kelompok atau pemerintah atau mungkin media yang digunakan untuk melawan kita ataupun sumber daya lainnya, semoga Allāh Ta‘ālā menolong kita melawan semuanya.

Kita jangan mengharapkan pertolongan dari keempat sumber tersebut karena memang seperti itu harusnya.

Kita harus berdoa jikalau kita tersesat hingga mengakibatkan menjauhnya pertolongan Allāh Ta‘ālā.

Semoga Allāh Ta‘ālā menyayangi dan mengampuni kita, menjauhkan kita dari kemurkaan-Nya, dan memasukan kita ke dalam kelompok orang-orang yang: [i] selalu disirami rahmat dan berkat-Nya; serta, [ii] yang memiliki wawasan dan persepsi yang benar mengenai Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. bersabda, “Lihatlah, Allāh Ta‘ālā mengajarkan tentang ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah.

“Hal ini mungkin dikarenakan bahwa manusia telah bergantung pada kekuatannya dan menjauhkan dirinya dari Allāh Ta‘ālā.

“Oleh karena itu, ajaran ‘Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan’ diberikan secara bersamaan.

“Janganlah menganggap bahwa Anda melaksanakan ibadah Anda kepada Allāh Ta‘ālā dengan kekuatan Anda sendiri. Sama sekali bukan!

“Sebaliknya, tanpa bantuan Allāh Ta‘ālā, kecuali jika Tuhan Yang Maha Kudus menghendaki dan meridhai, tidak ada yang bisa terjadi.”

Kita harus selalu menyimpan kenyataan yang penting tersebut dalam ingatan kita.

Semoga Allāh Ta‘ālā meridhai kita untuk melakukannya!

Sebuah peringatan agar berdoa telah diberikan. Dunia akan mengalami perubahan dengan cepat.

Semoga Allāh Ta‘ālā menjadikannya sumber kemajuan bagi Jemaat. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa menyembah-Nya dan orang-orang yang dianugerahi pertolongan-Nya dan terus menerus dianugerahi-Nya. «»

_

Penerjemah: Yusuf Awwab; Warungkiara, 29 Nopember 2014

Sumber: Alislam.org;

video

editor: R.A. Daeng Mattiro

petikan khotbah jumat khalifah jamaah Muslim Ahmadiyah tanggal 28 November 2014

BERIKUT merupakan petikan khotbah jumat Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Khalīfatu’l-Masīḥ Mirza Masroor Ahmad (Ḥuḍūr) atba. tanggal 28 Nopember 2014.

Topiknya bermula dari “Percaya dan bersandar sepenuhnya kepada Allāh Ta‘ālā.”

Di awal khoṭbah, usai mengucap dua kalimah syahadat, ta‘awudz, dan QS Al-Fātiḥah, Ḥuḍūr atba. antara bersabda sambil mengutip sabda Ḥarat Masīh Mau‘ūd a.s.:

“Haruslah diingat bahwa hanya Allāh Ta‘ālā yang benar-benar memiliki kewenangan untuk memberikan pertolongan saat pertolongan tersebut diminta.”

Artinya, ketika bantuan tersebut dibutuhkan hanya Allāh-lah, yang betul-betul mempunyai kuasa untuk membantu, dan memberikan bantuan tersebut.

Inilah poin terpenting yang orang mukmin harus senantiasa perhatikan apa pertolongan yang diminta itu sifatnya pribadi maupun kolektif.

Namun pada prakteknya, orang-orang tidak menaruh banyak perhatian terhadap hal itu sebagaimana mestinya.

Sebagian besar dari kita mengatakan bahwa kebutuhan kita terpenuhi karena rahmat Allāh Ta‘ālā.

Akan tetapi, apabila kita merenungkan perkataan kita secara mendalam, kita akan menyadari bahwa kita mempertimbangkan berbagai macam sarana sebagai sumber untuk menyelesaikan tugas-tugas kita.

Selanjutnya Ḥuḍūr atba. mengutip cerita dari Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūd r.a. tentang beberapa kejadian yang berkenaan dengan itu dan menggambarkan bahwa manusia mengira jika ia meraih tujuannya melalui pertolongan dan bantuan dari berbagai macam orang atau melalui kerja kerasnya sendiri.

Inilah cara mula bagaimana manusia berpikir.

Bahkan, apabila ia memenuhi semua kebutuhannya dengan menggunakan daya, pengetahuan, dan intelektualnya, ia merasa telah memecahkan semua masalahnya itu dengan kemampuan dan kekuatannya, sehingga dengan angkuh serta congkaknya mengira bahwa ia tidak perlu meminta pertolongan siapapun.

Namun, ada saatnya ketika ia tidak dapat mengurus dirinya sendiri dan memerlukan bantuan orang lain.

Maka ia mencari pertolongan dari keluarga dan kerabatnya, lalu mereka pun membantunya.

Hal ini yang kemudian membuatnya sadar bahwa keluarga dan kerabatnya begitu berarti.

Setelah itu ada saatnya ketika keluarga dan kerabatnya tidak mampu menolongnya bahkan tidak mau membantunya sama sekali.

Maka, ia beralih kepada sahabat dan kenalannya dan ia meminta pertolongan mereka dan mereka pun menolongnya.

Lalu ia menyadari bahwa sahabat dan kenalannya tersebut begitu baik dan mau membantu saat dibutuhkan.

Kemudian tiba juga saatnya ketika para sahabatnya itu mencari-cari alasan, baik alasan yang dikemukakan mereka masuk akal atau hanya sekedar ingin mengusirnya saja, yang jelas mereka tidak bisa membantunya.

Maka, manusia beralih kepada komunitas (Jemaat) yang dimilikinya, lalu komunitas itu pun menolongnya.

Ketika tugasnya terpenuhi, ia pun menyadari bahwa inilah untungnya bergabung dengan sebuah komunitas (Jemaat), hingga ikatannya dengan komunitas (Jemaat) tersebut tumbuh.

Kendati demikian akan dijumpai juga saat beberapa orang tersandung hanya karena Jemaat tidak bisa membantu ketika mereka meminta pertolongan.

Tibalah waktu dalam kehidupan mereka, saat di mana keluarga, sahabat bahkan komunitas mereka—disebabkan beberapa kendala—tidak bisa menolong mereka.

Maka, inilah saatnya mereka berpaling kepada pemerintah dan pemerintah pun menolong mereka.

Pada saat itu pemerintah merupakan segala-galanya dan akhir segala-galanya bagi orang-orang tersebut.

Akan tetapi, akan tiba saatnya ketika pemerintah pun tidak bisa menolong mereka, dan mereka merasa tidak memperoleh hak-hak mereka.

Maka, saat itu mereka pergi kepada orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan dan sifat kedermawanan yang menolong mereka.

Manusia beranggapan bahwa organisasi-organisasi sosial dan kemanusiaan dunia menolongnya di saat sudah tidak ada seorang pun lagi yang mampu melakukannya, dan setelah organisasi-organisasi tersebut tidak bisa menolongnya, ia telah kehilangan hak-haknya.

Dewasa ini banyak organisasi hak asasi manusia berkerja pada dua level, nasional serta internasional, dan terlibat dalam peperangan secara hukum dengan pemerintah.

Mereka bisa dan mampu memberikan tekanan internasional kepada pemerintah.

Beberapa dari organisasi tersebut melakukan pekerjaan dengan sangat baik.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa tiba saatnya ketika upaya dan rencana kita tidak ada satu pun yang berhasil atau tidak ada satu pun pertolongan dari keluarga, sahabat, dan komunitasnya, serta pemerintah maupun organisasi hak asasi manusia.

Akan tetapi, bila kita masih bisa meraih tujuan kita maka kita berpikir bahwa sumber dari kesuksesan tersebut adalah yang gaib.

Semakin banyak kita percaya terhadap pertolongan dari yang gaib, maka kita mengatributkan (mengaitkan) kesuksesan tersebut dengan Allāh Ta‘ālā.

Berbicara mengenai organisasi sosial dan kemanusiaan, para Ahmadi sekarang ini mengetahui tentang organisasi tersebut dan mereka terperangkap di berbagai negara di dunia menunggu kasus suaka mereka.

Banyak organisasi semacam itu, bahkan salah satu organisasi terbesar yang bekerja di bawah naungan PBB mencoba untuk menolongnya, tapi pada waktu itu pemerintah tidak juga mendengarkan mereka.

Bagaimanapun, saat pekerjaan kita terselesaikan maka dalam keadaan demikian kita merasakan pertolongan telah datang dari yang gaib dan apabila kita yakin dengan Allāh Ta‘ālā maka kita memandang bahwa pertolongan tersebut merupakan pertolongan dari Allāh Ta‘ālā.

Dengan keyakinan yang penuh terhadap Allāh Ta‘ālā, kita pun mengaitkan kesuksesan dari pekerjaan tersebut kepada Allāh Ta‘ālā yang tercapai melalui pertolongan dari luar.

Kita juga mengetahui dengan baik bahwa pertolongan yang datang dari keluarga, sahabat, komunitas, pemerintah, maupun organisasi sosial dan kemanusiaan sebenarnya dari Allāh Ta‘ālā dan di balik semua sumber pertolongan yang nyata itu ada tangan Allāh Ta‘ālā.

Mereka yang tidak memiliki hubungan yang kuat dengan menganggap sarana-sarana duniawi adalah segala-galanya dan ketika semua sarana-sarana tersebut gagal, barulah mereka ingat kepada Allāh Ta‘ālā.

Mereka ingat Allāh Ta‘ālā karena mereka tidak ada pilihan sama sekali dan di saat seperti itulah mereka baru berteriak-teriak kepada Allāh Ta‘ālā memohon pertolongan-Nya dan mengakui-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hal ini menunjukan kepada kita bahwa tidak perduli seberapa berkuasanya mereka yang pasti, pemerintahan dan organisasi memiliki kekuasaan yang terbatas.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya ketika semuanya gagal bahkan mereka tidak mempunyai hubungan yang erat dengan Allāh Ta‘ālā, mereka akan mencari-Nya.

Al-Qur’ān Karīm pun mengatakan bahwa ketika dalam keputusasaan orang kafir dan musyrik pun menyeru kepada Allāh Ta‘ālā dengan keputusasaan mereka.

Al-Qur’ān mengatakan, “Dan apabila kemudaratan menimpa di lautan, sia-sialah siapa saja yang kamu seru selain Dia. Tetapi apabila Dia menyalamatkanmu sampai ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia sangat tidak berterima kasih. (QS [Banī Isrā’īl] 17:68)”

Allāh Ta‘ālā berfirman bahwa ketika terjebak dalam badai dan dalam kesulitan manusia menyeru kepada Allāh Ta‘ālā namun setelah itu melupakan-Nya.

Adalah sifat alami manusia untuk kembali kepada Allāh Ta‘ālā dengan kerendahan hati dan doa yang mendalam bahwa apabila permasalahannya diselesaikan ia akan selalu menganggap Allāh Ta‘ālā sebagai sumber bantuan.

Namun, begitu manusia lepas dari bahaya ia kembali kepada keduniawiaan dan keangkuhan.

Manusia memang tidak tahu berterimakasih dan rahmat Allāh Ta‘ālā tak terbatas.

Selanjutnya bersumber dari Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a., Ḥuḍūr atba. meriwayatkan bahwa sebuah gempa bumi melanda sesuai dengan nubuatan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. mengenai gempa bumi.

Seorang mahasiswa kedokteran di Lahore yang biasa berdebat sengit menentang keberadaan Tuhan kala itu.

Ketika terjadi gempa ia merasa seakan langit-langit akan runtuh dan ia meyakini bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menyelamatkannya.

Dengan seketika ia berteriak, “Rām, Rām!”

Latar belakangnya adalah agama Hindu.

Keesokan harinya rekan-rekannya bertanya tentang apa yang terjadi padanya kemarin padahal ia tidak percaya kepada Tuhan.

Ia menjawab bahwa ia tidak mengetahui apa yang terjadi, tapi ia telah kehilangan kesadarannya.

Benar bahwa hanya pada saat ia berada dalam kesadaranlah ia akan melihat bahwa hanya Dia-lah sumber pertolongan!

Selama manusia masih melihat sumber-sumber bantuan yang lainnya ia akan tertarik kepada sumber-sumber tersebut, dan selama sumber-sumber yang lainnya itu terbukti baginya ia akan menyanjungnya dengan tujuan untuk meremehkan yang lainnya dihadapannya.

Namun ketika ia melihat tidak ada sumber bantuan lainnya, ia akan menyeru kepada Allāh Ta‘ālā!

Hadhrat Mushlīh Mau‘ūd r.a. mengaitkan insiden lain untuk menggambarkan hal ini.

Pada tahun 1918 selama Perang Dunia I, Jerman menyerang Pasukan Sekutu dengan kekuatan besar dan tiba saatnya ketika Pasukan Sekutu berada dalam bahaya yang sangat besar.

Tujuh mil panjangnya lini pertahanan mereka hancur dan sebuah celah terbentuk di pertahanan mereka di mana Jerman dapat menyerang dan menghancurkan mereka.

Jendral komandan garis depan berkata kepada Panglima tertinggi bahwa ia tidak memiliki tenaga kerja untuk memperbaiki lini pertahanan yang rusak dan situasi tersebut terlalu sulit baginya.

Ia merasa bahwa mereka akan dihancurkan, dan Perancis serta Inggris akan dilenyapkan.

Pada saat telegram dikirim Perdana Menteri sedang memimpin rapat penting dengan para menterinya.

Tidak ada yang bisa ia lakukan.

Meskipun ada cadangan pasukan namun mereka tidak bisa mengerahkannya saat itu juga.

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. mengatakan bahwa kendati negara-negara Eropa mengikuti agama Kristen, namun setelah dicermati lebih dekat kita mendapati keimanan mereka kosong dan orang-orangnya sangat matrealistis.

Tentu saja negara-negara Eropa yang matrealistis sangat bangga dengan sumber dayanya kala itu dan pemerintahannya yang arogan, bagaimanapun juga karena mereka memiliki kekuatan.

Pada waktu itu pemimpin tertinggi mereka yang amat sangat berpengaruh dan berkuasa merasa bahwa tidak ada lagi jalan keluar.

Ia berpaling kepada rekan-rekannya dan berkata marilah kita kembali kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya.

Dan mereka pun berlutut untuk berdoa.

Ḥaḍrat Muṣlīḥ Mau‘ūd r.a. bersabda sungguh ajaib bahwa mereka terselamatkan akibat dari doa mereka.

Sama seperti yang disebutkan ayat Al-Qur’ān di atas yang menyatakan bahwa ketika berada dalam kesulitan hanya pertolongan Allāh Ta‘ālā-lah yang berguna saat orang lain meninggalkan kita.

Dikatakan juga bahwa Allāh Ta‘ālā mendengarkan doa orang yang teraniaya meskipun itu orang kafir (atheis).

Hari ini orang-orang kafir kembali kepada Allāh Ta‘ālā setelah mengalami tanda-tanda itu namun apabila mereka berusaha untuk berhadapan dengan Rasul Allāh atau jemaat-Nya maka tidak perduli seberapa banyak mereka teraniaya yang pasti doa-doa mereka tidak akan diterima karena mereka bertentangan dengan keputusan Allāh Ta‘ālā.

Dalam sejarah Perang Dunia I pasukan Jerman tidak mengetahui sama sekali bahwa lini pertahanan musuh rusak sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

Selanjutnya Panglima tertinggi Pasukan Sekutu memanggil perwiranya dan memberitahukan mengenai situasi yang genting itu dan memerintahkannya untuk membuat kesepakatan.

Perwira tersebut tidak menanyakan usulan yang nampaknya mustahil itu dan beranjak ke tempat di mana para pekerja sipil kemiliteran bekerja.

Ia mengumpulkan mereka dan berkata bahwa mereka masih sangat antusias dan bersemangat untuk melayani negara, sekarang adalah kesempatan mereka untuk maju ke medan tempur.

Ia melengkapi mereka dengan senjata dan mengerahkan ribuan warga sipil tersebut ke garis depan untuk melindungi pertahanan tersebut.

Duapuluh empat jam dilalui mereka sebelum akhirnya balabantuan tentara pun tiba.

Maksud dari cerita ini adalah bahwa bahkan orang-orang duniawi yang materialistis sekalipun berpegang kepada Tuhan ketika semuanya gagal.

Dan, jika mereka melakukan hal tersebut berapa banyak lagi yang harus mereka kembalikan kepada Tuhan agar semuanya ditarik kepada Tuhan setiap saat!

Inilah sebabnya mengapa Allāh Ta‘ālā mengajarkan kita doa supaya perhatian kita tidak pernah berpaling dari Allāh Ta‘ālā dan kita tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan sarana-sarana duniawi di hadapan Allāh Ta‘ālā.

Memang, Allāh Ta‘ālā menyuruh untuk merencanakan segala sesuatunya dan mempraktekan rencana tersebut, namun kita harus percaya dan bersandar hanya kepada Allāh Ta‘ālā.

Kita seharusnya tidak kembali kepada Allāh Ta‘ālā hanya apabila ketika semuanya gagal.

Bahkan, Allāh Ta‘ālā telah mengajarkan kita sebuah doa yang diucapkan dalam setiap shalat, “Hanya Engkau lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan. (QS [Al-Fātiḥah] 1:5)”

Allāh Ta‘ālā menyatakan bahwa ayat ini merupakan hubungan yang saling menguntungkan antara Tuhan dengan hamba-Nya dan Dia akan memberikan anugerah kepada orang yang memohon kepada-Nya.

Jaminan Allāh Ta‘ālā tersebut menjadi terus-menerus ketika seseorang senantiasa mengarahkan perhatiannya kepada Allāh Ta‘ālā dan tidak hanya semata-mata kembali kepada-Nya di saat ada masalah.

Kita hendaknya selalu ingat bahwa sebagai Ahmadi yang telah baiat kepada Imam zaman dan telah berjanji untuk menjalani kehidupan kita demi mencari ridha Allāh Ta‘ālā dan berpaling kepada Allāh Ta‘ālā baik dalam keadaan duka maupun suka sangat perlu sekali untuk memahami pokok kalimat dari “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Kita harus merenung dan melihat apa yang harus kita lakukan dan apa yang sedang kita lakukan.

Apakah standar ibadah dan memohon pertolongan kita kepada Allāh Ta‘ālā sesuai dengan yang Allāh Ta‘ālā perintahkan atau apakah kita hanya mengulangi “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” tigapuluh dua kali sehari tidak lebih seperti layaknya burung beo!

Kita harus ingat bahwa kita sangat lemah dan musuh kita begitu kuat.

Kita tidak memiliki sumber daya atau alat dan sarana-sarana apapun selain berpaling kepada Allāh Ta‘ālā dan mampu memahami ruh dari “Hanya Engkau lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Serangan setan di dunia ini melampaui batas. Kesusahan di mana-mana dibuat untuk kita. Permusuhan dari orang-orang yang mengaku diri mereka Islam semakin kuat juga rasa dengki dari orang-orang non-Islam.

Mereka merasa iri hati dari cara mereka mengulas tentang Jemaat.

Sepintas rasa kedengkian terhadap Jemaat tersebut bisa terlihat di media Jerman.

Insyā’ Allāh yang menentang dan iri hati terhadap kita akan ditelan oleh apinya sendiri, tapi kita tidak boleh melupakan kewajiban kita. Kalau tidak, kita tidak memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan para penentang tersebut.

Kita harus selalu ingat bahwa ketika Allāh Ta‘ālā datang untuk menolong seseorang, tidak ada kekuatan duniawi yang bisa menghentikan keberhasilan yang Dia berikan.

Pertolongan Allāh Ta‘ālā amat luas dan kekuasaan-Nya tak ada habisnya.

Begitupun wujud-Nya maupun sifat-Nya tidak bisa dibatasi dengan cara apapun.

Dan setiap Ahmadi harus berpaling ke arah-Nya dan mencari pertolongan-Nya.

Bukan hanya untuk para Ahmadi Pakistan atau para Ahmadi dari negara yang sedang menghadapi kesulitan yang perlu berpaling untuk meminta pertolongan Allāh Ta‘ālā.

Tapi setiap Ahmadi yang ada di seluruh belahan dunia harus melakukannya.

Jemaat kita memiliki ikatan yang kuat sebagaimana memang mestinya.

Inilah yang berbeda dalam Jemaat kita.

Setiap orang harus saling mendoakan satu dengan yang lainnya supaya pertolongan Allāh Ta‘ālā bersama dengan para setiap Ahmadi, kapan pun dan di mana pun.

Jika hal tersebut menjadi ketetapan kita, kita akan mengalami pertolongan Ilahi yang luar biasa.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. pernah bersabda, mengingat Allāh Ta‘ālā tidak membutuhkan apa-apa. Dia tidak memperdulikan apapun kecuali doa yang dipanjatkan dengan berlimpah ruah dan berulang-ulang.

Di dalamnya ada rahasia kesuksesan kita.

Apa pun kesulitan kita, entah itu dari kelompok atau pemerintah atau mungkin media yang digunakan untuk melawan kita ataupun sumber daya lainnya, semoga Allāh Ta‘ālā menolong kita melawan semuanya.

Kita jangan mengharapkan pertolongan dari keempat sumber tersebut karena memang seperti itu harusnya.

Kita harus berdoa jikalau kita tersesat hingga mengakibatkan menjauhnya pertolongan Allāh Ta‘ālā.

Semoga Allāh Ta‘ālā menyayangi dan mengampuni kita, menjauhkan kita dari kemurkaan-Nya, dan memasukan kita ke dalam kelompok orang-orang yang: [i] selalu disirami rahmat dan berkat-Nya; serta, [ii] yang memiliki wawasan dan persepsi yang benar mengenai Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.”

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd a.s. bersabda, “Lihatlah, Allāh Ta‘ālā mengajarkan tentang ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah.

“Hal ini mungkin dikarenakan bahwa manusia telah bergantung pada kekuatannya dan menjauhkan dirinya dari Allāh Ta‘ālā.

“Oleh karena itu, ajaran ‘Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan’ diberikan secara bersamaan.

“Janganlah menganggap bahwa Anda melaksanakan ibadah Anda kepada Allāh Ta‘ālā dengan kekuatan Anda sendiri. Sama sekali bukan!

“Sebaliknya, tanpa bantuan Allāh Ta‘ālā, kecuali jika Tuhan Yang Maha Kudus menghendaki dan meridhai, tidak ada yang bisa terjadi.”

Kita harus selalu menyimpan kenyataan yang penting tersebut dalam ingatan kita.

Semoga Allāh Ta‘ālā meridhai kita untuk melakukannya!

Sebuah peringatan agar berdoa telah diberikan. Dunia akan mengalami perubahan dengan cepat.

Semoga Allāh Ta‘ālā menjadikannya sumber kemajuan bagi Jemaat. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa menyembah-Nya dan orang-orang yang dianugerahi pertolongan-Nya dan terus menerus dianugerahi-Nya. «»

_

Penerjemah: Yusuf Awwab; Warungkiara, 29 Nopember 2014

Sumber: Alislam.org;

video

editor: R.A. Daeng Mattiro

HAMPIR sebulan lalu, tanggal sebelas bulan sebelas, kebahagiaan serta syukur meliputi hati Suprianto.

“Alhamdulil-Laah,” katanya melalui grup WhatsApp, “Telah lahir normal dari istriku, Suci, di RSI Banjarnegara, anak perempuan berat badan 3,3 kilogram dengan nama Syifatunnisa Calista Zakiyah.”

_
[11/11 5:23 am] JAI KBY KHU Bahri Sopwatul INDOSAT: Mubarak om Supri, Semoga menjadi anak yg Solehah…

[11/11 5:42 am] JAI KBY KHU Doni RomDoni XL: Mubarak…

[11/11 5:46 am] KBY Kardian, Bilal Ahmad Kama INDOSAT O: Mubarak Suprianto..,🙏😇

[11/11 10:01 am] JAI KBY KHU Basyir Ahmad “sendy” XL: Mubarak pak supri
Semoga jadi anak yang saleh, berbakti sama orang tua, dan berkhidmat pada agama
Aamiin

[11/11 10:05 am] JAI KBY KHU Momon Moenuddin TRI: Mubarak pak supri

[11/11 10:17 am] KBY Kardian, Bilal Ahmad Kama INDOSAT O: Lucu bingit..,😇

[11/11 10:18 am] JAI KBY KHU Syarif “Eki” Hidayat Alhaqqi TELKOMSEL: Kalo liat ini jadi pengen jadi bayi lagi.. 😁

[11/11 10:21 am] KBY Dodi Setiawan: Mubarak To… sing jadi putri anu solehah, berbakti ka ortu, bangsa, agama… Amiin

[11/11 11:01 am] KBG Sutrisno Abdul Malik TSEL AB: mubarak mas Suprianto…

“SILAHKAN usulkan jenis buah utk di tanam”, pinta Nazim Ziroat MKAI Kebayoran Sutrisno Abdul Malik pada Senin, 1 Desember lalu di grup WhatsApp pengurus khuddam Kebayoran.

Ini sudah saya beli satu pohon yang sebentar lagi panen, jeruk pipanado, sudah di mesjid tinggal tanam, tulisnya lagi. Sutrisno memperlihatkan gambar jeruknya yang sudah ada di pot.

“Nanti tanam perdana, Pa Qaid ya?” pinta Sutrisno kepada Sopwatul Bahri.

“Siap Mas,” sambut Bahri. “Masuk Youtube, ya?!“ katanya lagi berharap.

Penanaman buah dilaksanakan pada tanggal hari Ahad tanggal 7 Desember 2014.

Tadinya, menurut Bahri, kalau tidak Ahad, penanamanya itu di hari sebelumnya, Sabtu. Tapi karena padat acara di masjid, diundur ke Ahad.

Pananaman dimulai pukul 8 pagi, usai sarapan. Yang terlibat ada enam orang khuddam.

“Pohon yang sudah dibeli ada empat jenis, ada Jeruk, dan kawan-kawan, …Mas Tris yang ‘apal.

“Tapi yang sudah ditanam baru jambu karena kekurangan tanah, dan sisanya akan ditanam di kemudian hari,” ungkap Bahri.

Lebih lanjut Bahri menjelaskan, penghijauan masjid merupakan salah satu program kerja dari PPMKAI. Karena keterbatasan tempat, penanaman dilakukan di media pot.

Ketika ditanyakan oleh salah seorang warga khuddam Ahmad Zulfikri di mana tanaman buah pot dibelinya, Sutrisno bilang, itu dibeli di sekitar Ragunan.

Rupanya, Fikri tanya-tanya itu karena sedang cari pohon mangga arum manis.

Tertarik mau menanam buah di pot?«» DMX


HAMPIR sebulan lalu, tanggal sebelas bulan sebelas, kebahagiaan serta syukur meliputi hati Suprianto.

“Alhamdulil-Laah,” katanya melalui grup WhatsApp, “Telah lahir normal dari istriku, Suci, di RSI Banjarnegara, anak perempuan berat badan 3,3 kilogram dengan nama Syifatunnisa Calista Zakiyah.”

_
[11/11 5:23 am] JAI KBY KHU Bahri Sopwatul INDOSAT: Mubarak om Supri, Semoga menjadi anak yg Solehah…

[11/11 5:42 am] JAI KBY KHU Doni RomDoni XL: Mubarak…

[11/11 5:46 am] KBY Kardian, Bilal Ahmad Kama INDOSAT O: Mubarak Suprianto..,🙏😇

[11/11 10:01 am] JAI KBY KHU Basyir Ahmad “sendy” XL: Mubarak pak supri
Semoga jadi anak yang saleh, berbakti sama orang tua, dan berkhidmat pada agama
Aamiin

[11/11 10:05 am] JAI KBY KHU Momon Moenuddin TRI: Mubarak pak supri

[11/11 10:17 am] KBY Kardian, Bilal Ahmad Kama INDOSAT O: Lucu bingit..,😇

[11/11 10:18 am] JAI KBY KHU Syarif “Eki” Hidayat Alhaqqi TELKOMSEL: Kalo liat ini jadi pengen jadi bayi lagi.. 😁

[11/11 10:21 am] KBY Dodi Setiawan: Mubarak To… sing jadi putri anu solehah, berbakti ka ortu, bangsa, agama… Amiin

[11/11 11:01 am] KBG Sutrisno Abdul Malik TSEL AB: mubarak mas Suprianto…





“SILAHKAN usulkan jenis buah utk di tanam”, pinta Nazim Ziroat MKAI Kebayoran Sutrisno Abdul Malik pada Senin, 1 Desember lalu di grup WhatsApp pengurus khuddam Kebayoran.

Ini sudah saya beli satu pohon yang sebentar lagi panen, jeruk pipanado, sudah di mesjid tinggal tanam, tulisnya lagi. Sutrisno memperlihatkan gambar jeruknya yang sudah ada di pot.

“Nanti tanam perdana, Pa Qaid ya?” pinta Sutrisno kepada Sopwatul Bahri.

“Siap Mas,” sambut Bahri. “Masuk Youtube, ya?!“ katanya lagi berharap.

Penanaman buah dilaksanakan pada tanggal hari Ahad tanggal 7 Desember 2014.

Tadinya, menurut Bahri, kalau tidak Ahad, penanamanya itu di hari sebelumnya, Sabtu. Tapi karena padat acara di masjid, diundur ke Ahad.

Pananaman dimulai pukul 8 pagi, usai sarapan. Yang terlibat ada enam orang khuddam.

“Pohon yang sudah dibeli ada empat jenis, ada Jeruk, dan kawan-kawan, …Mas Tris yang ‘apal.

“Tapi yang sudah ditanam baru jambu karena kekurangan tanah, dan sisanya akan ditanam di kemudian hari,” ungkap Bahri.

Lebih lanjut Bahri menjelaskan, penghijauan masjid merupakan salah satu program kerja dari PPMKAI. Karena keterbatasan tempat, penanaman dilakukan di media pot.

Ketika ditanyakan oleh salah seorang warga khuddam Ahmad Zulfikri di mana tanaman buah pot dibelinya, Sutrisno bilang, itu dibeli di sekitar Ragunan.

Rupanya, Fikri tanya-tanya itu karena sedang cari pohon mangga arum manis.

Tertarik mau menanam buah di pot?«» DMX

TELAH terbit media cetak “Bulletin Pra Madrasah” untuk November 2014. Terbitan bulanan ini diawaki para pengurus Pramadrasah Alhidayah JAI Kebayoran. Pemimpin redaksinya adalah Soraya Maria Syadaf.

Bulletin berisi kegiatan belajar dan mengajar pramadrasah di samping kutipan-kutipan dari Alquran, hadis Nabi saw., maupun sabda-sabda hingga tulisan dari Hadhrat Masīh Mau‘ūd a.s. dan para khalifahnya.

Ayo, siapa yang mau langganan?«» ✌😇

RANCANGAN untuk kelengkapan belajar dan mengajar Al-Hidayah School ini diperlihatkan pada rapat madrasah minggu atau pramadrasah Alhidayah Kebayoran, Ahad sore.

Muballigh Maulana Iskandar Ahmad Gumay menyatakan kekagumannya melihat semangat berkhidmat para aktivis. Semua sampai sedetil itu menyiapkan langkah ngajar besok di Depok di pemukiman pemulung, kata Maulana Gumay.«»